Pilih Kategori Artikel

6 Resiko Menikah di Usia Muda. Pertimbangkan Dahulu Sebelum Memutuskan!

Pernikahan adalah hal yang sangat penting didalam kehidupan dan perlu dipikirkan secara matang. Karena momen diharapkan hanya terjadi sekali dalam seumur hidup, sehingga harus dijaga hingga maut memisahkan. Pernikahan juga tidak boleh dilakukan sembarangan atau hanya karena tergesa-gesa. Diperlukan pertimbangan yang luar biasa untuk melakukan pernikahan. Segala aspek yang berkaitan dengannya, harus dipikirkan menggunakan akal sehat.

Batas minimal usia untuk melakukan pernikahan di Indonesia adalah 19 tahun, baik untuk pria maupun wanita. Jika ada istilah menikah muda, maka maksudnya adalah pernikahan yang dilakukan pada usia kurang dari 21 tahun. Kejadian nikah muda sering kali terjadi di negeri kita, beberapa diantaranya memandang nikah muda sebagai hal yang positif karena dapat menghindari perbuatan zina. Beberapa orang berpendapat supaya lebih cepat memiliki anak.

Beberapa orang tua menjodohkan anak perempuannya yang masih muda dengan lelaki dewasa yang memiliki pendapatan yang banyak, dengan alasan supaya anaknya memiliki kehidupan yang lebih mudah dan layak setelah menikah. Beberapa orang tua juga menikahkan anaknya supaya tidak selalu menjadi beban orang tua dan memiliki kehidupannya sendiri 

Hal-hal seperti ini tidak sepenuhnya benar dan juga tidak sepenuhnya salah. Meskipun menikah di usia muda memiliki dampak positif, tentunya nikah muda juga memiliki banyak dampak negatif. Simaklah beberapa dampak negatif atau resiko menikah di usia muda berikut ini!

1. Resiko pada psikologis

wm_article_img
Fotografi: Pexels - Rodnae Productions

Riset menyebutkan bahwa menikah pada usia muda dapat menyebabkan trauma dan krisis percaya diri, hal ini disebabkan karena emosi yang masih labil dan pola pikir yang belum matang. Dimana hal ini juga menyebabkan kepribadiannya cenderung tertutup, mudah marah dan cepat putus asa. Menikah di usia muda juga menyebabkan beberapa gangguan kognitif seperti tidak berani mengambil keputusan dan mengalami kesusahan dalam memecahkan masalah.

Studi juga menyatakan bahwasannya anak muda yang dijodohkan sangat berpotensi mengalami gangguan mental seperti gangguan kecemasan, stres, dan depresi. Pada umumnya, kondisi ini terjadi karena ketidaksiapan lelaki atau wanita dalam menjalani tanggung jawab dan beban yang harus diterima sebagai seorang suami atau istri.

Ketidaksiapan mental pasangan muda dalam menjalani kehidupan rumah tangga juga dapat menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Selain istri yang menjadi korban, anak dalam pernikahan muda pun juga akan menjadi korban jika terjadi kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini sudah sering terjadi pada pasangan muda di negeri kita.

2. Resiko pada kesehatan fisik

wm_article_img
Fotografi: Pexels - Sora Shimazaki

Kehamilan di usia muda sangatlah beresiko bagi kesehatan ibu dan bayi, hal ini dikarenakan tubuh remaja yang sebenarnya belum siap untuk hamil dan melahirkan. Wanita yang menikah di usia muda masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan, yang mana ada resiko tubuhnya akan terganggu jika ia hamil.

Riset menyebutkan bahwa ibu yang melahirkan di usia muda berisiko mengalami preeklamsia karena memungkinkan seorang ibu mengalami tekanan darah tinggi, maupun anemia yang disebabkan kurangnya zat besi yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Janin yang dilahirkan pun beresiko terlahir prematur, stunting, atau berat badan lahir yang rendah (BBLR) karena sebenarnya ia belum siap dilahirkan.

Wanita yang melahirkan di usia muda juga berpotensi mengalami kematian saat persalinan. Hal ini dapat terjadi karena tubuhnya yang belum matang dan belum siap secara fisik untuk melahirkan

3. Resiko pada perekonomian

wm_article_img
Fotografi: Pexels - Ahsan Jaya

Bukan hanya beresiko pada fisik dan psikologi, menikah di usia muda juga beresiko menimbulkan masalah ekonomi atau masalah keuangan. Pada umumnya, hal ini terjadi pada pria yang secara mental belum siap menanggung nafkah dan belum siap berperan sebagai suami atau ayah.

Pasangan yang menikah muda secara otomatis pendidikannya belum maksimal, sedangkan di negeri kita sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan dengan keterbatasan pendidikan. Kondisi ini menyebabkan pendapatan keuangan sulit untuk ditingkatkan. Kurangnya pengalaman akan mengurangi etos kerja mereka, pasangan muda juga belum memiliki daya nalar yang kuat untuk membuat tujuan ekonomi keluarga yang dapat dicapai dengan cara menabung.

Pasangan yang menikah muda juga rentan menjadi keluarga miskin karena rendahnya pendidikan yang didapat, sehingga akses kerja yang didapat juga rendah. Ketidaksiapan finansial pada pasangan muda menyebabkan lahirnya keluarga miskin, apalagi jika pasangan tersebut langsung hamil dan punya anak. Kebutuhan keluarga akan semakin banyak dan mendesak, sedangkan ekonomi yang didapat tidak meningkat.

4. Resiko pada hubungan sosial

wm_article_img
Fotografi: Into Photo

Pernikahan di usia muda, bisa dibilang akan merampas masa muda mereka. Masa muda yang seharusnya dipenuhi dengan bermain dan belajar untuk mengejar cita-cita dan mencapai masa depan yang lebih baik, malah ditukar dengan beban mengurus rumah tangga dan tanggung jawab lainnya.

Kebanyakan dari mereka yang menikah di usia muda memutus pendidikannya, karena harus menjalani tanggung jawab sebagai suami atau istri setelah menikah. Hal ini juga bisa menyebabkan berkurangnya keharmonisan dalam rumah tangga.

5. Resiko mengalami kekerasan

wm_article_img
Foto: Pexels - Timur Weber

Pasangan yang menikah muda sangat beresiko mengalami kekerasan, karena emosi mereka yang kurang mapan jika dibandingkan dengan orang-orang berusia 25 tahun ke atas yang cenderung sudah memiliki emosi yang stabil dan cenderung dapat mengendalikan emosi mereka sendiri.

Sebuah studi juga menyebutkan bahwa wanita yang menjalani pernikahan dini sering kali mendapatkan kekerasan dari pasangannya. Karena usia yang masih muda untuk menjalani rumah tangga, membuat pasangan belum mampu berpikir secara dewasa.

Pasangan nikah muda cenderung memiliki emosional yang belum stabil, sehingga mereka mudah marah dan sering egois. Kondisi ini menyebabkan masalah yang seharusnya diselesaikan dengan cara komunikasi dan diskusi, justru malah dengan cara kekerasan, baik secara fisik maupun verbal.

6. Resiko perceraian

wm_article_img
Fotografi: Pexels - Rodnae Productions

Studi  menunjukkan bahwa pasangan yang menikah di usia kurang dari 20 tahun memiliki potensi perceraian yang lebih tinggi dibandingkan pasangan yang menikah di usia 25 tahun ke atas. Hal ini biasanya terjadi karena pasangan yang menikah muda tidak sanggup menjalani berbagai beban dan tanggung jawab dalam rumah tangga, terutama pada masalah keuangan.

Menikah di usia muda tidaklah dilarang, namun BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) menilai bahwa usia yang ideal untuk menikah adalah 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk pria. Usia tersebut dinilai ideal untuk berumah tangga karena sudah mapan secara biologis maupun psikologis, juga mampu bertindak dewasa dalam menghadapi masalah rumah tangga.

Itulah beberapa resiko dari menikah di usia muda yang harus kamu ketahui jika kamu ingin melakukannya, karena segala hal pastinya memiliki sifat baik dan buruknya. Untuk kamu yang memiliki niatan melakukan pernikahan di usia muda, akan lebih baik jika dipikirkan secara matang terlebih dahulu dan meminta pendapat kepada yang lebih tua, karena menikah di usia tidak semudah yang dibayangkan.

Kunjungi WeddingMarket Festival Gratis!
Menangkan Berbagai Hadiah Menarik
Article Terkait

Loading...

Article Terbaru

Loading...

Media Sosial

Temukan inspirasi dan vendor pernikahan terbaik di Sosial Media Kami

Loading...