Para sahabat perempuan biasanya memiliki tugas sebagai bridesmaid di pernikahan. Ada beberapa hal yang harus dilakukan, mulai dari membantu persiapan pengantin dan membantu di beberapa prosesi selama acara berlangsung. Namun, ternyata ada berbagai tugas lainnya yang dilakukan oleh para teman perempuan pengantin, lo.
Supaya tidak terlewat dan kebingungan mencari pengisi peran ini saat sudah dekat dengan hari-H, kamu bisa mencatat dulu beberapa jenis peran para teman perempuan berikut ini. Yuk, simak selengkapnya!
Peran teman perempuan
Untuk membantumu memikirkan kira-kira apa saja peran teman perempuan yang dibutuhkan di acara pernikahanmu nanti, kamu bisa menyimak beberapa tugas yang biasanya ada berikut ini.
1. Bridesmaid

Peran ini adalah yang paling populer. Bridesmaid biasanya terdiri dari teman perempuan terdekat pengantin wanita yang mendampingi secara emosional dan praktikal sejak persiapan hingga hari-H. Tugas mereka biasanya dimulai jauh sebelum acara, seperti membantu fitting gaun, menemani saat makeup dan hairdo, mengingatkan jadwal, serta menjadi tempat curhat ketika pengantin stres atau grogi.
Di hari pernikahan, bridesmaid berjalan bersama pengantin saat prosesi masuk, membantu merapikan gaun atau veil sebelum duduk, serta siap sedia jika pengantin butuh air minum, tisu, lip balm, atau sekadar kata-kata penyemangat. Mereka juga akan menjadi “tameng sosial” yang membantu mengatur interaksi tamu agar pengantin tidak kelelahan, misalnya mengatur antrean foto atau menahan obrolan terlalu lama dari tamu tertentu.
2. Maid of honor
Maid of honor adalah versi “ketua” dari para bridesmaid yang biasanya sahabat paling dekat atau saudara perempuan pengantin. Tanggung jawabnya lebih besar karena ia akan menjadi koordinator informal tim bridesmaid. Ia bertugas memastikan semua bridesmaid hadir tepat waktu, mengenakan kostum rapi, dan mengetahui perannya masing-masing.
Saat hari-H, maid of honor sering bertugas memegang barang-barang penting seperti ponsel pengantin, lipstick, parfum, atau bahkan surat pernikahan kecil. Ia juga biasanya menjadi orang pertama yang menenangkan pengantin saat panik, membantu komunikasi dengan WO atau keluarga, dan memastikan pengantin tidak lupa makan atau minum sebelum acara dimulai.
3. Flower girl

Flower girl biasanya merupakan anak perempuan atau remaja yang bertugas menaburkan bunga di sepanjang jalan masuk pengantin. Secara simbolis, ia melambangkan kepolosan dan kebahagiaan, tapi secara teknis tugasnya penting untuk menciptakan visual prosesi yang indah dan teratur. Flower girl perlu dilatih agar tahu kapan harus berjalan, sejauh apa menabur bunga, dan ke mana harus berdiri setelah selesai.
Dalam praktiknya, teman perempuan dewasa juga sering bertugas untuk mendampingi flower girl di belakang layar, memastikan gaunnya tidak terinjak, bunganya tidak tumpah sebelum waktu prosesi, dan anak tersebut tidak panik atau kabur karena grogi saat melihat banyak tamu.
4. Ring bearer
Ring bearer tidak selalu harus anak laki-laki, ternyata bisa juga anak perempuan atau remaja perempuan. Tugasnya adalah membawa kotak cincin menuju pengantin saat prosesi tertentu. Tanggung jawab ini terlihat sederhana, tetapi sangat krusial karena menyangkut simbol utama pernikahan.
Biasanya, teman perempuan dewasa bertugas mengawasi ring bearer sebelum acara, memastikan cincin aman, tidak dimainkan, dan dibawa pada waktu yang tepat. Jika ring bearer adalah anak kecil, tugas pendampingan menjadi penting agar anak tidak takut berjalan ke depan atau salah arah saat prosesi berlangsung.
5. Penjaga buku tamu
Teman perempuan biasanya juga dipilih untuk menjaga meja buku tamu karena dianggap ramah, telaten, dan komunikatif. Tugasnya bukan hanya duduk manis, tetapi menyambut tamu dengan senyum, mengarahkan mereka untuk menulis nama, memberi petunjuk lokasi duduk atau alur acara, serta membantu tamu lansia atau anak-anak yang kesulitan menulis.
Dalam beberapa konsep modern, penjaga buku tamu juga bertugas mengarahkan tamu ke photobooth atau suvenir setelah mengisi buku tamu. Mereka menjadi wajah pertama yang dilihat tamu sehingga memiliki peran penting dalam menciptakan kesan awal yang hangat.
6. Usherette
Usherette adalah versi perempuan dari usher, yaitu orang yang mengantar tamu ke tempat duduk. Biasanya tugas ini ditunjuk untuk teman-teman perempuan yang komunikatif dan hafal denah tempat duduk. Tugasnya meliputi membedakan tamu keluarga, tamu VIP, dan tamu umum, lalu mengantar mereka ke area yang sesuai. Ia juga membantu mengatur arus tamu agar tidak menumpuk di pintu masuk, terutama pada acara indoor atau akad dengan kapasitas terbatas. Selain itu, usherette sering menjadi tempat bertanya tamu tentang toilet, mushola, atau lokasi gift table.
7. Koordinator kecil di balik layar

Teman perempuan juga sering berperan sebagai asisten pribadi pengantin di luar tim WO resmi. Tugasnya meliputi memastikan jadwal makeup agar tidak molor, membantu pengantin berganti sepatu atau baju, menyiapkan air minum, snack kecil, dan obat pribadi, serta mengingatkan urutan acara.
Mereka juga menjadi penghubung cepat antara pengantin dan pihak keluarga atau WO jika ada perubahan mendadak. Peran ini penting karena pengantin biasanya terlalu sibuk atau gugup untuk mengurus hal-hal kecil, sementara detail kecil justru menentukan kenyamanan saat hari-H.
8. Penjaga meja suvenir atau hadiah
Teman perempuan bisa dipercaya menjaga meja suvenir atau hadiah karena dianggap lebih teliti dalam mencatat dan merapikan barang. Tugasnya adalah memastikan suvenir dibagikan sesuai alur, hadiah tidak tercecer, dan kotak amplop tetap aman.
Dalam beberapa acara, mereka juga mencatat nama pemberi hadiah besar agar mudah diingat saat pengantin ingin mengucapkan terima kasih. Selain itu, mereka membantu mengarahkan tamu yang bingung soal di mana meletakkan kado atau amplop.
9. Pendamping anak atau keluarga pengantin
Jika keluarga pengantin membawa anak kecil atau orang tua yang memerlukan perhatian khusus, teman perempuan bisa ditugaskan sebagai pendamping. Tugasnya adalah mengawasi anak agar tidak masuk area berbahaya, menemani orang tua saat berjalan, atau sekadar menjadi teman duduk saat menunggu acara. Peran ini terlihat sepele, tapi sangat membantu agar keluarga inti bisa fokus pada prosesi tanpa khawatir soal anak atau orang tua.
10. Penjaga photobooth atau aktivitas tamu
Dalam konsep modern, teman perempuan juga bisa ditugaskan untuk menjaga photobooth atau sudut aktivitas tamu, seperti signature board, polaroid corner, atau guest message. Tugasnya mengatur antrean, membantu tamu memakai properti foto, dan memastikan alat tetap rapi serta tidak rusak. Mereka juga bisa membantu mengambil foto tamu jika tidak ada fotografer khusus di area tersebut.
Cara membagi tugas

Jumlah teman perempuan yang bisa kamu mintai tolong mungkin terbatas sehingga setiap tugas yang ada harus dibagi dengan baik. Beberapa langkah berikut ini bisa kamu lakukan untuk membaginya.
1. Petakan semua kebutuhan acara
Langkah pertama adalah menuliskan dulu semua peran yang dibutuhkan di hari-H, baik yang terlihat, seperti bridesmaid, penjaga buku tamu, dan usherette maupun yang tidak terlihat, seperti asisten pengantin di balik layar, penjaga suvenir, atau pendamping anak.
Dengan daftar ini, kamu bisa melihat gambaran utuh bahwa acara pernikahan juga terdiri dari alur tamu, barang-barang penting, dan kenyamanan keluarga. Dari sini, pembagian tugas jadi lebih objektif karena berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar siapa yang paling dekat.
2. Sesuaikan kebutuhan dengan kepribadian masing-masing
Tidak semua teman cocok untuk tugas yang sama. Teman yang supel, murah senyum, dan tidak grogi bertemu orang baru cocok untuk penjaga buku tamu atau usherette. Teman yang teliti, rapi, dan tenang lebih cocok menjaga suvenir, hadiah, atau barang penting pengantin. Sementara itu, teman yang sangat dekat secara emosional dengan pengantin cocok menjadi bridesmaid inti atau asisten pribadi pengantin. Dengan menyesuaikan peran ini, tugas akan terasa lebih ringan dan hasilnya lebih maksimal karena mereka mengerjakan hal yang memang sesuai dengan sifat alaminya.
3. Bagi antara tugas simbolis dan teknis
Idealnya, satu orang tidak dibebani terlalu banyak tugas sekaligus, apalagi jika perannya bersifat simbolis seperti bridesmaid atau ring bearer pendamping. Misalnya, bridesmaid fokus pada pendampingan pengantin dan prosesi, sementara teman lain fokus pada hal yang lebih teknis seperti buku tamu, photobooth, atau suvenir. Jika satu orang diberi peran simbolis sekaligus teknis berat, ia akan sulit membagi perhatian saat acara berlangsung sehingga salah satu peran bisa saja tidak maksimal.
4. Buat struktur kecil seperti tim mini
Agar tidak semua keputusan menumpuk di pengantin, buat sistem sederhana seperti koordinator kecil, biasanya maid of honor atau teman paling dekat, tim depan terdiri dari penjaga buku tamu, usherette, photobooth, dan tim belakang yang terdiri dari asisten pengantin, penjaga suvenir, hadiah. Dengan pembagian ini, jika ada masalah, setiap orang tahu harus lapor ke siapa. Misalnya, jika buku tamu penuh, lapor ke koordinator. Jika pengantin butuh air minum, tim belakang yang bergerak. Struktur ini membuat acara terasa lebih terkontrol.
5. Pertimbangkan stamina dan kondisi fisik
Pembagian tugas juga harus mempertimbangkan beberapa kondisi, seperti siapa yang sedang hamil, memiliki anak kecil, atau mudah capek saat berdiri lama. Teman yang tidak kuat berdiri lama sebaiknya tidak ditempatkan di pintu masuk sepanjang acara. Sebaliknya, teman yang memiliki energi tinggi bisa ditempatkan di area dengan mobilitas tinggi seperti usherette atau photobooth. Hal ini penting agar tidak ada yang tumbang di tengah acara dan suasana tetap nyaman untuk semua orang.
6. Jangan dadakan
Setelah pembagian tugas ditentukan, sampaikan dengan jelas sejak jauh hari mengenai apa yang harus dilakukan, jam berapa harus datang, dan sampai kapan harus bertugas. Jangan hanya bilang, “Kamu nanti jaga buku tamu, ya,” tapi jelaskan juga, “Tugas kamu nanti menyambut tamu, minta mereka isi nama, lalu arahkan ke ruang resepsi.” Dengan penjelasan detail, teman tidak perlu bingung dan bisa mempersiapkan diri secara mental maupun teknis.
7. Komunikasikan dengan nada menghargai, bukan memerintah
Cara menyampaikan tugas sangat menentukan suasana. Gunakan nada yang menghargai, misalnya, “Aku butuh bantuan kamu buat jaga buku tamu karena kamu yang paling ramah,” bukan, “Tugas kamu jaga buku tamu.” Kalimat yang mengandung alasan dan apresiasi membuat teman merasa dipercaya, bukan disuruh. Cara menyampaikan merupakan hal yang penting agar mereka bisa menjalankan tugas dengan hati dan tidak merasa terpaksa.
Tak ada salahnya jika ingin meminta bantuan teman-teman perempuanmu untuk acara pernikahan. Jika meminta mereka dengan nada yang menghargai, tentunya mereka akan senang hati menjadi bagian dari hari bahagiamu. Untuk tips dan inspirasi seputar pernikahan lainnya, jangan lupa untuk selalu mengecek artikel-artikel bermanfaat di WeddingMarket, ya!
Cover | Fotografi: Faralljibrill Official