Acara pernikahan adalah hasil dari setiap keputusan yang kamu buat selama persiapan yang biasanya berlangsung berbulan-bulan. Sayangnya, karena takut salah mengambil keputusan, banyak pengantin yang merasa bingung ketika dihadapkan dengan berbagai pilihan yang ada. Jika kamu adalah seseorang yang perfeksionis, overthinker, dan takut mengecewakan siapapun, fase persiapan pernikahan ini akan terasa menyeramkan.
Tenang, dengan pendekatan yang tepat, kamu akan tetap bisa mendapatkan hasil terbaik walaupun mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan. Beberapa cara ini bisa kamu coba, simak selengkapnya, yuk!
1. Ubah cara pandang: Kesulitan mengambil keputusan bukan berarti kamu tidak siap menikah
Langkah paling awal dan paling penting adalah mengubah cara pandang terhadap dirimu sendiri. Banyak calon pengantin yang merasa bersalah karena dianggap “lama”, “ribet”, atau “kebanyakan mikir” saat persiapan pernikahan. Padahal, sulit mengambil keputusan justru muncul karena kamu memiliki rasa tanggung jawab yang besar dan ingin hasil yang terbaik. Ingat, ya! Hanya karena kamu kesulitan membuat keputusan bukan berarti kamu sedang tidak siap menikah. Kamu hanya ingin memastikan bahwa keputusan yang diambil tidak asal-asalan. Cobalah untuk mengingat hal ini supaya bisa berhenti memusuhi diri sendiri dan mulai fokus mencari strategi yang sesuai dengan karaktermu.
2. Kenali pola keraguanmu agar tidak berulang saat mengambil keputusan
Setiap orang memiliki pola keraguan yang berbeda. Ada yang ragu karena takut menyesal, ada yang ragu karena takut dibandingkan dengan orang lain, dan ada pula yang ragu karena terlalu banyak mendengar pendapat sekitar. Dalam persiapan pernikahan, pola ini akan muncul berulang-ulang jika tidak disadari. Coba refleksikan, setiap kali kamu bimbang, apa yang sebenarnya kamu takutkan? Ketika kamu mengenali polanya, kamu bisa menghentikan siklus ini sebelum berkembang terlalu jauh dan menguras energi.
3. Tetapkan batas sejak awal agar pilihan tidak kemana-mana
Salah satu kesalahan terbesar orang yang susah mengambil keputusan adalah memulai persiapan tanpa batasan yang jelas. Padahal, keputusan besar seperti tanggal pernikahan, estimasi jumlah tamu, dan kisaran anggaran adalah fondasi utama. Tanpa fondasi ini, setiap pilihan terasa sangat membingungkan. Dengan batas yang jelas, kamu tidak perlu mempertimbangkan semua kemungkinan. Otakmu akan bekerja lebih efisien karena tahu mana pilihan yang paling memungkinkan dan mana yang sebaiknya diabaikan.
4. Berhenti membuka terlalu banyak opsi karena tidak semua pilihan perlu dicoba
Dalam era media sosial, pilihan seakan tidak ada habisnya. Semua venue terlihat cantik, semua dekorasi tampak menarik, dan semua vendor terlihat profesional. Untuk si susah bikin keputusan, kondisi ini justru memperparah overthinking. Solusinya bukan mencari lebih banyak referensi, tapi justru membatasi. Pilih maksimal tiga sampai lima opsi terbaik, lalu berhenti mencari. Semakin sedikit opsi yang kamu miliki, semakin ringan beban mentalmu untuk menentukan pilihan akhir.
5. Gunakan alat bantu visual dan tertulis untuk meredam emosi
Ketika semuanya hanya ada di kepala, emosi cenderung mendominasi. Oleh karena itu, untuk membantu memecahnya, kamu bisa menuangkan pilihan ke dalam bentuk tertulis, seperti tabel perbandingan atau daftar kelebihan dan kekurangan. Cara ini membuat keputusan terasa lebih objektif dan tidak terlalu menakutkan. Kamu bisa melihat bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi yang wajar dan tidak ada satu pun yang sepenuhnya buruk. Bagi orang yang sulit memutuskan, visualisasi ini bisa menjadi jembatan menuju keputusan yang lebih mantap.
6. Terapkan prinsip “cukup baik” agar tidak terjebak perfeksionisme
Perfeksionisme adalah musuh utama dalam persiapan pernikahan. Mengejar yang paling sempurna hanya akan membuatmu kehilangan waktu, tenaga, dan ketenangan. Padahal, pernikahan bukan ajang pembuktian siapa yang memiliki acara paling ideal. Pilihan yang “cukup baik” maksudnya adalah pilihan yang memenuhi kebutuhan utama, tidak memberatkan secara finansial, dan yang masih memungkinkan kamu untuk menikmati hari pernikahan tanpa stres berlebihan. Ketika kamu menerima konsep ini, proses mengambil keputusan akan terasa jauh lebih ringan.
7. Tentukan deadline agar keraguan tidak berlarut-larut
Tanpa batas waktu, keraguan akan berkembang tanpa arah. Oleh sebab itu, kamu perlu menetapkan tenggat pribadi yang realistis untuk setiap keputusan. Walau biasanya terdengar menyeramkan, deadline ini akan menjadi alat bantu. Ketika waktu semakin mendekat, fokusmu akan beralih dari “bagaimana kalau ada yang lebih baik?” menjadi “mana yang paling masuk akal saat ini?” Keputusan yang diambil aakan terasa lebih tegas dan tidak terlalu emosional.
8. Bagi peran dengan pasangan
Mengurus pernikahan berdua seharusnya membuatmu merasa lebih ringan, bukan semakin bingung. Untuk itu, sebaiknya bagi peran secara jelas. Siapa yang memegang urusan vendor, siapa yang fokus pada keluarga, dan siapa yang mengurus detail teknis. Kamu tidak perlu memikirkan semuanya sendiri. Bagi si sulit membuat keputusan, pembagian ini sangat membantu karena bisa mengurangi rasa kewalahan dan tekanan untuk selalu membuat keputusan terbaik.
9. Jangan biarkan terlalu banyak opini menguasai keputusanmu
Masukan dari orang tua, keluarga besar, dan teman memang tidak bisa dihindari. Namun, terlalu banyak opini justru bisa membuatmu kehilangan suara sendiri. Belajarlah menyaring masukan berdasarkan relevansi dan pengalaman, bukan sekadar siapa yang paling vokal. Ingat, pernikahan ini kamu yang menjalani, bukan mereka. Ketika kamu bisa memisahkan mana saran dan mana tekanan, keputusan akan terasa lebih jujur dan sesuai dengan kebutuhanmu.
10. Percayakan hal teknis pada profesional
Tidak semua keputusan harus kamu ambil sendiri. Wedding organizer, wedding planner, dan vendor yang berpengalaman sudah terbiasa menghadapi berbagai karakter calon pengantin, termasuk yang sulit memutuskan. Mereka bisa menyederhanakan pilihan dan memberikan rekomendasi berdasarkan pengalaman selama ini. Kamu bisa mendelegasikan hal teknis supaya bisa memberi ruang pada dirimu sendiri untuk fokus pada makna pernikahan alih-alih hanya detail acaranya.
11. Latih dirimu untuk percaya kepada keputusan yang sudah dibuat
Setelah keputusan diambil, tantangan berikutnya adalah berhenti meragukannya. Terus mengulang pertanyaan “bagaimana kalau tadi pilih yang lain?” hanya akan menguras energi dan kebahagiaan. Ingatkan dirimu bahwa keputusan tersebut telah diambil dengan pertimbangan terbaik yang kamu miliki saat itu. Belajar mempercayai keputusan sendiri adalah bagian penting dari proses pendewasaan menjelang pernikahan.
12. Ingat ada kehidupan yang harus dipikirkan setelah acara
Pada akhirnya, pernikahan bukan tentang venue, dekorasi, atau konsep yang paling sempurna. Semua itu hanyalah sarana. Tujuan utamanya adalah membangun kehidupan bersama pasangan setelahnya. Ketika kamu mulai merasa terlalu terjebak dalam detail dan keraguan, tarik napas dan ingat kembali alasan kamu menikah. Perspektif ini akan membantu mengecilkan hal-hal yang tidak terlalu penting dan mempermudah pengambilan keputusan.
Contoh studi kasus
Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut ini adalah beberapa contoh kasus yang bisa kamu simak.
1. Sulit memilih venue
Seorang calon pengantin sudah melakukan survei ke banyak venue dan sebenarnya telah menemukan beberapa yang sesuai. Namun, setiap kali hampir memutuskan, ia kembali ragu karena membandingkan dengan venue lain yang terlihat lebih menarik di media sosial. Ketakutan terbesar yang ia rasakan adalah menyesal di kemudian hari jika ternyata ada pilihan yang lebih baik.
Solusi:
Batasi pilihan maksimal tiga venue yang paling sesuai dengan kebutuhan utama dari segi lokasi, kapasitas, dan anggaran. Hentikan pencarian referensi baru setelah itu. Gunakan prinsip “paling sesuai” bukan “paling indah”, lalu tetapkan deadline untuk mengunci satu pilihan.
2. Konsep pernikahan tidak pernah final
Seorang calon pengantin sering mengganti konsep pernikahan karena merasa setiap konsep memiliki kelebihan masing-masing. Setelah memilih satu konsep, ia kembali ragu karena takut terlihat biasa atau tidak relevan di masa depan. Akibatnya, proses persiapan berjalan lambat dan vendor kesulitan menyesuaikan.
Solusi:
Pilih satu konsep utama sebagai kerangka besar, lalu biarkan detailnya fleksibel. Ingat bahwa konsep pernikahan hanya akan menjadi panduan, bukan aturan kaku yang wajib diterapkan dengan saklek. Fokus pada kenyamanan dan kesesuaian dengan karakter, bukan pada keunikan semata.
3. Terlalu banyak mendengar pendapat keluarga
Seorang calon pengantin melibatkan banyak anggota keluarga dalam setiap keputusan. Setiap orang memberikan saran berbeda sehingga ia merasa bingung dan takut mengecewakan siapa pun. Hal ini membuatnya menunda keputusan dan merasa tertekan secara emosional.
Solusi:
Batasi pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan. Libatkan keluarga inti untuk keputusan besar, sementara detail lain bisa diputuskan bersama pasangan. Dengarkan masukan sebagai pertimbangan, bukan kewajiban untuk diikuti semuanya.
4. Ragu saat menentukan anggaran
Seorang calon pengantin merasa dilema dalam menentukan budget pernikahan. Ia takut jika terlalu hemat acaranya terasa kurang layak, tetapi juga takut menyesal jika mengeluarkan biaya terlalu besar. Karena ragu, ia terus menunda booking vendor.
Solusi:
Tentukan batas maksimal anggaran sejak awal dan buat prioritas pos yang paling penting. Gunakan prinsip memilih vendor yang aman secara finansial. Jangan membandingkan dengan standar orang lain. Batasan ini akan membantumu membuat keputusan yang terasa lebih aman dan terkontrol.
5. Sulit percaya pada keputusan sendiri
Seorang calon pengantin sudah memilih vendor dan konsep, tetapi terus meragukannya setelah melihat pilihan orang lain. Ia sering membandingkan dan mempertanyakan keputusannya sendiri meskipun tidak ada masalah yang benar-benar terjadi.
Solusi:
Hentikan kebiasaan membandingkan setelah keputusan dikunci. Ingatkan diri bahwa keputusan sudah diambil berdasarkan pertimbangan terbaik saat itu. Latih diri untuk mempercayai proses dan fokus pada langkah berikutnya, bukan malah mengulang keputusan lama.
6. Terlalu lama memikirkan detail kecil
Seorang calon pengantin menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan hal-hal kecil seperti warna detail, bentuk suvenir, atau susunan lagu. Akibatnya, energi mental habis dan keputusan besar justru tertunda.
Solusi:
Bedakan keputusan krusial dan keputusan minor. Untuk detail kecil, gunakan batas waktu yang lebih singkat dan segera lanjutkan ke tahap berikutnya. Simpan energi mental untuk keputusan yang benar-benar berdampak besar.
Acara pernikahan memang merupakan salah satu momen terbesar dalam hidup. Tak heran jika kamu ingin memberikan yang terbaik kepada para tamu yang datang. Namun, kamu bisa melakukan beberapa tips tersebut untuk membuat keputusan yang terbaik. Untuk membantumu membuat keputusan, jangan lupa menggandeng vendor-vendor yang sudah berpengalaman dan akan membantumu membuat keputusan. Daftarnya bisa kamu cek di sini.
Cover | Foto: Pexels/ANTONI SHKRABA production