Pilih Kategori Artikel

13 Mitos Pernikahan yang Dipercaya di Luar Negeri, Masih Ada?
Diskon dan Penawaran Eksklusif Menantimu!
Kunjungi WeddingMarket Fair 17 -19 April 2026
di Balai Kartini (Exhibition & Covention Center)

Selama ini ada berbagai mitos lokal yang menyelimuti pernikahan. Uniknya, mitos-mitos ini biasanya beragam di antara berbagai daerah di Indonesia. Semakin modern, semakin minim pula mitos-mitos ini dipercaya. Namun, ternyata mitos pernikahan seperti ini bukan hanya ada di tradisi Indonesia, lo. Bahkan, beberapa negara maju seperti negara-negara Amerika dan Eropa juga memiliki kepercayaan mereka masing-masing.

Mulai dari pemilihan hari hingga warna gaun, mitos pernikahan ini masih banyak yang dipercaya hingga sekarang. Jika penasaran, yuk kita menjelajah ke berbagai belahan dunia untuk melihat mitos pernikahan mereka!

1. Pengantin pria tidak boleh melihat gaun pengantin sebelum hari-H (Eropa dan Amerika)

Di banyak negara Barat, ada kepercayaan kuat bahwa pengantin pria tidak boleh melihat gaun pengantin sebelum hari pernikahan karena dianggap akan membawa sial. Mitos ini berasal dari zaman dulu ketika pernikahan terjadi karena perjodohan oleh keluarga dan pasangan belum tentu saling mengenal. Gaun pengantin disembunyikan agar mempelai pria tidak kabur jika tidak suka dengan calon istrinya. Seiring berjalannya waktu, kepercayaan ini berubah makna menjadi simbol “kejutan” dan keberuntungan. 

Banyak orang yang masih memegang mitos ini karena dipercaya dapat menjaga energi positif dan membuat momen pertama melihat pengantin di altar menjadi lebih sakral dan emosional. Jika dilanggar, konon rumah tangga akan mudah diwarnai konflik atau nasib buruk di awal pernikahan.

2. Hujan di hari pernikahan adalah tanda keberuntungan (Inggris dan India)

Di Inggris dan beberapa wilayah India, hujan saat hari pernikahan justru dianggap membawa berkah. Mitos ini berasal dari simbol air yang digunakan sebagai lambang kesuburan, pembersihan, dan kehidupan baru. Hujan dipercaya menyuburkan hubungan, melarutkan kesialan masa lalu, dan memperkuat ikatan pernikahan. Ada juga kepercayaan bahwa pernikahan yang diikat saat hujan akan lebih “kuat” karena air membuat tanah menjadi lebih padat dan tidak mudah terpisah. Maka, alih-alih panik, banyak pasangan di budaya ini justru merasa lega jika turun hujan karena diyakini rumah tangganya akan panjang umur dan penuh rezeki.

3. Pengantin harus membawa “Something old, something new, something borrowed, something blue” (Inggris)

wm_article_img
Source: Pexels/Alina Skazka

Mitos ini berasal dari sajak tradisional Inggris yang sangat terkenal. Setiap elemen memiliki makna simbolis: something old melambangkan kesinambungan hidup, something new melambangkan harapan masa depan, something borrowed dipercaya membawa keberuntungan dari orang yang sudah bahagia dalam pernikahannya, dan something blue melambangkan kesetiaan dan kemurnian. 

Jika salah satu elemen tidak ada, dipercaya akan ada ketidakseimbangan energi dalam rumah tangga. Oleh karena itu, banyak pengantin di Barat yang sengaja menyelipkan benda-benda ini, misalnya pita biru di gaun, perhiasan milik ibu, atau saputangan dari sahabat.

4. Pengantin perempuan tidak boleh mencoba gaun lengkap sebelum hari-H (Beberapa negara Eropa)

Di beberapa budaya Eropa, ada mitos bahwa mengenakan gaun pengantin yang lengkap sebelum hari pernikahan bisa mendatangkan kesialan atau bahkan menggagalkan pernikahan. Pengantin boleh mencoba gaun, tetapi tidak boleh memakainya secara sempurna dengan aksesori lengkap seperti veil dan sepatu. Kepercayaan ini berakar pada pandangan bahwa busana pernikahan adalah simbol status baru sebagai istri sehingga tidak boleh “dipakai” sebelum waktunya. Jika dilanggar, konon pernikahan bisa mengalami hambatan, pertengkaran di awal pernikahan, atau rencana acara menjadi kacau.

5. Melempar buket akan menentukan siapa yang menikah berikutnya (Amerika dan Eropa)

Tradisi melempar buket dipercaya berasal dari Inggris abad pertengahan, di mana para tamu wanita ingin mengambil potongan gaun pengantin karena dianggap membawa keberuntungan. Namun, dengan cara ini, gaun bisa rusak sehingga pengantin akhirnya melempar bunga sebagai pengganti. Mitosnya, wanita yang menangkap buket akan menjadi orang berikutnya yang menikah. Kepercayaan ini masih sangat populer hingga di acara pernikahan modern sekarang meskipun sering dianggap bercanda. Namun, secara psikologis, tradisi ini menciptakan sugesti positif dan harapan romantis bagi para tamu yang masih lajang.

6. Pengantin harus menangis saat pernikahan agar rumah tangga bahagia (Tiongkok)

wm_article_img
Source: Pexels/Trung Nguyen

Dalam beberapa daerah di Tiongkok, ada tradisi “menangis sebelum menikah” yang dipercaya membawa keberuntungan. Pengantin perempuan bahkan bisa mulai menangis beberapa hari sebelum pernikahan sebagai bentuk pelepasan masa lajang dan rasa hormat kepada orang tua. Tangisan dianggap sebagai simbol bahwa penderitaan sudah dikeluarkan sebelum masuk ke kehidupan baru sehingga rumah tangga kelak akan dipenuhi kebahagiaan. Jika pengantin tidak menangis, ia dipercaya akan menghadapi banyak kesedihan setelah menikah.

7. Memakai mutiara saat menikah membawa kesialan (Amerika dan Eropa)

Di beberapa budaya Barat, mutiara dipercaya melambangkan air mata karena bentuknya menyerupai tetesan air. Mutiara dikaitkan dengan kesedihan dan tangisan dalam rumah tangga. Oleh karena itu, ada mitos bahwa pengantin sebaiknya menghindari perhiasan mutiara pada hari pernikahan agar tidak mengundang kesedihan di masa depan. Meski sekarang banyak pengantin tetap memakai mutiara karena keindahannya, mitos ini masih sering disebut oleh orang tua atau keluarga yang percaya simbol-simbol tradisional.

8. Tidak boleh menikah di bulan tertentu karena membawa sial (Italia dan Spanyol)

Di Italia dan Spanyol, ada mitos kuat tentang bulan pernikahan. Misalnya, menikah di bulan Mei dianggap membawa kesialan karena dikaitkan dengan dewi kematian dan arwah dalam kepercayaan lama Romawi. Sementara bulan Juni dianggap paling membawa keberuntungan karena terkait dengan Dewi Juno, pelindung pernikahan dan keluarga. Mitos ini memengaruhi pilihan tanggal banyak pasangan hingga sekarang, bahkan secara tidak sadar membentuk musim ramai pernikahan.

9. Sepatu pengantin tidak boleh rusak atau kotor (Jepang)

wm_article_img
Source: Pexels/Pixabay

Di Jepang, sepatu pengantin dianggap simbol perjalanan hidup baru bersama pasangan. Ada kepercayaan bahwa jika sepatu pengantin rusak, terlepas, atau terlihat kotor pada hari pernikahan, rumah tangga akan penuh rintangan dan jalan hidup yang dilewati pasangan tidak akan mulus. Mitos ini berasal dari filosofi bahwa kaki melambangkan arah hidup seseorang sehingga alas kaki harus bersih, kuat, dan layak. Oleh karena itu, beberapa pengantin Jepang bahkan membawa sepatu cadangan agar tidak terjadi hal buruk yang dianggap sebagai pertanda nasib kurang baik.

10. Menjatuhkan cincin saat upacara adalah pertanda buruk (Barat dan Eropa Timur)

Dalam banyak budaya Barat dan Eropa Timur, menjatuhkan cincin saat prosesi tukar cincin dipercaya sebagai pertanda buruk bagi pernikahan. Cincin melambangkan ikatan suci dan perjalanan cinta tanpa akhir sehingga jika terjatuh ke lantai, hal ini dianggap sebagai simbol rapuhnya ikatan tersebut. Ada pula kepercayaan bahwa siapa yang menjatuhkan cincin, dialah yang akan lebih dominan atau justru lebih sering terluka dalam hubungan. Oleh karena itu, prosesi ini sering dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh keseriusan.

11. Mengikat kaleng di belakang mobil akan membawa keberuntungan (Amerika dan Inggris)

Tradisi menggantung kaleng atau benda logam di belakang mobil pengantinternyata  berasal dari kepercayaan kuno bahwa suara yang keras akan mengusir roh jahat. Mitosnya, suara berisik dari kaleng yang terseret di jalan akan melindungi pasangan dari energi negatif dan iri hati orang lain. Selain itu, bunyi nyaring juga dipercaya menarik keberuntungan dan kemakmuran. Hingga kini, tradisi ini tetap dilakukan sebagai simbol bahwa pasangan sedang memasuki hidup baru dengan perlindungan spiritual.

12. Kue pengantin harus dipotong bersama agar rumah tangga seimbang (Eropa Barat)

wm_article_img
Source: Pexels/Dimitri Kuliuk

Di Eropa Barat, memotong kue bersama dipercaya sebagai lambang kerja sama dan kesetaraan dalam pernikahan. Jika salah satu memotong kue sendirian atau terlihat mendominasi, dipercaya hubungan akan timpang dan salah satu pihak akan lebih berkuasa. Ada pula mitos bahwa jika kue jatuh atau hancur sebelum dipotong, pernikahan akan mengalami kesulitan ekonomi atau konflik rumah tangga. Makanya, momen ini sering dilakukan dengan sangat simbolis dan penuh perhatian.

13. Cermin yang pecah sebelum pernikahan adalah tanda buruk (Austria)

Dalam budaya Jerman dan Austria, cermin dianggap sebagai refleksi jiwa. Jika cermin pecah sebelum pernikahan, dipercaya kebahagiaan pengantin akan “retak” dan masa depan rumah tangga tidak akan utuh. Beberapa bahkan percaya bahwa hal ini bisa menandakan konflik besar atau perpisahan. Oleh sebab itu, pengantin dianjurkan menghindari cermin pecah atau benda retak menjelang hari pernikahan.

Jika di Indonesia sendiri ada mitos pernikahan seperti weton dan letak rumah, ternyata negara-negara modern pun juga memiliki banyak mitos mereka sendiri. Bahkan, ada beberapa yang masih dilakukan atau menjadi tradisi tingkat internasional, seperti melempar bunga dan memotong kue pernikahan.

Untuk informasi menarik, tips, dan inspirasi seputar pernikahan lainnya, jangan lupa untuk selalu mengecek artikel-artikel bermanfaat di WeddingMarket, ya!

Diskon dan Penawaran Eksklusif Menantimu!
Kunjungi WeddingMarket Fair 17 -19 April 2026
di Balai Kartini (Exhibition & Covention Center)

Article Terkait

Loading...

Article Terbaru

Loading...

Media Sosial

Temukan inspirasi dan vendor pernikahan terbaik di Sosial Media Kami

Loading...