Brunch sudah menjadi lifestyle masyarakat urban yang sibuk karena biasanya mereka tidak sempat sarapan, tapi terlalu lapar untuk menunggu makan siang. Akhirnya, makan dilakukan di antara dua waktu tersebut agar lebih efektif. Uniknya, ternyata hal ini bisa juga diterapkan untuk konsep acara pernikahan juga, lo. Jika biasanya jam makan yang populer digunakan untuk acara resepsi adalah waktu dinner, ternyata ada juga brunch wedding reception.
Jika kamu ingin menggelar pernikahan dengan konsep santai yang tidak terlalu ramai, mungkin konsep ini akan cocok untukmu. Jika tertarik, kamu bisa mengetahui lebih lanjut mengenai berbagai elemen serta kekurangan dan kelebihan dari konsep brunch wedding. Simak selengkapnya, yuk!
Konsep brunch wedding reception
Brunch wedding reception adalah konsep resepsi pernikahan yang diadakan pada pagi menjelang siang, sekitar jam 10.00 hingga 13.00 dengan menu utama berupa makanan gabungan breakfast dan lunch. Jadi, bukan prasmanan berat ala malam hari, tapi hidangan yang lebih ringan, fresh, dan santai.
Secara konsep, brunch wedding reception biasanya terasa lebih intimate, relaxed, dan modern. Suasananya mirip garden party atau cafe vibes. Tamu yang datang tidak terlalu formal, cahaya natural masih bagus untuk foto, dan durasi acara cenderung lebih singkat dibanding resepsi di malam hari.
Brunch wedding reception sering dipilih karena lebih hemat biaya dibanding resepsi dinner, lebih nyaman untuk tamu lansia dan anak-anak, serta memberi kesan unik karena masih jarang dipakai di Indonesia. Biasanya konsep ini dipadukan dengan konsep outdoor, semi outdoor, rooftop, atau cafe style venue supaya kesan paginya lebih terasa maksimal.
Elemen brunch wedding

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat akan menggelar pernikahan dengan konsep brunch wedding. Berikut ini beberapa elemen yang membangunnya.
1. Waktu pelaksanaan
Elemen paling mendasar dari brunch wedding adalah waktu pelaksanaannya, yaitu di antara pagi dan siang hari, umumnya mulai sekitar pukul 09.00 hingga 11.00 dan selesai maksimal pukul 13.00 atau 14.00. Waktu ini dipilih karena memberikan suasana yang lebih segar, tidak terlalu panas seperti di siang bolong, dan tidak seformal resepsi malam.
Cahaya matahari pagi juga membuat keseluruhan acara terasa lebih hangat, cerah, dan natural, sekaligus sangat ideal untuk dokumentasi foto dan video. Dari sisi tamu, waktu brunch juga dianggap nyaman karena tidak terlalu mengganggu jadwal harian sehingga cocok untuk tamu yang datang sekeluarga, lansia, maupun pasangan dengan banyak tamu dari luar kota yang ingin langsung melanjutkan perjalanan setelah acara.
2. Konsep dan suasana acara
Brunch wedding identik dengan suasana yang lebih santai, intimate, dan tidak terlalu kaku. Elemen ini biasanya diwujudkan melalui konsep acara yang menghindari prosesi panjang, MC yang terlalu formal, atau rangkaian acara yang terlalu padat. Musik yang digunakan pun cenderung ringan seperti acoustic, jazz, piano instrumental, atau playlist lagu-lagu love song versi soft. Atmosfer yang dibangun lebih menyerupai garden party, cafe wedding, atau weekend brunch bersama keluarga besar sehingga tamu merasa seperti datang ke acara hangout, bukan ke resepsi besar yang melelahkan.
3. Menu brunch
Menu adalah elemen kunci yang membedakan brunch wedding dengan resepsi biasa. Hidangan yang disajikan biasanya merupakan perpaduan antara sarapan dan makan siang sehingga tidak terlalu berat, tetapi tetap mengenyangkan. Menu brunch bisa berupa pastry seperti croissant dan danish, egg based dishes seperti omelette, eggs benedict, quiche, salad, sup ringan, buah segar, yoghurt, hingga hidangan lokal versi brunch seperti nasi kuning mini, bubur ayam dengan plating cantik, atau rice bowl kecil. Sementara itu, minumannya terdiri dari kopi, teh, jus segar, infused water, dan kadang mocktail buah. Penyajian makanan pun dibuat cantik dan instagramable dengan porsi individual atau buffet kecil agar tetap rapi dan cepat habis.
4. Venue yang mendukung
Venue menjadi elemen penting karena brunch wedding sangat mengandalkan cahaya alami. Lokasi yang sering dipilih adalah garden venue, rooftop, restoran dengan jendela besar, cafe, atau ballroom yang memiliki akses ke sinar matahari. Elemen ini membuat dekorasi tidak perlu dibuat terlalu berat karena sudah terbantu oleh pencahayaan natural. Selain itu, venue brunch wedding biasanya dipilih yang tidak terlalu besar agar suasana tetap intimate dan tidak terasa kosong. Akses sirkulasi udara dan kenyamanan suhu juga jadi pertimbangan utama karena tamu datang saat matahari mulai naik dan perlu tetap merasa sejuk serta nyaman.
5. Dekorasi yang ringan dan fresh
Dekorasi dalam brunch wedding cenderung lebih ringan dibanding resepsi saat malam. Elemen visual yang digunakan biasanya berupa bunga segar berwarna pastel atau earthy tone, dedaunan, taplak linen warna netral, serta sentuhan kayu atau rotan untuk menambah kesan hangat. Dekorasi jarang memakai warna gelap atau lighting yang dramatis karena konsepnya lebih mengandalkan kesan bright dan airy. Elemen dekorasi ini dirancang agar terlihat natural di bawah sinar matahari, tidak silau di kamera, dan tetap terlihat elegan meskipun sederhana. Fokus dekorasi biasanya ada di area meja tamu, backdrop akad atau pemberkatan, serta area makanan.
6. Dresscode dan gaya busana
Busana menjadi elemen yang ikut membentuk identitas brunch wedding. Pengantin biasanya memilih gaun atau busana yang lebih ringan secara visual dan material, seperti kain yang flowy, potongan sederhana, dan detail yang tidak terlalu berat. Warna busana pengantin dan keluarga juga cenderung soft atau terang, menyesuaikan dengan suasana pagi. Untuk tamu, dress code biasanya semi formal atau smart casual agar mereka tetap rapi dan tidak merasa harus berdandan terlalu glamor. Elemen ini penting karena akan membantu menciptakan kesan acara yang santai tapi tetap berkelas.
7. Rundown yang lebih singkat
Rundown brunch wedding biasanya dibuat lebih ringkas dibanding resepsi malam. Acara inti seperti akad atau pemberkatan dilakukan lebih awal, lalu dilanjutkan dengan makan bersama dan sesi foto singkat. Elemen ini bertujuan agar tamu tidak kelelahan dan tidak terlalu lama menunggu. Tidak banyak sesi hiburan panjang atau prosesi berulang-ulang sehingga alur acara terasa mengalir dan tidak membosankan. Dengan durasi yang lebih pendek, tamu bisa datang, menikmati suasana, makan dengan nyaman, dan pulang tanpa merasa terikat waktu terlalu lama.
8. Pengalaman tamu
Dalam brunch wedding, elemen pengalaman tamu sangat ditekankan. Karena konsepnya intimate, interaksi antara pengantin dan tamu biasanya lebih dekat, misalnya bisa menyapa satu per satu atau makan di area yang sama. Tidak ada kesan antre panjang atau suasana terlalu formal sehingga tamu merasa lebih dihargai dan dilibatkan. Elemen ini diperkuat dengan seating arrangement yang rapi, area duduk nyaman, dan alur pengambilan makanan yang tidak ribet. Tujuannya adalah membuat tamu merasa datang ke acara yang hangat dan personal, bukan sekadar menghadiri pesta formal.
Kelebihan dan kekurangan

Sama dengan konsep pernikahan yang lainnya, brunch wedding juga memiliki kelebihan serta kekurangannya masing-masing. Berikut ini beberapa di antaranya.
Kelebihan
1. Lebih hemat daripada resepsi malam
Salah satu kelebihan utama brunch wedding adalah tentang biaya, khususnya pada konsumsi dan venue. Harga paket venue pagi hari umumnya lebih murah dibandingkan slot sore atau malam, begitu juga dengan catering brunch yang tidak memerlukan menu berat seperti carving station atau hidangan utama yang banyak macam. Selain itu, kebutuhan lighting, dekorasi besar, dan hiburan mewah bisa ditekan karena acara sudah terbantu oleh cahaya alami dan suasana pagi. Hal ini membuat brunch wedding menjadi solusi ideal bagi pasangan yang ingin tetap elegan tetapi dengan anggaran yang lebih terkontrol.
2. Suasana lebih segar dan tidak terlalu melelahkan
Karena diadakan pagi menjelang siang, kondisi fisik pengantin dan tamu cenderung masih segar. Mereka tidak perlu menunggu sampai malam hari, tidak perlu begadang, dan tidak perlu menghadapi rasa lelah akibat rangkaian acara yang panjang. Suasana pagi juga memberikan kesan optimis, cerah, dan hangat yang akan membuat acara terasa lebih menyenangkan. Untuk pasangan yang tidak menyukai acara dengan durasi lama dan terlalu padat, brunch wedding memberikan pengalaman yang lebih ringan dan menyenangkan.
3. Foto dan video lebih natural dan cerah
Dari sisi dokumentasi, brunch wedding memiliki keuntungan besar karena memanfaatkan cahaya matahari alami. Foto-foto cenderung terlihat lebih bright, soft, dan hidup tanpa harus bergantung pada lighting buatan yang berat. Warna dekorasi, bunga, dan busana juga terlihat lebih jelas di kamera. Hal ini sangat menguntungkan bagi pasangan yang menginginkan hasil foto yang terlihat fresh, clean, dan timeless, bukan dramatis gelap seperti resepsi malam.
4. Konsep unik dan masih relatif jarang di Indonesia
Brunch wedding masih tergolong tidak mainstream di Indonesia sehingga pernikahan ini terkesan unik dan berbeda dari resepsi pada umumnya. Tamu akan merasa mendapat pengalaman baru karena datang ke pernikahan dengan suasana seperti cafe brunch atau garden party. Elemen ini membuat acara terasa lebih memorable dan menjadi bahan cerita karena tidak biasa. Bagi pasangan yang menyukai konsep anti mainstream atau personal, brunch wedding menjadi cara mengekspresikan karakter mereka.
5. Lebih cocok untuk intimate wedding
Brunch wedding sangat cocok untuk pernikahan dengan jumlah tamu terbatas karena suasananya memang dirancang untuk interaksi lebih dekat. Pengantin bisa menyapa tamu satu per satu, duduk bersama keluarga, dan menikmati momen tanpa tekanan resepsi besar. Dengan skala yang lebih kecil, kualitas acara terasa lebih personal dan hangat, tidak sekadar formalitas. Hal ini juga memudahkan pengaturan tempat duduk dan alur pelayanan makanan.
Kekurangan

1. Tidak cocok untuk semua tamu
Tidak semua tamu bisa hadir pagi hari, terutama tamu yang bekerja, memiliki jadwal khusus, atau datang dari luar kota pada hari yang sama. Dibanding resepsi sore atau malam, waktu brunch lebih menuntut waktu. Ada risiko tamu datang terlambat atau tidak bisa hadir sama sekali karena berbenturan dengan aktivitas lain. Hal ini perlu dipertimbangkan jika target tamu adalah rekan kerja atau relasi profesional.
2. Pilihan menu terbatas
Menu brunch cenderung ringan dan tidak semua orang merasa puas dengan makanan tipe ini. Beberapa tamu, terutama yang terbiasa makan berat seperti nasi dan lauk lengkap, bisa merasa “belum makan” meskipun sudah menyantap brunch. Jika tidak dikombinasikan dengan menu lokal atau menu berat versi mini, bisa muncul kesan bahwa hidangan kurang mengenyangkan. Hal ini menjadi tantangan khusus di budaya Indonesia yang identik dengan makanan berat di acara pernikahan.
3. Cuaca menjadi tantangan
Jika brunch wedding dilakukan outdoor atau semi outdoor, faktor cuaca menjadi kekurangan yang cukup signifikan. Matahari yang mulai naik bisa terasa panas, hujan tiba-tiba bisa mengganggu jalannya acara, dan angin pagi bisa memengaruhi dekorasi. Tanpa persiapan tenda, kipas, atau area indoor cadangan, kenyamanan tamu bisa terganggu. Artinya, brunch wedding menuntut perencanaan yang lebih matang terkait cuaca.
4. Kesan kurang megah
Bagi tamu yang terbiasa dengan pernikahan besar dan glamor di malam hari, brunch wedding bisa terasa kurang wah, kurang meriah, atau terlalu sederhana. Tanpa lighting dramatis, tanpa hiburan besar, dan tanpa dekorasi berat, konsep ini bisa dianggap seperti acara biasa jika tidak dieksekusi dengan baik. Hal ini menjadi kekurangan dari sisi persepsi sosial, terutama jika keluarga mengharapkan resepsi yang terlihat prestisius.
5. Butuh koordinasi waktu yang ketat
Karena acara dimulai pagi, seluruh vendor harus siap sejak subuh, termasuk make up artist, catering, dekorasi, dan dokumentasi. Pengantin juga harus bangun sangat pagi untuk persiapan. Jika ada keterlambatan kecil saja, rundown bisa bergeser dan mengurangi waktu makan tamu. Dibanding resepsi sore yang lebih fleksibel, brunch wedding menuntut manajemen waktu yang lebih disiplin.
Brunch wedding akan menjadi konsep pernikahan menarik yang masih jarang diterapkan di Indonesia. Jika kamu menginginkan acara pernikahan yang santai, segar, dan cukup intimate, kamu bisa memilih konsep pernikahan jenis ini. Untuk mewujudkannya, jangan lupa menggandeng vendor-vendor terpercaya yang daftarnya bisa kamu cek di sini.
Cover | Foto: Pexels/ Juliano Astc