Mengenal Kain Ulos dan Tradisi Mangulosi dalam Pernikahan Adat Batak - Wedding Market

Mengenal Kain Ulos dan Tradisi Mangulosi dalam Pernikahan Adat Batak

09 Feb 2022 | By Ade Mutia WeddingMarket | Viewers: 815
Mengenal Kain Ulos dan Tradisi Mangulosi dalam Pernikahan Adat Batak
Pengantin adat Batak Toba Mengenakan Kain Ulos (Photo via Instagram/mangulosi)

Sungguh beruntungnya kita sebagai bangsa Indonesia, memiliki ragam budaya serta adat istiadat yang penuh warna, serta sarat akan makna. Kekayaan tradisi dan budaya bangsa ini dapat pula kita temui pada pakaian adat atau kain tradisionalnya, salah satunya adalah kain ulos, hasil tenunan khas Suku Batak Sumatera Utara.

Kain ulos sering dijumpai pada acara-acara adat Batak, tak terkecuali pada prosesi pernikahan. Salah satunya pada busana pengantin Batak Toba. Dimana kebaya Batak Toba dipadukan dengan kain ulos, lengkap dengan sortali. Namun, tahukah kamu ternyata tidak sembarang kain ulos dapat dikenakan untuk acara pernikahan adat Batak maupun acara-acara adat lainnya. Sebab, setiap jenis serta motif pada kain ulos punya peruntukannya masing-masing. Sebagai contoh, ulos ragi hotang untuk pengantin, ulos mangiring diberikan untuk anak yang baru lahir, ulos paroling-olangan diberikan untuk orang yang meninggal dalam usia muda, dan lain sebagainya.

Sebelum mengenal lebih jauh mengenai apa saja jenis-jenis ulos, ada baiknya ketahui dulu sejarah dan proses pembuatannya. Yuk, simak penjelasannya!

Sejarah Kain Ulos

Kain Ulos Tradisional Suku Batak (sumber: Tobatenun)

Menurut sejarahnya, kain ulos sudah ada sejak abad ke-14 seiring dengan masuknya alat tenun tangan tradisional dari India. Dahulu, kain ulos digunakan oleh orang-orang suku Batak yang hidup di daerah pegunungan untuk pakaian sehari-hari, untuk menghangatkan diri. Selain dipakai sebagai pengganti baju maupun sarung, kain ulos juga dijadikan penutup kepala dan selendang.

Seiring berjalannya waktu, fungsi kain ulos tak hanya untuk menghangatkan tubuh, tetapi menjadi simbol ikatan kasih sayang antara orangtua dan anaknya atau satu orang dengan orang lainnya. Sesuai dengan filsafat masyarakat Batak, “Ijuk pengihot ni hodong. Ulos penghit ni halong” yang berarti ijuk pengikat pelepah pada batangnya dan ulos pengikat kasih sayang di antara sesama. Maka dari itu, sekarang kain ulos sering juga dijadikan sebagai hadiah seremonial atau dipakai pada upacara-upacara tertentu dalam adat Batak. Kini, kain ulos menjadi simbol identitas dari Suku Batak.

Pembuatan Kain Ulos

Kain ulos adalah kain tradisional yang ditenun dari benang kapas yang diwarnai dengan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan. Beberapa contoh tanaman yang digunakan sebagai bahan pewarna untuk kain ulos yakni, kunyit untuk warna kuning, kayu secang dan mengkudu menghasilkan warna merah, tanaman indigo memberikan warna biru, campuran indigo dan mengkudu menghasilkan warna hitam,  serta campuran indigo dan kunyit untuk warna hijau.

Menurut masyarakat Batak tradisional, kaum wanitalah yang bertugas untuk menenun kain ulos karena diyakini prosesnya sangat berkaitan erat dengan peran perempuan dalam merawat anak-anaknya, keluarga, serta masyarakat. Untuk menghasilkan satu lembar kain ulos dibutuhkan waktu berbulan-bulan lamanya, sebab proses menenun hanya dilakukan oleh kaum wanita Batak di waktu senggang saja. Tak mengherankan mengapa harganya relatif mahal. Kain ulos tradisional ini masih bisa ditemukan di daerah pesisir barat laut Danau Toba, yakni daerah Tongging, Paropo dan Silalahi.

(Photo via Tobatenun)

Tahap-tahap dalam pembuatan kain tenun ulos antara lain sebagai berikut:

  1. Mamipis, atau proses pemintalan kapas (pembuatan benang), dilakukan dengan alat berbentuk roda yang dinamai sorha yang diputar dengan tangan;

  2. Manubar, proses pewarnaan benang yang awalnya berwarna putih dengan bahan-bahan alami seperti daun-daunan yang difermentasi dalam guci-guci tanah liat

  3. Gatip, proses pembuatan motif dalam ulos yang dimulai sejak saat benang diuntai (disebut humpalan). Gatip dibuat sebelum pewarnaan dilakukan, benang-benang yang dikehendaki diikat dengan bahan pengikat terdiri dari serat daun;

  4. Unggas, proses untuk membuat warna benang lebih cemerlang. Benang dilumuri dengan nasi yang dilumerkan kemudian digosok dengan kuas bulat yang terbuat dari ijuk. Unik sekali ya!

  5. Ani, benang yang sudah selesai di-unggas selanjutnya memasuki proses penguntaian yang disebut Mangani. Alat yang digunakan adalah Anian, terdiri dari sepotong balok kayu yang diatasnya ditancapkan tongkat pendek sesuai ukuran ulos yang dikehendaki;

  6. Tonun, proses membentuk benang-benang tersebut menjadi sehelai Ulos. Pengrajin yang menekuninya disebut Partonun;

  7. Sirat,  proses akhir mengikat hiasan pengikat untaian benang-benang tenun untuk menjadikannya kain ulos utuh.

Tradisi Mangulosi dalam Prosesi Pernikahan Adat Batak

Istilah “mangulosi” dalam adat Batak artinya memberi ulos, yaitu suatu bentuk pemberian restu dan kasih sayang dari orangtua kepada anak-anaknya. Dalam hal ini, kain ulos diberikan dari orang tua kepada anaknya yang hendak menikah. Dalam sejarah masyarakat Batak, kain ulos juga berperan sebagai “jembatan” bagi setiap marga untuk mengenal silsilah keturunannya. 

Ulos yang disematkan kepada pengantin Batak Toba ini juga menjadi simbol penerimaan, serta membawa berbagai nilai-nilai atau petuah secara turun-temurun kepada mereka yang menerimanya. Makanya, jangan heran apabila melihat banyak kain ulos dari berbagai marga yang disematkan kepada sang pengantin pada acara pernikahan adat Batak. Berbicara soal desain motif pada kain ulos, uniknya setiap marga dalam suku Batak punya ciri khasnya masing-masing, loh

Jenis-jenis Ulos


(Foto Kain Ulos via Tobatenun)

Bukan hanya sebagai wujud kasih sayang, dalam beberapa aspek kehidupan suku Batak, kain ulos juga memiliki makna, serta fungsinya masing-masing. Sebagai contoh  ulos ragi hotang (kain rotan berbintik), memiliki tepi lebar dan berjumbai. Kain ulos ini diberikan kepada pengantin baru sebagai simbol harapan untuk pasangan ini, agar saling memiliki keterikatan batin satu sama lain untuk pernikahan yang langgeng. 

Ada pula ulos mangiring yang melambangkan kesuburan dan kekompakan, diberikan kepada anak yang baru lahir, terutama anak pertama. Masih banyak lagi jenis-jenis ulos lainnya, berikut beberapa contoh ulos berdasarkan fungsi atau peruntukannya:

  • Ulos Suri-suri Ganjang atau ulos Gabe-gabe juga dipakai pada waktu pesta pernikahan adat Batak. Ulos jenis ini digunakan sebagai selendang (hande-hande) pada waktu menari dengan alunan musik Batak. Ulos Gabe-gabe (berkat) digunakan oleh orangtua dari pihak istri untuk manggabei atau memberikan berkat kepada boru-nya (anak perempuannya);

  • Ulos pargomgom adalah ulos yang diberikan kepada ibu kepada pengantin laki-laki;

  • Ulos hela adalah ulos yang diberikan orang tua pengantin kepada kedua mempelai;

  • Ulos ragi hotang, diberikan kepada pengantin baru dengan harapan agar pernikahannya langgeng;

  • Ulos ragi hidup/ragi idup adalah ulos yang diberikan kepada mereka yang dapat memberikan perlindungan (mangalinggomi) pada orang lain. Ulos ini melambangkan kehidupan dan kebahagiaan dalam keturunan dengan umur yang panjang (saur matua), biasanya digunakan pada waktu pesta;

  • Ulos pamarai adalah pemberian ulos kepada pamaran (saudara kandung dari suhut atau tuan rumah);

  • Ulos panggabei adalah ulos yang diberikan bila orang yang meninggal adalah orang tua yang sudah ditinjau dari segi keturunan;

  • Ulos paroling-olangan adalah ulos yang diberikan bagi seseorang yang mati muda;

  • Ulos sadum adalah ulos yang penuh warna-warni ceria yang cocok digunakan untuk suasana suka cita, memiliki arti semangat agar tetap bersuka cita;

  • Ulos runjat adalah ulos yang biasa dipakai oleh orang kaya atau orang terpandang dipakai pada saat menghadiri suatu undangan (endang-endang);

  • Ulos sibolang rasa pamontari, dikenal sebagai ulos duka. Dikenakan oleh keluarga yang sedang berduka atau mendapat kemalangan. Namanya berubah menjadi ulos tujung jika dipakai janda/duda yang belum memiliki cucu, serta ulos saput apabila dipakai janda/duda yang belum memiliki cucu dan anak-anaknya juga belum berusia dewasa;

  • Ulos ragi huting, dahulu digunakan oleh para gadis pada saat pesta. Cara memakainya adalah dengan melilitkannya di bagian dada yang disebut Hoba-hoba. Sekarang, ulos ini sulit ditemukan;
  • Ulos tumtuman, dikenal dengan keindahannya, yang tidak hanya indah dilihat namun juga mempunyai makna tersendiri bagi penggunanya. Awalnya, kain ulos Tumtuman digunakan sebagai tali-tali atau ikat kepala oleh pihak hasuhutan (pihak yang melaksanakan acara adat) yang menandakan penggunanya adalah anak tuan rumah. Kini,  ulos Tumtuman diberikan dari orang tua kepada sang putrinya di hari pernikahannya. 

Ulos Tumtuman by Tobatenun

Kain ulos bukan hanya sekedar kain tenun, melainkan menjadi simbol penerimaan, restu, doa dan harapan bagi suku Batak, mulai dari kelahiran hingga kematian. Bagi masyarakat suku Batak sendiri, kain ulos merupakan kebanggaan dan simbol identitas diri. Sebagai tips buat kamu yang ingin membeli kain ulos, sebelum membeli perhatikan dengan seksama motif dan warnanya, ya.

Ulos tidak bisa sembarangan dipakai, karena setiap jenis dan motif ada maknanya masing-masing. Jangan sampai kamu memakai ulos dengan motif untuk melayat kematian ketika menghadiri pesta pernikahan atau kelahiran. Jadi, ada baiknya bertanya terlebih dahulu kepada orang yang paham ulos, sebelum membeli ataupun memakainya, ya.

Nah, itulah beberapa informasi dan penjelasan mengenai kain ulos yang merupakan kain tenun khas masyarakat suku Batak. Semoga bisa menambah pengetahuanmu, ya dears!

Wujudkan Pernikahan Impianmu bersama WedingMarket

Silahkan Klik Disini

Belanja Jasa dan Produk untuk Pernikahanmu di WeddingMarket Store!
Diskon hingga 20%*

Artikel Terkait


WeddingMarket

Hello, thank you for Visiting us. Any Question?