Pilih Kategori Artikel

Setelah Nikah Malah Sedih? Kenali Post Wedding Blues dan Cara Menghadapinya
Diskon dan Penawaran Eksklusif Menantimu!
Kunjungi WeddingMarket Fair 17 -19 April 2026
di Balai Kartini (Exhibition & Covention Center)

Setelah acara pernikahan selesai, wajarnya pasangan merasa bahagia dan antusias dalam menghadapi kehidupan baru setelahnya. Namun, ternyata ada juga pasangan yang merasa berbeda. Alih-alih senang, ia merasa cemas, hampa, atau bahkan sedih. Apakah kamu merasakannya juga setelah acara pernikahanmu selesai? Jika iya, mungkin kamu terkena sindrom post wedding blues. 

Sesuai dengan namanya, sindrom ini mirip dengan post concert depression atau post holiday blues. Post wedding syndrome memiliki gejala tertentu dan bisa diatasi. Untuk mengetahui hal ini lebih lanjut, simak penjelasan selengkapnya berikut ini, yuk!

Ciri-ciri post wedding blues

wm_article_img
Foto: Pexels/ Stephen Andrews

Ada beberapa ciri yang biasanya terjadi pada orang yang mengalami sindrom ini. Biasanya beberapa hal ini terjadi pada orang-orang yang perfeksionis, terlibat sepenuhnya pada persiapan pernikahan, menjadikan pernikahan sebagai sebuah tujuan besar dalam hidup, dan mengalami stress berat sebelum hari-H. Berikut ini adalah beberapa cirinya:

  • Merasa sedih tanpa sebab jelas setelah menikah

  • Kehilangan motivasi atau semangat

  • Merasa kosong karena tidak ada lagi yang dikejar

  • Mudah tersinggung atau sensitif

  • Overthinking tentang acara, “Tadi harusnya begini ya…”

  • Merasa tidak sebahagia yang dibayangkan

Biasanya ada beberapa alasan hal ini bisa terjadi, seperti:

  • Menganggap acara pernikahan seolah seperti akhir dari sebuah fase besar 

  • Ada perubahan identitas, dari bride/groom menjadi suami/istri

  • Ada tekanan ekspektasi untuk bahagia, dewasa, dan mapan

  • Ada realita yang harus dihadapi, seperti capek, harus beradaptasi, mengurus rumah hingga keuangan

Cara mengatasi post wedding syndrome

wm_article_img
Foto: Pexels/ Kawê Rodrigues

Saat merasakan ciri-ciri tersebut, kamu mungkin mulai mengidentifikasi diri bahwa mungkin memang sedang mengalami post wedding blues. Kamu bisa mengatasinya dengan beberapa cara berikut ini. 

1. Akui dan validasi perasaan yang muncul

Langkah pertama yang paling penting adalah menyadari bahwa perasaan sedih, kosong, atau tidak bersemangat setelah menikah itu normal dan manusiawi. Jangan langsung menyalahkan diri sendiri dengan pikiran seperti “Aku harusnya bahagia,” atau “Aku nggak bersyukur.” Justru, menekan emosi hanya akan membuat perasaan ini bertahan lebih lama. Tubuh dan pikiranmu sedang beradaptasi dari fase hidup yang sangat dar der dor menuju fase baru yang lebih stabil. 

Akui perasaan tersebut agar kamu bisa memberi ruang bagi dirimu sendiri untuk pulih secara emosional. Kamu bisa menamai perasaanmu, misalnya “Aku lagi capek secara mental,” atau “Aku lagi ngerasa kosong,” supaya tidak bingung secara emosional. Validasi diri membuat otak berhenti menganggap perasaan ini sebagai ancaman dan mulai memprosesnya sebagai fase sementara.

2. Kurangi overthinking tentang hari pernikahan

Banyak orang terjebak mengulang-ulang momen pernikahan yang akhirnya membandingkan pernikahan dengan ekspektasi, melihat kekurangan kecil, atau membayangkan versi yang “lebih sempurna.” Kebiasaan ini membuat pikiran tetap terjebak di masa lalu dan sulit move on ke fase baru. Padahal, tidak ada pernikahan yang benar-benar sempurna karena selalu ada faktor eksternal yang ada di luar kendali. 

Fokus berlebihan pada detail seperti dekorasi, susunan acara, atau respon tamu hanya akan menguras emosi tanpa mendapatkan solusi. Cara mengatasinya adalah dengan menggeser narasi dalam kepala, dari “Harusnya bisa lebih baik,” menjadi “Ini adalah momen indah yang akan kukenang dengan baik di hidupku.” Mengingat hal-hal baik yang terjadi dan makna pernikahan itu sendiri akan membantu mengubah rasa kecewa menjadi penerimaan.

3. Istirahat untuk memulihkan emosi

Post wedding blues sering diperparah oleh kelelahan tubuh akibat kurang tidur, stres panjang, dan aktivitas padat sebelum hari-H. Saat tubuh kelelahan, kemampuan otak untuk mengatur emosi ikut menurun sehingga perasaan sedih atau cemas terasa lebih berat dari seharusnya. Oleh karena itu, pemulihan fisik bukan hal sepele. Tidur yang cukup, makan teratur, minum air yang cukup, dan menghindari aktivitas yang terlalu padat di minggu-minggu setelah pernikahan akan sangat membantu menstabilkan suasana hati. Tubuh yang kembali seimbang akan mengirim sinyal aman ke otak, emosi negatif pun perlahan mereda tanpa dipaksa.

4. Bangun rutinitas baru sebagai pasangan

Setelah pernikahan, banyak orang merasa kosong karena tujuan besar “menikah” sudah tercapai, tapi belum tahu harus mengejar apa selanjutnya. Kekosongan ini bisa diatasi dengan membangun rutinitas baru yang menjadi kebiasaan dan memberi makna pada hari-hari yang dilewati. Misalnya, kamu bisa menentukan jadwal memasak bersama, waktu quality time mingguan, atau kebiasaan mengobrol sebelum tidur. Rutinitas bukan berarti membuat hidup jadi membosankan, lo, justru memberi rasa stabil dan aman di fase transisi. Fokus emosimu akan berpindah dari masa lalu ke masa kini saat kamu mulai melihat pernikahan sebagai proses harian, bukan hanya acara satu hari.

5. Ceritakan perasaanmu pada pasangan

Banyak orang menyimpan post wedding blues sendirian karena takut disalahpahami atau dianggap tidak bahagia menikah. Padahal, justru pasangan adalah orang yang paling tepat untuk diajak bicara. Mengungkapkan perasaan bukan berarti menyesali pernikahan, tetapi menjelaskan bahwa kamu sedang beradaptasi. Komunikasi yang jujur akan membuat pasangan bisa memberi dukungan emosional, bukan malah salah paham. Selain itu, kamu bisa membicarakan kondisi emosional sejak awal pernikahan untuk membangun kebiasaan yang sehat dalam hubungan, yaitu menyelesaikan masalah dengan dialog, bukan dengan diam dan memendam.

6. Tetapkan tujuan hidup baru setelah menikah

wm_article_img
Foto: Pexels/Jin Wedding

Pernikahan sering dijadikan target besar hidup sehingga setelah tercapai, muncul rasa hampa karena tidak ada lagi yang dikejar. Untuk mengatasi hal ini, kamu bisa membuat tujuan baru yang lebih realistis dan berkelanjutan, seperti merencanakan tabungan bersama, membangun rumah tangga yang nyaman, menata karier, atau merencanakan liburan. Tujuan ini memberi arah pada hidup setelah pesta selesai. Dengan adanya target baru, otak kembali memiliki sesuatu untuk difokuskan sehingga perasaan kosong perlahan bisa digantikan oleh rasa antusias terhadap masa depan.

7. Tetap jaga identitas diri setelah menikah

Setelah menikah, sebagian orang merasa kehilangan dirinya sendiri karena semua berubah menjadi “kita.” Jika hal ini tidak disadari, akan muncul rasa terjebak atau kehilangan kebebasan. Memberi ruang untuk menjadi diri sendiri akan membantumu mengatasi post wedding blues. Kamu bisa melakukan beberapa hal, seperti tetap menjalani hobi, bertemu teman, atau memiliki waktu sendiri. Identitas pribadi yang tetap terjaga membuat pernikahan terasa sebagai pelengkap dalam hidup, bukan pengganti sepenuhnya. Dengan begitu, kamu tidak merasa kehilangan dunia lamamu, tetapi memperluas dunia baru bersama pasangan.

8. Hindari membandingkan perasaanmu dengan orang lain

Media sosial sering memperparah post wedding blues karena dipenuhi konten pasangan yang terlihat selalu bahagia setelah menikah. Jika kamu membandingkan dirimu dengan itu, kamu akan merasa ada yang salah dengan perasaanmu. Padahal, yang terlihat di luar tidak selalu sama dengan yang dirasakan di dalam. Setiap orang memiliki proses adaptasi emosional yang berbeda. Membatasi konsumsi konten pernikahan atau honeymoon orang lain sementara waktu akan membantu menjaga kesehatan mentalmu. Fokus pada hidupmu sendiri akan membuatmu lebih cepat pulih dibanding terus mengukur kebahagiaan dari standar orang lain.

9. Beri waktu diri sendiri untuk beradaptasi

Post wedding blues bukan sesuatu yang harus “diselesaikan” dalam satu atau dua hari. Fase ini menjadi sebuah proses penyesuaian emosional terhadap perubahan besar dalam hidup. Kamu bisa memberi waktu dan tidak memaksa diri untuk langsung merasa bahagia setiap hari. Emosi akan menurun dengan sendirinya seiring rutinitas terbentuk dan realitas hidup baru mulai terasa normal. Kamu bisa menghormati proses ini untuk mempercepat penyembuhan karena tidak ada tekanan tambahan dari diri sendiri.

10. Cari bantuan profesional jika perasaan tidak membaik

Jika perasaan sedih, kosong, atau cemas berlangsung lama dan mulai mengganggu kegiatan sehari-hari, seperti sulit bangun, kehilangan minat hidup, atau muncul pikiran negatif ekstrem, maka bantuan profesional adalah langkah bijak, bukan tanda kelemahan. Psikolog atau konselor bisa membantu memetakan emosi, memahami sumber stres, dan memberikan strategi coping yang lebih tepat. Kadang, post wedding blues hanyalah pintu masuk untuk menyadari kelelahan mental yang lebih dalam, sehingga dukungan profesional bisa mencegah kondisi ini berkembang menjadi depresi yang lebih serius.

Perasaan stress setelah acara pernikahan selesai merupakan sebuah hal yang wajar. Namun, hal ini mungkin akan mengganggu apalagi jika kamu dan pasangan seharusnya bahagia di honeymoon phase. Namun, kamu bisa mengatasinya dengan beberapa tips yang disebutkan. Untuk tips seputar pernikahan lainnya, jangan lupa untuk selalu mengecek artikel-artikel bermanfaat di WeddingMarket, ya!


Cover | Foto: Pexels/Leeloo The First

Diskon dan Penawaran Eksklusif Menantimu!
Kunjungi WeddingMarket Fair 17 -19 April 2026
di Balai Kartini (Exhibition & Covention Center)

Article Terkait

Loading...

Article Terbaru

Loading...

Media Sosial

Temukan inspirasi dan vendor pernikahan terbaik di Sosial Media Kami

Loading...