Mengulik Prosesi Panggih Dalam Pernikahan Adat Jawa - Wedding Market

Mengulik Prosesi Panggih Dalam Pernikahan Adat Jawa

15 Jun 2022 | By Tita Rismayanti WeddingMarket | Viewers: 1300
Mengulik Prosesi Panggih Dalam Pernikahan Adat Jawa
Foto: instagram/vebbyputri

Pernikahan adalah suatu prosesi sakral yang dilakukan oleh sepasang kekasih menuju bahtera rumah tangga. Pasangan yang menjalani hubungan dengan serius, maka akan berpikir secara matang ke arah pernikahan. Proses pernikahan yang dilakukan oleh banyak pasangan biasanya berbeda-beda. Ada beberapa pasangan yang mengikuti adat daerah masing-masing, ada juga yang langsung melakukan ijab kabul atau pemberkatan. Hal tersebut tergantung pada hasil diskusi kedua mempelai bersama keluarga inti.

Berbicara mengenai proses pernikahan secara adat, banyak sekali adat di Indonesia yang bisa digunakan. Contohnya, adat Padang, Sunda, Minang, Jawa, dan lain sebagainya. Khusus pembahasan kali ini, WeddingMarket akan mengulik tentang salah satu ritual dalam rangkaian pernikahan menggunakan adat Jawa, yakni panggih. Kata 'panggih' dalam bahasa Jawa memiliki arti “temu”. Prosesi panggih sendiri merupakan upacara pertemuan antara mempelai pria dan wanita pertama kali setelah melalui akad nikah atau pemberkatan dan telah resmi menjadi sepasang suami istri secara agama.  

Dalam pelaksanaannya, terdapat sedikit perbedaan di berbagai bagian daerah di Jawa. Dikarenakan adanya perbedaan latar belakang juru sumbang (juru rias). Hal inilah yang akan menentukan tata cara dan tahapan prosesinya. Namun, secara umum dalam menjalankan proses panggih, terdapat 12 urutan yang harus dilakukan. Berikut rangkaian acara dari pelaksanaan ritual panggih:

1. Penyerahan Sanggan

Penyerahan Sanggan upacara panggihPenyerahan Sanggan upacara panggih

Penyerahan sanggan adalah simbol dari seserahan yang dilakukan sebagai bentuk penyerahan seorang putri dari orang tuanya kepada seorang laki-laki yang dipercaya. Seserahan sanggan terdiri dari dua sisir pisang raja, sirih ayu, gambir, kembang telon, dan benang lawe. Seserahan ini diberikan pihak mempelai pria kepada kedua orang tua dari mempelai wanita.

Adapun bentuk barisan ketika prosesi penyerahan sanggan dilakukan ialah mempelai pria diapit oleh kedua orang tuanya, diikuti oleh keluarga inti di belakangnya. Pun dengan mempelai wanita yang juga berdiri di hadapan mempelai pria. Setelah itu, orang tua mempelai pria bisa secara simbolis menyerahkan seserahan kepada orang tua dari mempelai wanita.

2. Tukar Kembang Mayang


Tukar kembang mayang merupakan prosesi kedua dimana dua orang dari setiap mempelai pria dan wanita yang membawanya. Adapun benda yang dibawa yakni berupa janur yang dianyam berbentuk keris. Bentuk tersebut memiliki makna sebagai tanda melindungi dari marabahaya. Bentuk tersebut bertujuan untuk mengingatkan kedua mempelai untuk berhati-hati dan saling melindungi satu sama lain. Terlebih ketika mereka sudah memulai mengarungi bahtera rumah tangga. Bentuk anyaman kedua yakni janur yang berbentuk payung. Bentuk tersebut melambangkan kerukunan dan kesetiaan. Bentuk ini sama artinya dengan simbol dari burung merpati.

Tidak hanya bentuk anyaman dari janur yang memiliki makna, tetapi juga kembang pancawarna yang melengkapinya. Contohnya, beringin sebagai lambang mengayomi; daun puring sebagai simbol bahwa kedua mempelai harus bisa saling menahan ego dan amarah jika terjadi perselisihan; daun andong bertujuan untuk mengingatkan kedua mempelai untuk menjaga sopan santun terhadap sesama; dan daun lancur sebagai tanda bahwa kedua mempelai diharapkan bisa berpikir panjang dan tidak grasah-grusuh dalam mengambil keputusan. Terlebih jika mereka sedang berhadapan dengan suatu permasalahan hidup.

3. Balangan Gantal


Tahapan ketiga yakni balangan gantal. Balangan gantal dalam upacara panggih artinya melemparkan daun sirih yang berisi bunga pinang, kapur sirih, gambir, dan tembakau yang diikat dengan menggunakan benang lawe. Prosesi ini dilakukan dari arah berlawanan, berjarak sekitar dua meter. Prosesi dilakukan bersamaan dimana mempelai pria melemparkan gantal ke dahi, dada, dan lutut mempelai wanita, sedangkan mempelai wanita membalasnya dengan melempar gantal ke dada dan lutut mempelai pria. Ritual adat ini merupakan suatu simbol untuk saling mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang.

4. Mecah Wiji Dadi


Selanjutnya yakni wiji dadi. Proses ini dilakukan oleh mempelai pria yang menginjak telur ayam hingga pecah. Pecahnya telur mengartikan bahwa simbol seksual dari sejoli ini sudah pecah. Kemudian mempelai wanita akan membasuh kaki suaminya dengan menggunakan air yang diberi bunga. Prosesi ini melambangkan harapan bahwa benih yang baik maka akan menurunkan keturunan yang baik juga. Sehingga diharapkan bahwa kedua mempelai ini dapat memberikan keturunan yang bisa menjauhkan keluarga dari marabahaya. Wiji dadi menjadi proses selanjutnya dimana pengantin wanita membasuh kaki pengantin pria menggunakan air yang diberi bunga.

5. Unjukan Tirto Wening


Setelah menyelesaikan proses mecah wiji dadi, selanjutnya yakni unjukan tirto wening. Sesuai dengan artinya yakni minum air putih. Dalam prosesi ini, mempelai pria akan diberikan air minum yang disuguhkan oleh kedua orang tua dari mempelai wanita. Hal ini melambangkan bahwa kedua orang tua dari mempelai wanita sudah mengikhlaskan putrinya untuk dapat dipimpin oleh imamnya. Selain itu juga sebagai bentuk restu dan dukungan bagi mempelai pria dalam mengaruhi bahtera rumah tangga.

6. Sinduran


Setelah terpisah dalam dua barisan yang berlawanan, kedua mempelai akan berjalan bersama dalam prosesi sinduran. Mereka membaur menjadi satu barisan dimana kedua mempelai dibalut dengan kain dipimpin oleh bapak dari mempelai wanita. Kain yang digunakan disebut dengan kain sindur. Ayah dari mempelai wanita akan menuntun kedua mempelai hingga menuju ke pelaminan. Prosesi ini menunjukan suatu harapan orang tua dari kedua mempelai untuk bisa selalu semangat menghadapi segala kesukaran dalam hidup.

7. Pangkon Timbang


Ketika kedua mempelai sudah diantarkan menuju pelaminan, maka proses selanjutnya yakni pangkon timbang. Dalam prosesi ini, kedua mempelai akan dipangku oleh ayah dari mempelai wanita. Ketika prosesi ini berlangsung, biasanya akan ada interaksi yang dilakukan secara simbolis dari MC atau bisa juga secara langsung oleh kedua mempelai dan ayahnya. Prosesi ini melambangkan bahwa ayah dari mempelai wanita, menerima mempelai pria sebagai imam sekaligus menganggapnya seperti anak sendiri. Selain itu, hal tersebut juga menandakan bahwa tidak ada perbedaan kasih sayang antara anak kandung dengan menantunya.

8. Tanem Jero

Tanem jero dilakukan setelah kedua mempelai dipangku oleh ayah dari mempelai wanita. Proses ini yakni dengan mendudukan kedua mempelai di kursi pelaminan. Ayah dari mempelai wanita tentunya berdiri membelakangi tamu undangan. Hal tersebut disaksikan oleh para tamu. Ketika ayah dari mempelai wanita melakukan hal tersebut, beliau juga menepuk-nepuk pundak kedua mempelai. Prosesi ini melambangkan bahwa kedua mempelai sudah harus hidup secara mandiri.

9. Kacar Kucur


Proses kesembilan yakni kacar kucur. Biasanya dalam prosesi ini, kedua mempelai akan melemparkan biji-bijian dan uang receh. Adapun biji-bijian dan uang receh melambangkan penghasilan mereka. Dengan begitu, maka diharapkan mempelai pria bisa bertanggung jawab menafkahi istrinya. Sedangkan istri bisa bertanggung jawab mengelola penghasilan dari suami untuk kebutuhan rumah tangganya.

10. Dulangan


Dalam urutannya, ketika sudah bersusah payah mencari penghasilan, maka istri akan melayani suami dengan menyuapi. Pun dengan suami sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya yakni dengan menyuapinya juga. Proses ini sebagai bentuk syukur dan juga bentuk saling mengasihi. Dengan melakukan proses ini, diharapkan kedua mempelai bisa tetap saling rukun.

11. Jemput Besan

Setelah semua sesi yang dilakukan oleh kedua mempelai selesai, maka waktunya untuk menjemput besan. Jika tadi yang terlibat dalam proses sejak awal ialah ayah dari mempelai wanita, maka giliran kedua mempelai untuk menjemput besan dam mempersilakannya untuk naik ke atas pelaminan. Dengan begitu, maka sudah lengkap orang tua dari kedua mempelai menemani mereka di atas pelaminan.

12. Ngabekten

Tahapan upacara panggih yang terakhir ialah ngabekten atau yang sering dikenal dengan sungkeman. Dalam proses ini, kedua mempelai bergantian meminta maaf dan juga meminta izin sekali lagi untuk hidup secara mandiri membangun rumah tangga. Selain itu, mereka juga menyampaikan ucapan terima kasihnya atas kasih sayang yang sudah diberikan selama ini hingga mereka telah bertemu dengan jodohnya masing-masing.


Kedua belas proses panggih ini terkadang memiliki detail yang khas sesuai dengan adat dan juga kepercayaan di daerah yang bisa dimodifikasi sesuai dengan kesepakatan keluarga. Bisa jadi kamu akan menemukan sedikit perbedaan pada istilah atau pakem adat yang digunakan dalam ritualnya. Meskipun berbeda, tetapi tujuan upacara panggih tetaplah sama, yakni untuk mempertemukan kedua mempelai disaksikan oleh seluruh undangan dan keluarga. Dengan filosofi, agar nantinya rumah tangga pernikahan tersebut diharapkan mendapatkan ketenangan dan selalu dilimpahkan kasih sayang.

Apabila kamu menginginkan upacara panggih-mu diatur dengan rapi, kamu bisa menggunakan jasa wedding organizer. Selain mengikuti pakem adat, proses panggih akan lebih kental apabila dekorasi dan busana yang kamu gunakan juga bernuansa adat Jawa. Tentunya, untuk mewujudkan itu semua dibutuhkan bantuan vendor-vendor yang berpengalaman. Maka dari itu, kamu bisa mencoba mencari referensi dengan mengunjungi laman WeddingMarket. Nah, cek sekarang yuk!

Pesan Tiket Gratis WeddingMarket Fair Sekarang!
13 - 14 Agustus 2022 | Hotel Bidakara Jakarta

Artikel Terkait


Menangkan Hadiah Ratusan Juta Rupiah di WeddingMarket Fair!

Pesan Tiket Gratis Sekarang
WeddingMarket

Hello, thank you for Visiting us. Any Question?