Pilih Kategori Artikel

Pertimbangan Saat Dijodohkan oleh Teman dan Cara Menolak Jika Tidak Cocok
Diskon dan Penawaran Eksklusif Menantimu!
Kunjungi WeddingMarket Fair 16 -18 Januari 2026
di Balai Kartini (Exhibition & Covention Center)

Saat mencapai usia tertentu dan masih single, muncul banyak tekanan dari sekitar supaya kita lekas menikah. Bahkan, tak jarang orang terdekat juga senang menjodoh-jodohkan dengan temannya yang lain. Niat ini akan berujung baik jika kamu juga memang sudah merasa siap untuk memiliki hubungan serius dengan seseorang dan terbuka terhadap perkenalan. Tidak ada salahnya jika kamu ingin mencoba, tapi sebaiknya ketahui dulu risikonya juga.

Jika merasa tidak yakin, kamu bisa, kok, menolak ‘perjodohan’ ini dan menyampaikannya dengan cara yang baik. Untuk membantumu membuat pertimbangan dan mengetahui cara menolak yang tidak menimbulkan konflik, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

Kelebihan menikah karena dijodohkan teman

Saat temanmu berniat menjodohkan, sebaiknya jangan langsung menolak. Bisa jadi ini adalah caramu bisa bertemu dengan jodoh terbaikmu. Berikut ini adalah beberapa kelebihan yang bisa saja kamu dapatkan dari metode ini. Simak selengkapnya, yuk!

1. Lebih terpercaya karena ada orang yang dikenal

wm_article_img
Foto: Pexels/Darina Belonogova

Ketika perjodohan datang dari seorang teman, terutama teman dekat yang mengenal kepribadian, nilai hidup, dan latar belakang kita, hubungan tersebut tidak dimulai dari nol yang benar-benar asing. Teman biasanya menjodohkan dengan niat baik, berdasarkan pengamatan mereka terhadap kecocokan karakter, gaya komunikasi, atau visi hidup yang mirip. 

Hal ini memberikan rasa aman di awal karena calon pasangan telah “melewati” satu filter sosial. Walaupun tidak menjamin kesempurnaan, setidaknya ada keyakinan bahwa orang tersebut bukan orang yang sembarangan dan ada pihak yang siap ditanya jika muncul keraguan di awal proses pendekatan.

2. Proses pengenalan lebih terarah dan serius

Berbeda dengan perkenalan dengan orang asing atau hubungan yang dimulai dari ketertarikan sesaat, perjodohan dari teman biasanya sejak awal sudah mengarah pada niat serius. Kedua belah pihak umumnya sudah mengetahui bahwa pertemuan ini bertujuan untuk melihat kecocokan menuju pernikahan, bukan sekadar mencoba-coba. Hal ini membuat komunikasi menjadi lebih jujur dan fokus, misalnya membahas nilai keluarga, rencana hidup, karier, dan pandangan tentang pernikahan. Bagi sebagian orang, terutama yang lelah dengan hubungan tanpa kejelasan, kondisi ini terasa lebih efisien dan kondisi emosionalnya lebih terjaga.

3. Lebih santai daripada dijodohkan keluarga

Perjodohan oleh teman akan terasa lebih santai dibandingkan perjodohan oleh orang tua atau keluarga besar. Jika di tengah proses ternyata tidak cocok, penolakan biasanya dapat disampaikan dengan lebih santai dan tanpa rasa sungkan berlebihan. Teman cenderung lebih memahami perasaan dan tidak memaksakan kehendak. Kedua pihak pun bisa memiliki ruang yang lebih untuk mengevaluasi kecocokan dengan jujur tanpa ada rasa tertekan oleh ekspektasi keluarga atau norma adat yang kaku.

4. Didukung sejak awal hubungan

Pasangan yang dijodohkan biasanya tidak merasa sendirian dalam menjalani fase pendekatan karena ada seseorang yang mengenal calon pasangan. Ada teman yang bisa menjadi penengah, tempat bertanya, atau bahkan mediator saat terjadi salah paham di awal hubungan. Dukungan sosial ini bisa membantu meredakan kecanggungan, memperlancar komunikasi, dan memberikan perspektif yang lebih objektif ketika emosi mulai bercampur. Dalam beberapa kasus, kehadiran teman justru membantu pasangan dalam membangun fondasi komunikasi yang lebih sehat.

Risiko menikah karena dijodohkan teman

wm_article_img
Foto: pexels/Jep Gambardella

Meskipun memiliki berbagai kelebihan, tetap ada risiko yang akan timbul yang bisa memengaruhi hubungan kalian berdua juga. Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Kadang kurang objektif karena perasaan tidak enak

Salah satu risiko terbesar adalah munculnya perasaan sungkan terhadap teman yang menjodohkan. Seseorang bisa saja bertahan dalam proses pendekatan atau bahkan melanjutkan ke pernikahan, bukan karena benar-benar yakin, tetapi karena tidak ingin mengecewakan atau merusak hubungan pertemanan. Perasaan tidak enak ini berbahaya jika membuat seseorang mengabaikan tanda-tanda ketidakcocokan yang seharusnya menjadi pertimbangan serius sebelum menikah. Pernikahan yang dijalani atas dasar sungkan cenderung rapuh ketika menghadapi konflik nyata.

2. Informasi yang diberikan bisa bias

Meskipun teman memiliki niat yang baik, sudut pandang mereka terhadap calon pasangan belum tentu sepenuhnya objektif. Teman biasanya melihat sisi terbaik seseorang di lingkungan sosial tertentu, tapi tidak selalu mengetahui bagaimana orang tersebut bersikap dalam sebuah hubungan yang lebih dekat, menghadapi konflik, atau mengambil tanggung jawab jangka panjang. Ketika ekspektasi dibangun dari cerita yang terlalu positif, kenyataan setelah menikah bisa terasa mengejutkan dan memicu kekecewaan.

3. Hubungan pertemanan bisa terganggu jika pernikahan bermasalah

Jika pernikahan yang berawal dari perjodohan teman mengalami konflik serius atau bahkan berujung perceraian, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasangan, tetapi juga oleh lingkar pertemanan. Ada kemungkinan muncul rasa saling menyalahkan, canggung, atau bahkan putusnya hubungan dengan teman yang dulu menjadi perantara. Hal ini bisa mempersempit ruang sosial dan membuat proses pemulihan emosional menjadi lebih rumit karena melibatkan banyak pihak yang saling terhubung.

4. Waktu perkenalan yang biasanya relatif singkat

Perjodohan dari teman terkadang membuat proses pengenalan berjalan terlalu cepat karena semua pihak merasa yakin bahwa ada teman yang sudah menyaringnya”. Akibatnya, pasangan bisa saja melewatkan fase eksplorasi karakter secara mendalam, seperti cara menghadapi stres, perbedaan nilai, atau kebiasaan sehari-hari. Tanpa cukup waktu untuk benar-benar mengenal satu sama lain, risiko konflik setelah menikah menjadi lebih besar karena banyak aspek penting baru terungkap ketika sudah hidup bersama.

Cara menolak perjodohan tanpa merusak hubungan

wm_article_img
Foto: Pexels/cottonbro studio

Jika kamu sudah bersikap terbuka dan ternyata tetap merasa tidak cocok dengan orang yang dijodohkan, kamu bisa menolaknya. Jangan lupa untuk menyampaikan kepada temanmu dengan cara yang baik. Berikut ini beberapa cara yang bisa kamu lakukan.

1. Menolak dengan jujur, jelas, dan tidak bertele-tele

Cara paling aman untuk menjaga hubungan adalah menyampaikan penolakan secara jujur dan langsung tanpa membuat alasan yang berputar-putar atau harapan palsu. Penolakan yang terlalu samar justru bisa menimbulkan salah paham dan memperpanjang proses yang tidak perlu. Dengan mengatakan bahwa kamu sudah mempertimbangkan dengan serius tetapi merasa belum atau tidak cocok, kamu menunjukkan kedewasaan dan menghargai waktu semua pihak. Kejujuran yang disampaikan dengan bahasa yang lembut jauh lebih menyelamatkan hubungan dibandingkan kebohongan kecil yang akhirnya terbongkar.

2. Fokus pada perasaan dan keputusan pribadi

Agar tidak melukai perasaan, penting untuk menekankan bahwa keputusan menolak berasal dari kebutuhan, kesiapan, atau kondisi pribadimu, bukan karena ada yang “kurang” dari calon pasangan. Kalimat yang berpusat pada “aku” seperti, “Aku merasa belum siap,” atau “Aku tidak merasakan kecocokan yang aku butuhkan,” akan terdengar lebih aman dibandingkan menunjuk sifat atau kebiasaan pihak lain. Dengan begitu, penolakan tidak berubah menjadi kritik personal yang bisa menyisakan luka atau rasa tersinggung.

3. Hargai niat baik orang yang menjodohkan

Salah satu kunci menjaga hubungan adalah mengakui dan menghargai niat baik teman atau pihak yang menjodohkan. Menyampaikan terima kasih atas perhatian, usaha, dan kepedulian mereka akan membuat penolakan terasa lebih manusiawi dan tidak terasa dingin. Saat orang merasa niat baiknya diakui, mereka cenderung lebih mudah menerima keputusanmu meskipun hasilnya tidak sesuai harapan. Penghargaan ini juga menegaskan bahwa hubungan pertemanan tetap penting dan tidak terancam oleh keputusan tersebut.

4. Sampaikan di waktu yang tepat

Menolak perjodohan sebaiknya dilakukan dalam suasana yang tenang dan privat, bukan di tengah keramaian atau melalui perantara yang bisa memicu kesalahpahaman. Waktu yang tepat akan memberi ruang bagi lawan bicara untuk mencerna tanpa adanya tekanan emosional. Penyampaian yang tergesa-gesa atau dilakukan lewat pesan singkat berisiko terdengar dingin atau tidak peduli. Kamu bisa menunjukkan rasa hormat dan empati terhadap perasaan semua pihak yang terlibat dengan cara penyampaian yang tepat.

5. Tegas tapi tetap hangat

Menjaga hubungan dengan teman bukan berarti membuka celah akan bujukan atau negosiasi tiada akhir. Setelah menyampaikan keputusan, penting untuk bersikap konsisten agar tidak terkesan seolah memberikan harapan baru. Ketegasan yang dibalut sikap hangat akan membantu orang lain memahami bahwa keputusanmu sudah final, tetapi hubungan baik tetap bisa dijaga. Sikap ini mencegah situasi canggung di kemudian hari dan justru melindungi semua pihak dari kekecewaan yang berlarut-larut.

6. Jangan merasa perlu menjelaskan secara berlebihan

Memberi penjelasan secukupnya jauh lebih sehat daripada merinci semua alasan secara detail. Penjelasan berlebihan biasanya justru membuka peluang adanya konflik baru, pembelaan diri, atau salah paham. Kamu berhak menyimpan sebagian pertimbangan sebagai ranah pribadi. Dengan begitu, kamu tetap bisa menghargai dirimu sendiri dan tidak membuat orang lain merasa dihakimi atau diposisikan sebagai pihak yang salah.

7. Tetaplah bersikap normal

Sikap setelah menolak sangat menentukan apakah hubungan kalian bisa tetap baik. Sikap ramah dan tidak menghindar berlebihan menunjukkan bahwa penolakan yang kamu lakukan tidak dimaksudkan untuk menjauh. Menghindari topik sensitif memang perlu, tetapi menjaga interaksi yang wajar akan membantu mencairkan suasana dan mengembalikan dinamika hubungan secara perlahan. Konsistensi sikap ini memberi sinyal bahwa keputusan pribadimu tidak harus merusak relasi sosial.

8. Terimalah bahwa tidak semua orang langsung merasa nyaman

Meskipun sudah menolak dengan cara terbaik, tetap ada kemungkinan orang merasa kecewa atau canggung untuk sementara waktu. Kamu perlu memahami hal ini untuk membantumu bersikap lebih sabar dan tidak defensif. Jangan lupa bahwa memberi ruang bagi perasaan orang lain justru akan memperbesar peluang hubungan pulih dengan sehat. Menjaga hubungan bukan berarti mengendalikan reaksi semua orang. Yang terpenting adalah memastikan bahwa kamu sudah bersikap jujur, hormat, dan bertanggung jawab atas keputusanmu.

Ketika seorang teman memiliki niat baik untuk menjodohkanmu dengan seseorang, ia mungkin melakukannya setelah memikirkan berbagai pertimbangan. Oleh sebab itu, tak masalah jika ingin  mencoba berkenalan. Namun, jika kamu merasakan ketidakcocokan, jangan dipaksakan. Kamu bisa mengomunikasikannya dengan baik-baik.

Untuk tips seputar pernikahan lainnya, jangan lupa untuk mengecek artikel-artikel bermanfaat di WeddingMarket, ya!


Cover | Foto: Pexels/cottonbro studio

Diskon dan Penawaran Eksklusif Menantimu!
Kunjungi WeddingMarket Fair 16 -18 Januari 2026
di Balai Kartini (Exhibition & Covention Center)

Article Terkait

Loading...

Article Terbaru

Loading...

Media Sosial

Temukan inspirasi dan vendor pernikahan terbaik di Sosial Media Kami

Loading...