Pilih Kategori Artikel

Apa Itu Ngunduh Mantu? Ini Prosesi dan Maknanya dalam Tradisi Jawa
Diskon dan Penawaran Eksklusif Menantimu!
WeddingMarket Fair 24 -26 Juli 2026
di Balai Kartini (Exhibition & Covention Center)

Dalam rangkaian pernikahan adat Jawa, ada begitu banyak prosesi yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan makna. Salah satu tradisi yang masih sering dilakukan hingga saat ini adalah ngunduh mantu. Bagi sebagian calon pengantin, istilah ini mungkin terdengar familiar, tetapi belum sepenuhnya dipahami secara mendalam. Lalu sebenarnya, apa itu ngunduh mantu?

Ngunduh mantu adalah sebuah prosesi adat dalam pernikahan Jawa yang dilakukan oleh pihak keluarga pengantin pria setelah acara pernikahan utama berlangsung. Jika pada resepsi pernikahan biasanya keluarga pengantin wanita menjadi tuan rumah, maka dalam tradisi ini, keluarga pengantin pria mengambil peran tersebut untuk menyambut kehadiran menantu perempuan sebagai bagian dari keluarga mereka.

Secara bahasa, kata ngunduh berarti memanen, sedangkan mantu berarti menantu. Jika digabungkan, ngunduh mantu adalah simbol bahwa keluarga pengantin pria telah “memanen” atau menerima anggota keluarga baru. Di balik istilah sederhana ini, tersimpan makna yang hangat tentang penerimaan, kebersamaan, dan awal hubungan baru antar keluarga besar.

Memahami Makna Ngunduh Mantu dalam Pernikahan Jawa

wm_article_img
Fotografi: Venema Pictures

Sebelum masuk ke dalam rangkaian prosesi, penting untuk memahami bahwa ngunduh mantu bukan sekadar acara tambahan atau resepsi kedua. Tradisi ini memiliki nilai filosofis yang kuat dalam budaya Jawa.

Ngunduh mantu adalah bentuk penghormatan dari keluarga pengantin pria kepada menantu perempuan. Ini menjadi momen resmi untuk memperkenalkan dan menerima sang mempelai wanita ke dalam lingkungan keluarga besar suami. Tidak hanya itu, prosesi ini juga menjadi simbol bahwa kedua keluarga kini terikat dalam satu hubungan yang lebih erat.

Meskipun bersifat tidak wajib, banyak pasangan pengantin Jawa yang tetap melaksanakan tradisi ini sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus ungkapan rasa syukur atas pernikahan yang telah berlangsung.

Waktu Pelaksanaan Ngunduh Mantu

Dalam praktiknya, ngunduh mantu biasanya dilaksanakan beberapa hari setelah acara pernikahan, umumnya sekitar lima hari. Waktu ini dipilih bukan tanpa alasan. Setelah melalui rangkaian acara pernikahan yang padat, jeda waktu tersebut memberikan kesempatan bagi kedua mempelai untuk beristirahat.

Selain itu, suasana ngunduh mantu yang dilakukan setelah beberapa hari cenderung lebih santai dan hangat dibandingkan resepsi utama yang biasanya lebih formal. Ngunduh mantu adalah momen yang terasa lebih intim, di mana keluarga besar dapat berkumpul tanpa tekanan protokoler yang terlalu kaku.

Prosesi Awal: Pengiriman Utusan dan Simbol Harapan

wm_article_img
Foto via Mamie Hardo

Rangkaian prosesi ngunduh mantu dimulai dengan pengiriman utusan dari pihak keluarga pengantin pria ke rumah pengantin wanita. Utusan ini membawa sajian berupa pisang ayu dan suru ayu.

Kedua sajian tersebut bukan sekadar simbol, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam. Sajian ini melambangkan sedyo rahayu, yaitu harapan akan kehidupan yang sejahtera, damai, dan penuh kebahagiaan bagi kedua mempelai.

Dalam tahap ini, utusan dari pihak pria juga menyampaikan maksud untuk menjemput kedua mempelai dan memohon izin kepada keluarga pengantin wanita. Hal ini mencerminkan nilai sopan santun dan penghormatan yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jawa.

Prosesi Pangombyong: Perjalanan Menuju Rumah Besan

wm_article_img
Fotografi: Venema Pictures

Setelah izin diberikan, prosesi dilanjutkan dengan pangombyong, yaitu iring-iringan rombongan yang terdiri dari kedua mempelai, keluarga pengantin wanita, serta kerabat dekat menuju rumah keluarga pengantin pria atau lokasi acara ngunduh mantu. Suasana dalam prosesi ini biasanya penuh dengan kebersamaan. Rombongan berjalan bersama sebagai simbol perjalanan menuju kehidupan baru.

Dalam beberapa tradisi, jika rombongan melewati jembatan, sajian yang sebelumnya dibawa akan dilemparkan ke bawah. Tindakan ini dipercaya sebagai simbol untuk membuang hal-hal buruk agar tidak terbawa ke dalam kehidupan rumah tangga yang baru.

Wijik Pupuk: Ritual Penyucian dan Harapan Baru

Sesampainya di rumah keluarga pengantin pria, prosesi dilanjutkan dengan tahap wijik pupuk. Dalam tahap ini, kaki kedua mempelai akan dibasuh menggunakan air bunga setaman oleh ibu pengantin pria.

Ritual ini memiliki makna simbolis sebagai proses pembersihan dari segala energi negatif yang mungkin melekat selama perjalanan. Air bunga setaman melambangkan kesucian, ketenangan, dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Ngunduh mantu adalah pengingat bahwa setiap perjalanan baru sebaiknya dimulai dengan hati yang bersih dan niat yang tulus.

Imbal Wicara dan Unjukan Tirto Wening

wm_article_img
Foto via Mustika Yogyakarta Resort & Spa

Tahap berikutnya adalah imbal wicara, yaitu dialog singkat antara keluarga pengantin wanita dan keluarga pengantin pria. Dalam momen ini, pihak keluarga wanita secara simbolis menyerahkan mempelai perempuan kepada keluarga pria. Dialog ini biasanya diikuti dengan sambutan penerimaan dari pihak keluarga pengantin pria. Meskipun singkat, momen ini sarat akan makna karena mencerminkan kesepakatan, kepercayaan, dan harapan antara kedua keluarga.

Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan unjukan tirto wening, dimana kedua mempelai meminum air bening yang diberikan oleh orang tua pengantin pria. Air bening ini melambangkan kejernihan pikiran dan ketenangan hati. Harapannya, pasangan pengantin dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan komunikasi yang baik dan keputusan yang bijaksana.

Sindur Binayang: Simbol Tuntunan Orang Tua

wm_article_img
Foto via Tari Donolobo

Prosesi berikutnya adalah sindur binayang. Dalam tahap ini, ibu pengantin pria akan mengalungkan kain sindur di bahu kedua mempelai, sementara ayah pengantin pria berjalan di depan mereka.

Ibu pengantin pria kemudian menuntun pasangan menuju pelaminan dengan merangkul pundak mereka dari belakang. Tindakan ini melambangkan kasih sayang dan perlindungan, sementara kehadiran ayah di depan mencerminkan peran sebagai penunjuk arah dalam kehidupan. Selain itu, dalam prosesi ini juga terdapat simbol penggantian keris milik pengantin pria dengan pusaka keluarga, yang melambangkan tanggung jawab baru sebagai seorang kepala keluarga.

Sungkeman: Wujud Bakti dan Rasa Syukur

wm_article_img
Foto via Pinterest

Sebelum kedua mempelai duduk di pelaminan, prosesi dilanjutkan dengan sungkeman. Ini adalah momen di mana pasangan pengantin berlutut di hadapan orang tua untuk memohon restu dan mengungkapkan rasa terima kasih atas segala bimbingan yang telah diberikan.

Sungkeman menjadi salah satu bagian paling emosional dalam rangkaian ngunduh mantu. Di sinilah rasa haru, cinta, dan syukur berpadu menjadi satu. Ngunduh mantu adalah pengingat bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua individu, tetapi juga tentang keluarga yang telah membesarkan dan mendukung mereka.

Penutup Prosesi: Ramah Tamah dan Doa Bersama

Setelah seluruh rangkaian prosesi selesai, acara ditutup dengan ramah tamah dan doa bersama. Suasana menjadi lebih santai, di mana keluarga besar dan tamu undangan dapat berinteraksi dengan hangat. Momen ini menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antar keluarga dan merayakan kebahagiaan secara lebih personal.

Apakah Ngunduh Mantu Wajib Dilakukan

Banyak calon pengantin bertanya apakah ngunduh mantu adalah prosesi yang wajib dilakukan. Jawabannya adalah tidak. Tradisi ini bersifat opsional dan dapat disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing keluarga. Namun, banyak pasangan yang tetap memilih untuk melaksanakannya karena nilai budaya dan makna yang terkandung di dalamnya. Ngunduh mantu adalah cara untuk menjaga tradisi tetap hidup sekaligus menciptakan momen kebersamaan yang hangat setelah pernikahan.

Tips Menyiapkan Ngunduh Mantu agar Tetap Berkesan

wm_article_img
Foto via Kusuma Asri Semarang

Bagi kamu yang berencana melaksanakan tradisi ini, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan agar acara tetap berjalan lancar dan berkesan. Pastikan untuk memberikan jeda waktu yang cukup setelah pernikahan agar kondisi fisik tetap prima. Selain itu, komunikasikan konsep acara dengan keluarga agar sesuai dengan harapan bersama.

Tidak perlu selalu mewah, yang terpenting adalah makna dari setiap prosesi tetap terjaga. Libatkan keluarga dalam setiap tahap persiapan agar suasana kebersamaan sudah terasa bahkan sebelum acara dimulai. Pada akhirnya, ngunduh mantu adalah lebih dari sekadar rangkaian prosesi dalam pernikahan adat Jawa. Ia adalah simbol penerimaan, ungkapan rasa syukur, serta jembatan yang menghubungkan dua keluarga dalam satu ikatan yang hangat. 

Jika kamu sedang mempersiapkan pernikahan, memahami makna di balik setiap tradisi bisa membuat perjalanan ini terasa jauh lebih bermakna dan personal. Untuk menemukan inspirasi konsep acara pernikahan Jawa, referensi tampilan pengantin Jawa, hingga vendor yang bisa membantu mewujudkan hari istimewa, kamu bisa mengeksplor berbagai ide menarik di WeddingMarket.


Cover | Fotografi: Venema Pictures

Diskon dan Penawaran Eksklusif Menantimu!
WeddingMarket Fair 24 -26 Juli 2026
di Balai Kartini (Exhibition & Covention Center)

Article Terkait

Loading...

Article Terbaru

Loading...

Media Sosial

Temukan inspirasi dan vendor pernikahan terbaik di Sosial Media Kami

Loading...