Semua orang ingin mengabadikan pernikahan mereka dalam bentuk foto-foto yang indah. Oleh sebab itu, berbagai cara pun akan dilakukan untuk mendapatkan hasil tersebut. Biasanya cara yang ditempuh adalah dengan memilih fotografer yang mahal dan sudah lama menjadi wedding photographer. Namun, ternyata itu saja tidak cukup, lo. Kamu harus mengetahui gaya foto seperti apa yang paling cocok denganmu.
Ya, ternyata gaya dalam pengambilan foto pada acara pernikahan pun ada beragam. Untuk mendapatkan yang paling pas dengan preferensimu, sebaiknya ketahui terlebih dahulu beberapa jenisnya berikut ini. Simak sampai habis, yuk!
1. Editorial style
Editorial style terinspirasi dari majalah mode atau iklan yang mewah, di mana foto-foto pernikahan ditata dengan artistik, penuh gaya, dan kadang terlihat dramatis. Fotografer biasanya memberi arahan pose pada pasangan maupun rombongan keluarga agar hasilnya tampak elegan dan glamor. Properti, cahaya, dan komposisi juga diatur dengan sangat hati-hati untuk menghasilkan foto yang sekelas dengan yang bisa tampil di halaman majalah.
2. Documentary atau photojournalism style
Gaya ini dikenal juga sebagai candid wedding photography di mana fotografer berperan sebagai pengamat yang menangkap momen apa adanya tanpa banyak dibuat-buat. Fokus utamanya adalah emosi, ekspresi yang spontan, dan cerita yang mengalir sepanjang hari pernikahan.
Foto-foto dalam gaya ini biasanya terasa lebih natural dan penuh kehangatan. Jika kamu dan pasangan ingin menampilkan pernikahan sebagai sebuah kisah otentik dengan detail kecil yang bermakna, gaya jenis ini akan sangat cocok kamu pilih. Namun, karena minim arahan, hasilnya bisa terasa kurang glamor dibanding gaya editorial.
3. Fine art style
Gaya fine art menekankan pada komposisi artistik, permainan cahaya, dan detail-detail lainnya. Fotografer dengan gaya ini biasanya memanfaatkan cahaya natural, tone warna pastel, serta framing yang indah untuk menciptakan nuansa romantis, dreamy, dan timeless. Foto-foto fine art biasanya terasa seperti karya seni yang bisa dipajang di galeri.
Gaya ini akan cocok untuk pasangan yang menginginkan nuansa klasik, romantis, dan elegan dalam album pernikahan. Tantangannya, gaya ini membutuhkan fotografer dengan kepekaan artistik tinggi serta waktu yang cukup untuk mengatur angle dan pencahayaan.
4. Classic style
Gaya ini merupakan pendekatan paling umum dalam fotografi pernikahan. Foto yang dihasilkan biasanya berupa potret formal keluarga, foto pengantin dengan pengiring, serta dokumentasi prosesi pernikahan secara terstruktur. Hasilnya lebih rapi, jelas, dan aman untuk dikoleksi sebagai kenangan yang bisa dilihat lintas generasi. Gaya ini akan cocok untuk pasangan yang ingin memastikan semua momen penting dan orang terdekat terdokumentasi dengan jelas. Namun, kelemahannya adalah hasil foto akan terasa kaku atau kurang kreatif dibanding gaya lainnya.
5. Lifestyle photography
Gaya ini berada di tengah-tengah antara editorial dan photojournalism. Fotografer biasanya memberikan arahan ringan agar pasangan terlihat natural, tapi tetap memiliki sentuhan pose yang estetik, cahaya yang pas, dan komposisi yang mantap. Tujuannya adalah menangkap momen yang terasa nyata, tetapi tetap indah dipandang. Foto lifestyle biasanya terasa hangat, penuh kebersamaan, dan casual elegan. Kamu bisa memilihnya jika ingin memiliki kenangan otentik dengan hasil yang tetap cantik secara visual.
6. Dark and moody style
Gaya ini menonjolkan tone warna gelap, kontras, dan atmosfer emosional yang lebih dalam. Foto-foto dengan style ini terasa dramatis, intim, dan penuh nuansa misterius. Fotografer biasanya bermain dengan cahaya alami yang minim, seperti saat golden hour atau di dalam ruangan dengan pencahayaan lembut.
Gaya ini cocok untuk pasangan yang ingin memberikan nuansa berbeda dari kebanyakan foto pernikahan yang biasanya cerah. Namun, gaya ini bisa jadi kurang cocok untuk pasangan yang lebih menyukai kesan ceria dan klasik.
7. Vintage style
Gaya vintage menghadirkan nuansa retro dengan permainan tone warna hangat, grainy, atau sepia yang menimbulkan kesan nostalgia. Fotografer biasanya menggunakan filter khusus atau teknik edit yang meniru film analog. Pasangan yang mengusung konsep pernikahan retro, rustic, atau bohemian akan cocok dengan konsep foto ini.
Foto-foto vintage memberi rasa hangat dan timeless, tapi gaya ini mungkin kurang cocok untuk mereka yang menyukai hasil foto yang bersih, modern, dan terlihat lebih terang.
8. Contemporary style
Berbeda dari gaya tradisional atau klasik, gaya ini lebih fleksibel dan mengikuti tren fotografi terkini. Fotografer bebas memadukan berbagai teknik, mulai dari potret formal, candid, hingga eksperimen artistik. Hasilnya lebih bervariasi, segar, dan relevan dengan tren visual masa kini sehingga cocok untuk pasangan yang ingin album pernikahannya terasa modern dan kekinian. Namun, karena sifatnya yang dinamis, hasilnya sangat bergantung pada gaya pribadi fotografer.
Cara memilih style yang paling cocok
Layaknya mencari gaun atau venue, memilih style fotografi juga tak kalah penting. Jika masih bingung, kamu bisa menggunakan panduan berikut ini.
1. Kenali kepribadian dan selera sendiri
Langkah pertama dalam memilih gaya fotografi yang cocok adalah dengan menilai dirimu sendiri dan pasangan. Jika kamu adalah tipe orang yang senang tampil stylish, glamor, dan percaya diri berpose layaknya model, gaya editorial atau fine art akan lebih cocok karena fotografer biasanya akan mengarahkan pose dan ekspresi secara lebih detail.
Sebaliknya, jika kamu merasa lebih nyaman dengan momen yang natural dan tidak suka diarahkan terus-menerus, gaya photojournalism atau lifestyle akan lebih pas karena fotografer bisa menangkap ekspresi spontan tanpa banyak campur tangan. Jadi, kuncinya adalah memahami bagaimana kamu ingin tampil di foto, apakah ingin terlihat elegan dan dramatis atau natural dan apa adanya.
2. Pertimbangkan konsep pernikahan
Gaya fotografi yang kamu pilih sebaiknya selaras dengan konsep acara. Jika pernikahanmu berlangsung di ballroom mewah dengan dekorasi elegan, hasil foto gaya editorial atau fine art akan sangat menonjolkan suasana glamor tersebut. Untuk pernikahan outdoor yang lebih santai seperti garden party atau beach wedding, gaya lifestyle atau photojournalism lebih cocok karena mampu menangkap kehangatan dan keintiman suasana secara natural.
Bila kamu mengusung tema bohemian atau rustic dengan dekorasi kayu, bunga liar, dan nuansa earthy, gaya vintage atau dark and moody akan semakin memperkuat nuansa estetik. Sedangkan untuk pernikahan tradisional yang melibatkan keluarga besar, gaya classic atau traditional perlu dipilih agar semua prosesi resmi terdokumentasi dengan lebih rapi.
3. Pikirkan bagaimana foto tersebut akan digunakan
Setiap pasangan punya tujuan berbeda dalam menggunakan hasil foto pernikahan mereka. Jika kamu berencana mencetak album pernikahan dengan layout menyerupai majalah, gaya editorial atau fine art akan memberikan hasil yang artistik dan mewah. Jika tujuanmu lebih ke dokumentasi penuh cerita yang mengabadikan momen emosional, photojournalism atau lifestyle lebih tepat karena gaya ini akan menangkap momen spontan yang penuh makna.
Untuk pasangan yang ingin memiliki dokumentasi aman dan formal yang bisa dinikmati lintas generasi, gaya classic adalah pilihan yang bijak. Sementara itu, jika kamu ingin memajang foto di rumah sebagai karya seni yang unik, gaya dark dan moody atau vintage akan menghadirkan atmosfer berbeda yang menarik untuk dipandang setiap hari.
4. Lihat portofolio fotografer
Jangan hanya mengandalkan penjelasan teori karena yang terpenting adalah hasil nyata dari fotografer yang kamu pilih. Setiap fotografer biasanya memiliki kecenderungan gaya tertentu meskipun mereka bisa fleksibel. Kamu bisa melihat portofolio melalui Instagram, website, atau album lengkap klien sebelumnya untuk membantumu membayangkan bagaimana hasil foto jika kamu yang menjadi subjeknya.
Tanyakan pada diri sendiri, “Apakah aku bisa membayangkan diriku di foto yang seperti ini?” atau “Apakah foto-foto ini membuatku tersenyum saat melihatnya nanti?” Jika jawabannya ya, berarti gaya itu cocok untukmu. Portofolio juga bisa memperlihatkan konsistensi fotografer dalam menggarap gaya tertentu.
5. Diskusikan dengan pasangan
Pemilihan gaya fotografi sebaiknya tidak dilakukan sendiri, melainkan dibicarakan bersama pasangan. Mungkin kamu lebih menyukai gaya candid yang natural, sementara pasanganmu lebih condong ke hasil glamor yang terkonsep. Perbedaan ini bisa diatasi dengan mencari fotografer yang fleksibel dan bisa memadukan beberapa gaya sekaligus. Misalnya, editorial digunakan untuk sesi potret berdua, kemudian photojournalism dipakai untuk dokumentasi acara agar tetap natural. Dengan komunikasi yang baik, kamu dan pasangan bisa menemukan titik tengah sehingga album pernikahan tidak hanya memuaskan satu pihak, tapi dua-duanya.
6. Kombinasikan jika perlu
Tidak ada aturan bahwa kamu hanya boleh memilih satu gaya saja. Banyak pasangan akhirnya memutuskan untuk menggabungkan beberapa gaya demi hasil yang lebih lengkap. Misalnya, gaya classic digunakan untuk foto keluarga besar agar semua orang terdokumentasi, lalu photojournalism dipakai untuk candid suasana pesta, dan fine art khusus untuk sesi potret pengantin agar lebih romantis. Dengan begitu, album pernikahanmu akan terasa variatif, ada bagian yang formal, bagian yang emosional, dan bagian yang artistik. Kombinasi ini bisa menjadi solusi ideal untuk memenuhi selera pasangan maupun keluarga.
Nah, ternyata ada begitu banyak jenis fotografi pernikahan yang bisa dipilih. Kamu bisa menyesuaikan mana yang paling cocok dengan seleramu dan pasangan. Untuk mendapatkan hasil terbaik, jangan lupa untuk mendiskusikannya dengan fotografer yang kamu pilih. Jika belum mendapatkan fotografer yang cocok, kamu bisa mendapatkan rekomendasi vendornya di sini.
Cover | Fotografi: Michael Madjid