Bagi para pekerja kantoran, cuti adalah sebuah kemewahan. Banyak yang rela tidak mengambilnya karena akan digunakan untuk momen penting seperti untuk acara pernikahan. Bahkan, banyak yang sudah ‘menabung’ cuti untuk momen spesial ini. Namun, ternyata tabungan tersebut mungkin tidak bisa digunakan berurutan selama beberapa hari sekaligus. Kalau begini, mengambil cuti pun perlu diperhitungkan dengan baik.
Agar kamu bisa maksimal dalam memanfaatkan jatah cutimu, tips menyusun cuti kerja untuk acara pernikahan dan bulan madu berikut ini mungkin akan bermanfaat untuk kamu terapkan. Yuk, simak panduan selengkapnya!
1. Petakan seluruh rangkaian acara dengan realistis
Sebelum mengajukan cuti, susun dulu timeline lengkap dari H-berapa hingga H+berapa, mulai dari acara adat, akad/pemberkatan, resepsi, hingga acara keluarga seperti unduh mantu atau syukuran. Banyak pasangan hanya menghitung hari-H saja padahal secara fisik dan mental, hari sebelum dan sesudah pernikahan justru paling menguras energi. Dengan memetakan rangkaian acara ini secara detail, kamu bisa menentukan hari cuti yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar menebak-nebak. Susunan rencana ini juga akan membantumu menghindari situasi di mana kamu sudah kembali bekerja padahal tubuh masih sangat kelelahan atau pikiran belum fokus.
2. Pisahkan cuti untuk pernikahan dan bulan madu
Idealnya, cuti pernikahan dan bulan madu tidak digabung dalam satu blok panjang tanpa jeda. Cuti pernikahan sebaiknya difokuskan untuk persiapan terakhir, hari-H, dan pemulihan fisik pasca acara. Setelah itu, sisakan jeda kerja singkat jika memungkinkan sebelum bulan madu agar pekerjaan bisa distabilkan kembali dan kamu berangkat honeymoon tanpa beban pikiran. Pemisahan ini juga membuat bulan madu terasa lebih seperti liburan sungguhan, bukan kelanjutan dari fase lelah setelah acara pernikahan.
3. Manfaatkan hari libur nasional dan cuti bersama dengan strategis
Cek kalender nasional sejak jauh hari dan susun cuti dengan sistem “menjepit” hari libur. Misalnya, kamu bisa menikah mendekati long weekend atau cuti bersama sehingga jumlah cuti tahunan yang terpakai bisa lebih sedikit, tetapi waktu istirahat tetap panjang. Strategi ini sangat membantu bagi karyawan dengan jatah cuti yang terbatas sekaligus memberi kesan profesional karena kamu tetap efisien dalam penggunaan cuti.
4. Sesuaikan durasi cuti dengan kondisi pekerjaan
Meskipun pernikahan adalah momen besar, tetap penting untuk menyesuaikan durasi cuti dengan ritme kerja dan tanggung jawab posisi kamu. Jika kamu memegang peran krusial atau sedang dalam periode sibuk seperti closing, audit, dan launching, pertimbangkan cuti lebih singkat saat menikah. Sementara itu, bulan madu bisa menyusul di waktu yang lebih tenang. Pendekatan ini menunjukkan kedewasaan profesional dan biasanya membuat atasan lebih kooperatif dalam menyetujui cuti.
5. Ajukan cuti jauh-jauh hari
Sampaikan rencana cuti minimal beberapa bulan sebelumnya, lengkap dengan tanggal yang jelas dan rencana pengalihan tugas. Jangan hanya memberi tahu “saya mau cuti menikah”, tetapi jelaskan kapan mulai, kapan kembali, dan siapa yang akan membantu menangani pekerjaan selama kamu tidak ada. Komunikasi yang jelas seperti ini akan membuat atasan dan tim merasa aman sehingga kamu bisa cuti dengan tenang tanpa perasaan tidak enak.
6. Delegasikan pekerjaan dengan jelas sebelum cuti
Beberapa hari sebelum cuti, pastikan semua pekerjaan penting sudah diselesaikan atau didelegasikan dengan jelas. Buat catatan singkat tentang status pekerjaan, deadline, dan kontak yang bisa dihubungi jika ada hal darurat. Dengan sistem ini, kamu tidak perlu bolak-balik membalas chat kantor saat sedang menikah atau honeymoon karena rekan kerja tidak kebingungan.
7. Sisakan 1-2 hari untuk adaptasi setelah bulan madu
Banyak orang yang lupa bahwa pulang dari bulan madu bukan berarti langsung siap kerja 100%. Jet lag, lelah perjalanan, dan perubahan rutinitas bisa memengaruhi fokus. Menyisakan satu atau dua hari cuti setelah kembali akan membantu kamu beradaptasi secara fisik dan mental, membereskan rumah, dan mempersiapkan diri kembali ke ritme kerja dengan lebih stabil.
8. Pertimbangkan opsi WFH jika tersedia
Jika kantor memungkinkan kerja jarak jauh atau jam kerja fleksibel, manfaatkan opsi ini di hari-hari transisi, misalnya H-2 sebelum menikah atau beberapa hari setelah kembali. Fleksibilitas ini mengurangi tekanan mengambil cuti penuh sekaligus membantu kamu tetap produktif tanpa mengorbankan energi yang seharusnya dipakai untuk momen pribadi.
9. Jangan habiskan seluruh jatah cuti sekaligus
Meskipun godaan untuk mengambil cuti panjang sangat besar, usahakan tetap menyisakan jatah cuti untuk kebutuhan tak terduga setelah menikah, seperti urusan administrasi, kondisi kesehatan, atau keperluan keluarga. Menyisakan cuti adalah bentuk antisipasi yang bijak sehingga kamu tidak stres sendiri setelah euforia pernikahan selesai.
10. Ingat caramu menghabiskan lebih penting daripada durasi
Durasi dari cuti pernikahan yang kamu ambil memang penting. Namun, seberapa berkualitas waktu yang kamu jalani lebih penting lagi. Lebih baik cuti lebih singkat, tapi benar-benar bebas dari urusan kantor, dibanding cuti panjang tapi pikiran terus tertarik ke pekerjaan. Dengan perencanaan yang matang, kamu bisa hadir sepenuhnya sebagai pengantin dan pasangan baru dan tidak perlu mengorbankan profesionalisme kerja.
Contoh simulasi penggunaan cuti
Jika masih bingung seperti apa cara ideal untuk mengambil cuti pernikahan, simulasi berikut ini mungkin akan membantumu untuk mendapatkan gambaran yang sebenarnya.
Jika jatah cuti 12 hari
H-4 sampai H-2 untuk persiapan penting
Walaupun sebaiknya menyisihkan cuti untuk tujuan yang lain, kamu tetap bisa menggunakan semua jatah jika ingin. Dalam waktu 12 hari, fokuskan cuti hanya pada hal-hal krusial. Persiapan kecil seperti meeting vendor secara online atau urusan ringan bisa dilakukan setelah jam kerja jauh hari sebelumnya. Dengan begitu, cuti bisa digunakan secara efisien untuk hal yang tidak bisa diwakilkan.
H-1 dan hari-H untuk inti pernikahan
Satu hari sebelum dan hari-H adalah cuti yang tidak bisa ditawar. Hari-hari ini adalah momen puncak yang membutuhkan kondisi fisik dan mental terbaik. Mengorbankan cuti di bagian lain masih mungkin, tapi bukan di sini.
H+1 untuk istirahat singkat
Walau singkat, satu hari setelah menikah sangat penting untuk melakukan pemulihan. Tanpa mengambil cuti di hari ini, kamu berisiko masuk kerja dalam kondisi sangat lelah dan masih emosional.
H+2 sampai H+6 untuk bulan madu singkat
Bulan madu tidak harus lama. Dengan perencanaan matang, 4 hingga 5 hari sudah cukup untuk mendapatkan pengalaman romantis dan mengistirahatkan mental. Ingat! Fokus pada kualitas aktivitas, bukan jumlah hari.
H+7 untuk adaptasi
Sisa satu hari cuti sebaiknya disimpan untuk adaptasi atau kondisi darurat setelah kembali. Hal ini membuat kamu tidak kembali dalam kondisi tepat setelah habis cuti dan tetap punya ruang bernapas jika ada keperluan mendadak.
Jika cuti terbatas selama 7 hingga 8 hari
H-2 sampai hari-H untuk persiapan akhir dan acara pernikahan
Semua persiapan besar sudah dilakukan jauh-jauh hari. Cuti ini hanya dipakai untuk fase paling krusial agar kamu tetap hadir penuh di momen utama.
H+1 untuk istirahat
Minimal satu hari setelah menikah, kamu tetap wajib untuk menjaga kondisi tubuh. Manfaatkan satu hari cuti untuk keperluan ini.
H+2 sampai H+5 untuk bulan madu
Kamu bisa melakukan bulan madu sederhana, berupa staycation, road trip singkat, atau liburan dekat kota. Alih-alih fokus pada destinasi, waktu ini bisa kamu gunakan untuk transisi emosional dari single life ke married life.
Mengambil waktu cuti untuk persiapan nikah perlu dilakukan dengan penuh perhitungan. Jangan sampai sudah mengambil banyak jatah, ternyata kamu malah menggunakannya di waktu yang kurang tepat. Akhirnya kamu pun masih merasa lelah setelah kembali ke pekerjaan.
Untuk tips-tips seputar pernikahan lainnya, jangan lupa untuk mengecek artikel-artikel bermanfaat di WeddingMarket, ya!
Cover | Foto: Pexels/Sora Shimazaki