Pilih Kategori Artikel

Rahasia di Balik "Manglingi" Riasan Pengantin Adat: Tak Bisa Dikalahkan Makeup Internasional!
Diskon dan Penawaran Eksklusif Menantimu!
Kunjungi WeddingMarket Fair 16 -18 Januari 2026
di Balai Kartini (Exhibition & Covention Center)

Dalam setiap pernikahan di Indonesia, khususnya di pulau Jawa, ada satu kata pujian yang posisinya lebih tinggi daripada sekadar kata "Cantik". Kata itu adalah: "Manglingi". Ketika seorang pengantin wanita keluar dari kamar rias, dan tamu-tamu berbisik, "Wah, pangling banget! Sampai nggak kenal, cantik sekali," maka saat itulah sang perias dianggap sukses menunaikan tugasnya. Namun, di era gempuran tren beauty ala Korea dan Barat yang memuja konsep "My Skin but Better" atau "No-Makeup Makeup Look", konsep manglingi mulai dipertanyakan.

Banyak calon pengantin modern (Milenial dan Gen-Z) yang justru takut dibilang manglingi. Dalam benak mereka, manglingi identik dengan bedak yang terlalu putih, alis yang bercabang aneh, lipstik merah darah, dan wajah yang terlihat 10 tahun lebih tua. Mereka khawatir kehilangan jati diri di hari bahagianya sendiri. Padahal, jika dieksekusi oleh tangan yang tepat, manglingi bukanlah tentang menutupi wajah aslimu dengan topeng tebal. Ini adalah tentang transformasi aura.

Ada alasan kuat mengapa riasan Paes Ageng Yogyakarta atau Siger Sunda tetap bertahan ratusan tahun dan tidak tergerus oleh makeup internasional. Ada sisi magis, filosofis, dan teknis yang membuat riasan adat memiliki "nyawa" yang tidak dimiliki oleh highlighter atau contour semata. Mari kita bedah rahasia di balik fenomena ini, dan mengapa kamu harus bangga memilihnya.

Apa Sebenarnya Arti "Manglingi"?

wm_article_img
MUA: Bennu Sorumba

Secara harfiah dalam bahasa Jawa, manglingi berasal dari kata dasar ling yang berarti "tanda" atau "kenal". Manglingi berarti "membuat orang yang melihat menjadi ragu atau tidak mengenali lagi saking berbedanya". Namun dalam konteks budaya pernikahan, manglingi bukan berarti kamu berubah menjadi orang asing. Filosofinya lebih dalam: Mengangkat derajat manusia biasa menjadi Raja dan Ratu Sehari.

Sehari-hari, kamu adalah wanita biasa dengan segala ketidaksempurnaanmu. Namun saat duduk di pelaminan, kamu sedang memerankan tokoh luhur. Kamu adalah representasi dari Dewi (dalam budaya Jawa) atau Putri Kerajaan. Oleh karena itu, wajahmu tidak boleh terlihat "biasa". Wajahmu harus memancarkan kewibawaan (regal), keanggunan, dan cahaya yang berbeda. Riasan adat didesain bukan untuk menonjolkan fitur wajahmu yang imut, tapi untuk mengubah struktur wajahmu menjadi ikonik dan berkarakter. Itulah sebabnya makeup internasional yang hanya mempercantik (beautifying) seringkali kalah telak auranya dibandingkan riasan adat yang mentransformasi (transforming).

Mengapa Riasan Adat Begitu Kuat?

wm_article_img
MUA: Sanggar NaninFadlan

Mari kita bicara teknis. Apa yang membuat riasan adat seperti Jawa, Sunda, Bali, atau Minang memiliki efek visual yang begitu drastis? Ada tiga elemen kunci yang tidak dimiliki oleh gaya makeup Barat:

1. Koreksi Wajah Lewat "Paes" dan Tata Rambut

Dalam makeup internasional, kita mengenal teknik contouring (permainan bayangan) untuk meniruskan pipi. Riasan adat sudah melakukan ini berabad-abad lalu dengan cara yang lebih ekstrem namun artistik: Mengubah Garis Rambut.

  • Paes (Jawa): Lekukan hitam di dahi (pidih) ini bukan sekadar hiasan. Secara visual, Paes membingkai wajah, menutupi dahi yang lebar, dan membuat wajah terlihat lebih simetris dan lonjong. Ini adalah contouring level tertinggi.
  • Siger (Sunda/Lampung): Mahkota besar di kepala bukan hanya simbol kemewahan. Bentuknya yang menjulang menyeimbangkan proporsi tubuh dan wajah, membuat pengantin wanita terlihat jenjang, tegap, dan agung.

2. Fokus pada Mata yang "Tajam" (Alis Menjangan)

Pernah bertanya-tanya kenapa alis pengantin Jawa (Yogya Putri/Paes Ageng) bentuknya bercabang seperti tanduk rusa (menjangan)? Ini bukan kesalahan gambar. Alis menjangan menyimbolkan ketangkasan, kecerdikan, dan keanggunan hewan rusa. Secara visual, bentuk alis yang melengkung panjang dan tajam di ujung ini memberikan efek "mata yang berbicara". Ia mengangkat kelopak mata yang sayu menjadi tegas. Tatapan pengantin wanita menjadi tajam, menusuk, namun tetap teduh. Ini yang sering membuat tamu merasa "terhipnotis" saat memandang mata pengantin.

3. Warna-Warna Berani (Bold Colors)

Riasan adat tidak takut main warna. Lipstik merah menyala, perona pipi yang pink merona, dan eyeshadow emas atau hijau. Di bawah lampu pelaminan yang terang benderang, warna-warna nude atau pastel ala Western makeup seringkali "hilang" atau membuat wajah terlihat pucat. Sebaliknya, warna bold riasan adat justru membuat wajah pengantin tetap "hidup" dan segar meski dilihat dari jarak jauh (dari pintu masuk gedung sekalipun).

Ritual Batin Sang Perias (Inner Beauty)

wm_article_img
Fotografi: Venema Pictures

Inilah rahasia yang tidak bisa dibeli di toko kosmetik manapun. Aura magis riasan adat seringkali datang dari siapa yang meriasnya. Dalam tradisi, perias pengantin disebut Dukun Manten atau Juru Rias Adat. Mereka bukan sekadar orang yang jago memegang kuas foundation. Mereka adalah pemangku adat yang memiliki laku prihatin.

Sebelum hari pernikahan, seorang Dukun Manten senior biasanya akan melakukan puasa (seperti Puasa Mutih atau Ngerowot) demi kelancaran acara calon pengantinnya. Saat mulai merias wajahmu, mereka tidak memulainya dengan obrolan gosip, melainkan dengan Mantra atau doa. Mereka meniupkan doa ke ubun-ubun, ke bedak, dan ke lipstik yang akan dipakaikan. "Niat ingsun arep dandan..." (Niat saya hendak merias...)

Energi spiritual inilah yang dipercaya "membuka aura" pengantin. Seringkali, makeup-nya biasa saja, bedaknya tidak terlalu tebal, tapi wajah pengantin terlihat bercahaya (glowing) dari dalam. Inilah yang disebut Inner Beauty yang dibangkitkan lewat ritual tradisi. Sesuatu yang sulit didapatkan jika kamu hanya menyewa MUA modern yang sekadar mengejar tren visual.

Makeup Internasional vs. Makeup Adat: Mana yang Harus Dipilih?

wm_article_img
Foto via Mamie Hardo

Tentu saja, tidak ada yang salah dengan makeup internasional. Namun, kamu harus paham peruntukannya.

  • Pilih makeup internasional jika: Kamu menginginkan tampilan yang natural, ingin terlihat seperti dirimu sendiri versi lebih cantik, dan acaramu berkonsep mingle santai (seperti Garden Party atau Rustic Wedding).
  • Pilih makeup adat (manglingi) jika: Kamu ingin tampil beda, ingin menghormati leluhur, ingin terlihat agung di pelaminan yang megah, dan ingin merasakan sensasi menjadi "Ratu" yang sesungguhnya.

Ingat, kamu bisa tampil cantik ala Western setiap hari ke kantor atau ke pesta teman. Tapi kesempatan untuk tampil dengan Paes Ageng atau Suntiang megah hanya datang satu kali seumur hidup. Sayang sekali jika momen sakral itu dilewatkan dengan riasan yang "biasa-biasa saja".

Menjawab Ketakutan: "Bagaimana Kalau Nanti Terlihat Tua?"

wm_article_img
MUA: Marlene Hariman

Ini adalah ketakutan terbesar pengantin masa kini. Dan harus diakui, ketakutan ini beralasan. Banyak kasus "korban makeup" di mana pengantin adat terlihat seperti memakai topeng dempul yang retak. Namun, kesalahan itu bukan pada adatnya, melainkan pada Periasnya. Riasan adat yang gagal biasanya disebabkan oleh perias yang tidak update dengan teknologi kosmetik, atau memaksakan pakem tanpa melihat kondisi kulit pengantin.

Kabar baiknya, saat ini telah lahir genre baru: Modern Heritage MUA. Mereka adalah perias-perias muda (atau senior yang adaptif) yang menggabungkan pakem tradisi dengan teknik complexion modern.

Rahasia mereka meliputi:

  1. Skin prep yang matang: Wajah dipersiapkan dengan serum dan moisturizer mahal agar makeup menempel menyatu dengan kulit, bukan "dempul" di atas kulit.
  2. Mixing foundation: Menggunakan racikan foundation modern yang high coverage tapi ringan dan tahan lama, bukan bedak dingin zaman dulu yang kaku.
  3. Warna yang disesuaikan: Mereka tetap membuat Paes, tapi mungkin warna lipstiknya diganti maroon (bukan merah cabai), atau alisnya dibuat berserat alami (bukan blok hitam kaku).

Hasilnya? Kamu tetap mendapatkan aura magis manglingi dari bentuk Paes/Siger, tapi wajahmu tetap terlihat segar, muda, dan flawless seperti makeup modern. The best of both worlds.

Jangan Takut pada Tradisi

wm_article_img
MUA: Makeup by Laode

Pernikahan adat adalah panggung di mana budaya dan kecantikan bertemu. Kata "manglingi" bukanlah momok yang harus ditakuti. Itu adalah pujian tertinggi yang mengakui bahwa di hari itu, kamu telah berhasil bertransformasi.

Bayangkan 20 atau 30 tahun lagi, kamu membuka album pernikahan bersama anak cucumu. Foto mana yang akan membuat mereka kagum? Foto ibunya dengan makeup natural yang sama seperti foto sehari-hari? Atau foto ibunya yang tampak agung, berwibawa, dan cantik jelita dalam balutan riasan adat nusantara yang legendaris? Jadilah pengantin yang berani. Biarkan tangan-tangan terampil perias adat melukis sejarah di wajahmu. 

Ingin tampil 'Manglingi' tanpa terlihat tua atau menor? Kuncinya ada di pemilihan vendor. Jangan sembarangan memilih perias hanya karena harga murah. Kamu membutuhkan tangan dingin Perias Adat Profesional atau Dukun Manten Modern yang paham betul cara menyeimbangkan pakem spiritual dengan estetika kekinian.

Di WeddingMarket, kamu bisa menemukan ratusan MUA spesialis adat—mulai dari pakar Paes Ageng Yogyakarta hingga spesialis Siger Sunda—yang memiliki portofolio flawless dan manglingi. Cek portofolio Before-After mereka, baca review pengantin sebelumnya, dan temukan perias yang satu frekuensi denganmu. Temukan perias pengantin adat terbaik & terpercaya di sini.


Cover | Foto: Makeupbysitas

Diskon dan Penawaran Eksklusif Menantimu!
Kunjungi WeddingMarket Fair 16 -18 Januari 2026
di Balai Kartini (Exhibition & Covention Center)

Article Terkait

Loading...

Article Terbaru

Loading...

Media Sosial

Temukan inspirasi dan vendor pernikahan terbaik di Sosial Media Kami

Loading...