Pernahkan kamu mendengar, “Something old, something new, something borrowed, and something blue? Usai mengabarkan pernikahannya dengan Gerald Situmorang pada 18 Januari, Ayushita mengunggah sebuah foto di Instagram disertai caption tersebut. Pada foto, nampak ia mengenakan pakaian putih dengan warna biru yang menonjol pada sepatu dan buket bunga yang dibawanya.
Kalimat tersebut terasa menarik karena berima. Namun, ternyata kalimat ini merupakan sebuah tradisi, lo. Lalu, sebenarnya apa itu arti dari kalimat yang berima tersebut? Apakah tradisi pernikahan ini juga lazim diterapkan di pernikahan modern Indonesia? Nah, untuk mengetahui selengkapnya, simak penjelasan berikut ini, yuk!
Sejarah
Tradisi “Something old, something new, something borrowed, something blue” berasal dari Inggris abad ke-19 dan tercatat dalam sajak populer era Victoria dengan kalimat yang lebih panjang, yaitu “Something old, something new, something borrowed, something blue, and a sixpence in her shoe.” Sajak ini lahir dari budaya masyarakat yang percaya pada simbol dan takhayul ringan dalam pernikahan sebagai momen penting yang menentukan masa depan perempuan.
Awalnya, benda-benda tersebut dipercaya melindungi pengantin dari nasib buruk dan membawa keberuntungan. Something old melambangkan keterikatan dengan keluarga dan masa lalu, something new menandai awal kehidupan baru, something borrowed melambangkan kebahagiaan yang dibagikan dari orang yang rumah tangganya bahagia, dan something blue mewakili kesetiaan dan kemurnian cinta. Bagian sixpence in her shoe melambangkan harapan kemakmuran, tetapi kemudian ditinggalkan karena kurang praktis.
Seiring penyebaran budaya Inggris ke negara lain, tradisi ini bertahan dalam empat unsur utamanya dan berubah makna dari kepercayaan mistis menjadi simbol romantis. Kini, tradisi tersebut dipahami sebagai cara menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu momen pernikahan yang bermakna.
Masing-masing contoh
Untuk mengetahui penjelasan yang lebih lengkap dan contoh dari masing-masing elemen ini, berikut ini adalah penjelasannya.
1. Something old
Something old biasanya berupa benda yang sudah dimiliki sebelumnya atau diwariskan oleh keluarga dan memiliki nilai emosional atau sejarah. Contohnya adalah perhiasan warisan seperti cincin, kalung, atau gelang milik ibu atau nenek yang pernah dipakai saat menikah. Lebih dari sekadar aksesori, benda ini menjadi simbol kesinambungan generasi dan doa restu keluarga. Pengantin seakan membawa cerita cinta keluarga terdahulu ke dalam pernikahannya sendiri.
Contoh lainnya:
- Kerudung atau veil lama, misalnya veil ibu yang diperbarui sedikit agar cocok dengan gaun modern. Barang ini melambangkan bahwa tradisi keluarga tetap hidup meskipun zaman berubah.
- Kain atau kebaya lama, seperti kain batik keluarga atau kebaya peninggalan nenek yang disesuaikan ukurannya. Baju ini menggabungkan nilai budaya, sejarah keluarga, dan momen sakral pernikahan.
- Jam tangan atau bros lama, yang dulu sering dipakai pada acara penting keluarga. Selain simbolik, benda ini juga praktis dan bisa dipakai kembali setelah pernikahan.
2. Something new
Something new biasanya adalah barang yang khusus dibeli atau dibuat untuk hari pernikahan dan belum pernah dipakai sebelumnya. Yang paling umum tentu saja gaun pengantin atau kebaya pengantin baru karena pakaian ini melambangkan awal kehidupan baru sebagai pasangan suami istri. Mengenakan sesuatu yang baru berarti membuka lembaran baru dengan harapan yang segar dan penuh optimisme.
Contoh lainnya:
- Sepatu pengantin baru melambangkan perjalanan hidup baru bersama pasangan. Secara simbolis, langkah pertama dalam sepatu baru berarti memulai fase baru dengan kesiapan dan percaya diri.
- Perhiasan baru, seperti anting atau kalung yang dibeli khusus untuk hari pernikahan sering dianggap sebagai hadiah untuk diri sendiri atau hadiah dari pasangan sehingga memiliki makna emosional ganda.
- Tas kecil (clutch) atau aksesori rambut baru yang tidak terlalu mencolok tetapi memiliki peran penting dalam melengkapi tampilan dan menjadi simbol “hal baru” dalam hidup pengantin.
3. Something borrowed
Something borrowed biasanya dipinjam dari orang terdekat yang memiliki pernikahan bahagia dengan harapan kebahagiaan dan keharmonisan mereka ikut “menular” kepada pengantin. Contohnya adalah anting atau kalung milik kakak atau sahabat yang sudah menikah bahagia. Ketika dipakai di hari pernikahan, benda ini menjadi sebuah simbol dukungan emosional dan doa dari orang tersebut.
- Hairpiece atau tiara kecil milik sahabat yang dulu dipakai saat menikah melambangkan persahabatan dan berbagi momen bahagia.
- Handkerchief atau saputangan milik ibu atau bibi yang sudah lama menikah biasanya memiliki cerita sentimental, misalnya dipakai saat momen haru pernikahan mereka.
- Bros atau pin hijab milik saudara perempuan yang memiliki rumah tangga harmonis juga bisa dipinjam. Selain simbolis, benda kecil ini juga praktis dan bisa langsung dikembalikan setelah acara.
4. Something blue
Something blue melambangkan kesetiaan, kejujuran, dan kemurnian cinta. Warna biru dulu dianggap sebagai warna yang merepresentasikan ketulusan dan stabilitas dalam hubungan. Contohnya bisa sangat fleksibel dan tidak harus terlihat jelas oleh tamu, misalnya pita biru kecil yang dijahit di bagian dalam gaun atau kebaya. Benda ini menjadi detail rahasia yang hanya diketahui pengantin, tetapi penuh makna.
Contoh lain:
- Sepatu biru atau sol sepatu berwarna biru, cocok untuk pengantin yang ingin tampil unik tapi tetap mengikuti tradisi.
- Nail art biru pastel atau biru lembut yang tetap elegan dan tidak mengganggu keseluruhan tampilan.
- Bordiran nama pasangan dengan benang biru di dalam gaun atau kerudung sehingga warna biru menjadi simbol kesetiaan yang menyatu dengan identitas pasangan.
Cara menerapkan di pernikahan modern
Jika kamu bertanya-tanya apakah tradisi ini masih diterapkan di pernikahan modern, jawabannya masih, tapi dengan beberapa penyesuaian. Pun, tradisi ini tidak menjadi kewajiban, melainkan sebagai simbol saja.
1. Tentukan apakah mau terlihat atau tersembunyi
Dalam pernikahan modern, kamu tidak wajib menampilkan keempat unsur ini secara blak-blakan ke tamu. Banyak pengantin memilih menjadikannya detail tersembunyi di dalam busana atau aksesori pribadi. Misalnya pita biru di bagian dalam gaun, bros pinjaman di balik buket, atau perhiasan warisan yang hanya dipakai saat akad. Cara ini cocok untuk konsep minimalis, modern elegant, atau adat lain yang memiliki aturan busana ketat. Dengan begitu, kamu tetap bisa menjalankan tradisi tanpa mengganggu estetika dan pakem acara.
2. Padukan dengan busana pengantin
Cara paling praktis untuk menerapkan tradisi ini adalah melalui pakaian dan aksesori karena sudah pasti akan dipakai di hari-H.
- Something old bisa berupa kain keluarga, kebaya ibu, atau perhiasan lama.
- Something new biasanya otomatis terpenuhi lewat gaun, sepatu, atau veil baru.
- Something borrowed bisa berupa anting sahabat, bros ibu, atau hairpiece pinjaman.
- Something blue bisa disisipkan melalui lining kebaya, benang bordir, atau aksen kecil di sepatu.
Pendekatan ini membuat tradisi menyatu dengan styling, bukan berdiri sebagai elemen terpisah yang terlihat dipaksakan.
3. Sesuaikan dengan konsep pernikahan
Dalam pernikahan modern, konsep visual tetap prioritas. Makanya, penerapannya harus menyesuaikan tema:
- Modern minimalist: something blue berupa detail kecil seperti benang, pita, insole sepatu.
- Garden/outdoor: something old bisa berupa perhiasan vintage.
- Adat/tradisional: something old bisa berupa kain keluarga, something borrowed berupa aksesori adat pinjaman dari saudara.
Dengan begitu, tradisi tidak terasa “asing” atau kebarat-baratan, tapi bisa lebih menyatu dengan nuansa acara.
4. Libatkan orang terdekat secara emosional
Something borrowed bisa jadi momen emosional jika dikaitkan dengan orang yang dekat. Misalnya, kamu bisa meminjam bros dari ibu, kalung dari kakak, atau saputangan dari sahabat yang sudah menikah dan bahagia. Dalam konteks modern, hal ini bisa menjadi gestur yang penuh simbol dalam hubungan, bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua orang, tapi juga dukungan lingkungan terdekat. Bahkan, serah-terima aksesori secara personal bisa dijadikan momen kecil sebelum acara.
5. Dokumentasikan secara khusus
Banyak orang yang mungkin tidak menyadari bahwa kamu melakukan tradisi ini secara terang-terangan. Agar tradisi ini tidak hanya simbolis tapi juga bermakna dan tersimpan lama, kamu bisa meminta fotografer untuk mengambil satu foto flat lay khusus dari keempat elemen ini atau menulis penjelasannya di wedding album atau caption media sosial
Dalam pernikahan modern, dokumentasi adalah bagian penting dari pernikahanmu. Dengan begitu, tradisi ini akan memiliki “cerita” yang bisa dikenang dan tidak hilang begitu saja tanpa jejak.
6. Tidak harus pengantin perempuan
Dalam pernikahan modern, konsep ini bisa diterapkan juga pada pengantin pria:
- Something old: jam tangan ayah
- Something new: sepatu atau jas
- Something borrowed: dasi sahabat
- Something blue: lining jas atau saputangan saku
Barang-barang ini akan membuat tradisi terasa lebih setara dan relevan dengan nilai pernikahan masa kini.
7. Perlakukan sebagai simbol
Pernikahan modern memandang tradisi ini sebagai elemen yang dilakukan sebagai simbol saja, bukan sebuah kewajiban. Jika salah satu unsur tidak bisa terpenuhi, hal ini bukan masalah. Yang penting adalah niatnya, yaitu membawa masa lalu, merayakan awal baru, menerima dukungan orang terdekat, dan memaknai kesetiaan. Dengan mindset ini, tradisi tidak terasa menekan, justru menjadi detail kecil yang manis dan bermakna.
Tradisi pernikahan yang satu ini masih kerap diterapkan di masa ini. Jika kamu tertarik dengan berbagai simbol dan harapan di baliknya, tak ada salahnya jika ingin mempertimbangkannya. Beberapa contoh yang disebutkan bisa kamu pilih yang paling cocok.
Untuk berbagai tradisi, tips, dan inspirasi pernikahan lainnya, jangan lupa untuk terus mengecek artikel-artikel bermanfaat di WeddingMarket, ya!
Cover | Foto via Instagram/ayushita