Pilih Kategori Artikel

Mengenal Makna Paes Ageng Yogyakarta

Di balik maraknya tema pernikahan modern, ternyata konsep tradisional masih tetap memiliki tempat spesial di hati para calon pengantin. Mulai dari prosesi hingga dandanan, semua memiliki ciri khas yang bukan hanya indah, tapi juga sarat akan makna. Salah satu dandanan tradisional ini adalah paes yang populer khususnya di daerah Surakarta dan Yogyakarta. Di Yogyakarta sendiri ada Paes Ageng Jogja. 

Dilansir dari berbagai sumber, ada enam jenis paes yang ada di Yogyakarta, yaitu Paes Ageng, Paes Ageng Kanigaran, Paes Ageng Jangan Menir, Yogya Puteri, Kasatriyan Ageng, dan Pura Pakualaman. Menariknya, ternyata dulunya Paes Ageng hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan saja, lo. Namun, seiring berjalannya waktu, tepatnya ketika Sultan Hamengkubuwono IX menjabat, orang biasa pun bisa juga mengenakannya di hari istimewa. 

Jika penasaran dengan berbagai bagian dan makna Paes Ageng, simak penjelasannya berikut ini yuk!

wm_article_img
Paes Ageng Yogyakarta | Foto via Sanggar Liza

1. Paes prada

Bagian ini yang paling khas dan biasanya disebut paes itu sendiri. Paes prada berbentuk lengkungan yang berada di dahi pengantin, biasanya bentuk paes Jogja adalah runcing. Cengkorongan atau lengkungan yang sudah dibuat akan diwarnai hitam dengan pewarna yang disebut dengan pidih. Ukurannya berbeda-beda, ada satu besar di tengah yang melambangkan kebesaran Tuhan dan diapit oleh yang lebih kecil sebagai lambang keseimbangan dalam rumah tangga. Jika sudah diisi dengan pewarna, paes ini akan di-frame dengan serbuk emas yang disebut dengan prada.

2. Cithak

Riasan berbentuk belah ketupat yang dilukis di tengah kening pengantin paes ageng disebut cithak. Jika dilihat sepintas, chitak mirip seperti riasan khas India. Cithak yang berada tepat di tengah-tengah kening memiliki simbol bahwa seorang wanita harus memiliki pandangan yang lurus dan fokus akan masa depan serta setia kepada pasangan.

3. Cunduk mentul

Cunduk mentul adalah aksesori yang diletakkan di kepala pengantin. Biasanya jumlahnya adalah ganjil, mulai dari satu, tiga, lima, tujuh, hingga sembilan. Namun, kini lebih banyak yang memilih jumlah lima atau tujuh. Masing-masing angka tersebut sebenarnya memiliki artinya sendiri-sendiri. Satu melambangkan keesaan Tuhan, tiga adalah lambang trimurti, lima sebagai simbol rukun islam, sedangkan tujuh berasal dari bahasa Jawa pitu sebagai simbol pitulungan atau pertolongan.

4. Gunungan

Gunungan adalah aksesori yang diletakkan di kepala atau tepatnya di depan cunduk mentul. Dinamakan gunungan karena bentuknya yang menyerupai gunung. Filosofinya adalah bahwa gunung merupakan sebuah tempat yang penting dalam kepercayaan Jawa, bahkan dipercayai sebagai tempat tinggal para dewa. Oleh sebab itu, diharapkan perempuan yang menikah ini nantinya juga akan dihormati dan dijaga oleh sang suami.

5. Centhung

Centhung juga merupakan aksesori yang diletakkan di kepala. Jumlahnya ada dua yang biasanya dipasang sejajar di bagian kanan dan kiri. Bentuknya yang seperti gerbang menyimbolkan akan gerbang kehidupan yang baru, di mana pengantin akan melalui masa-masa baru dengan pasangan serta memerankan diri sebagai istri.

6. Alis menjangan

Salah satu riasan yang tampak berbeda dari riasan pernikahan lainnya pada Paes Ageng adalah bentuk alis yang dibuat seperti menjangan atau rusa. Alih-alih satu garis lurus, alis dibuat bercabang. Hal ini pun ada maknanya, yaitu diharapkan pengantin memiliki tiga karakter baik dari rusa yang cerdik, cerdas, dan anggun.

7. Subang ronyok

Subang ronyok adalah aksesori yang dipakai di telinga terbuat dari emas berlian. Cahayanya yang berkilau membuat benda ini memiliki filosofi sebagai kehidupan yang bercahaya dan abadi. Menurut sumber lain, hiasan telinga juga ada yang disebut sumping. Dulunya sumping ini terbuat dari daun pepaya yang memiliki filosofi bahwa seorang istri perlu bersiap jika harus merasakan adanya kepahitan dalam pernikahan.

8. Kalung sungsun

Kalung sungsun juga disebut sebagai tanggalan. Aksesori leher ini memiliki tiga lempengan yang disusun menjadi kalung. Tiga lempengan ini memiliki simbol tiga fase kehidupan, yaitu kelahiran, pernikahan, dan kematian. Perempuan harus bersiap melewati setiap tahap demi tahapnya.

9. Kelat bahu naga

Sering melihat sesuatu seperti gelang, tapi dikenakan di bagian lengan atas? Inilah yang disebut dengan kelat bahu naga. Bentuk dari aksesori ini adalah seekor naga yang mana kepala dan ekornya saling bertaut Pemilihan hewan naga memberikan makna bahwa pengantin harus kuat dan memiliki pola pikir dan pola rasa yang bersatu.

10. Gelang kana

Selain gelang yang dikenakan di lengan bagian atas, ada juga gelang untuk pergelangan tangan dalam Paes Ageng. Bentuknya yang terhubung tanpa putus diharapkan bisa menjadi simbol keabadian agar hubungan yang dimiliki nantinya juga tidak putus di tengah jalan. Gelang ini juga disebut sebagai bentuk keterikatan. 

Nah, itu dia makna setiap bagian dari Paes Ageng Jogja. Ternyata bukan hanya sekadar penuh dengan hiasan, tapi setiap bagiannya memiliki makna dan folosofi yang dalam.

Kunjungi WeddingMarket Festival Gratis!
Menangkan Berbagai Hadiah Menarik
Article Terkait

Loading...

Article Terbaru

Loading...

Media Sosial

Temukan inspirasi dan vendor pernikahan terbaik di Sosial Media Kami

Loading...