Mengenal Tradisi Uang Panai dalam Pernikahan Adat Bugis Makassar - Wedding Market

Mengenal Tradisi Uang Panai dalam Pernikahan Adat Bugis Makassar

02 Aug 2022 | By WeddingMarket | Viewers: 217
Tradisi Uang Panai dalam Pernikahan Adat Bugis Makassar
Fotografi: Maximus Pictures

Bagi masyarakat suku Bugis-Makassar Sulawesi Selatan, ada salah satu tradisi pernikahan yang turun temurun masih berlaku hingga saat ini, yaitu pemberian uang panai atau panaik. Dalam bahasa Makassar uang panai disebut doi panai, atau disebut doi menre dalam bahasa Bugis. Uang panai ini adalah salah satu syarat pernikahan yang harus dipenuhi. 

Dalam artian lain dapat dikatakan juga sebagai uang belanja yang diberikan oleh pihak mempelai pria untuk melamar mempelai wanita, yang mana uang ini nantinya digunakan untuk membiayai segala kebutuhan dalam pesta pernikahan. Uniknya, dalam tradisi pernikahan adat Bugis Makassar, besaran uang panai yang harus disiapkan oleh pihak mempelai pria ini tergantung dari status sosial, kecantikan, pendidikan, hingga pekerjaan wanita yang dilamarnya.

Semakin tinggi strata sosial sang mempelai wanita, maka semakin besar uang panai yang harus dibayarkan untuk melamarnya. Hal inilah yang membuat asumsi bahwa menikahi wanita Bugis-Makassar itu mahal. Namun pada dasarnya, uang panai ini merupakan wujud dari keseriusan seorang pria kepada wanita yang dilamarnya. Untuk lebih memahami lebih dalam mengenai kedudukan uang panai dalam tradisi pernikahan Bugis-Makassar, yuk kita kupas tuntas satu persatu!

Apakah uang panai sama dengan mahar?

Banyak orang yang mengira bahwa uang panai dalam pernikahan Bugis-Makassar sama dengan mahar pernikahan pada umumnya. Namun, apabila ditilik lebih dalam, ternyata keduanya berbeda. Perbedaan kedudukan uang panai dan mahar dapat dilihat dari sudut pandang adat dan agama. Dari konteks agama, khususnya Islam, salah satu syarat pernikahan yang wajib dipenuhi adalah berupa mahar pernikahan. Jadi, bagi siapapun pemeluk Islam diwajibkan membayar mahar, barulah dianggap perkawinannya sah secara agama. 

Berbeda halnya dengan kewajiban membayar uang panai sebagai syarat pernikahan, karena adanya dalam konteks budaya. Dalam hal ini adalah adat Bugis-Makassar. Karena sudah menjadi tradisi yang dilakukan secara turun-temurun, sehingga menjadi sesuatu yang wajib dilakukan. Bahkan, bagi sebagian masyarakat Bugis-Makassar menganggap uang panai ini lebih penting daripada mahar. Namun, jikalaupun uang panai tidak diadakan, secara agama pernikahan tersebut tetaplah dianggap sah selama mempelai pria sudah membayar mahar perkawinan

Selain itu, apabila ditinjau dari tujuan penggunaanya, mahar dan uang panai pun memiliki peruntukkan yang berbeda. Mahar dalam Islam diperuntukkan bagi calon pengantin wanita dan mutlak menjadi hak miliknya setelah ia sah menjadi istri. Sementara itu, uang panai diberikan kepada pihak mempelai wanita dengan tujuan untuk membiayai kebutuhan pesta pernikahan.  

Berapa sih besaran uang panai yang harus dibayarkan untuk melamar wanita Bugis-Makassar?


Dalam budaya suku Bugis-Makassar, pemberian uang panai memiliki makna filosofi yang melambangkan status sosial seseorang. Maka dari itu, semakin besar nilai dari uang panai yang diberikan menandakan semakin tinggi derajat sosial dari sang calon pengantin. Hal yang sama berlaku sebaliknya, jika semakin rendah status sosial seseorang, maka nilai uang panai yang harus dibayarkan pun juga rendah. 

Adapun tinggi rendahnya status sosial seorang wanita Bugis-Makassar ini tak dipatok sembarangan, melainkan dilihat dari berbagai aspek yang dimilikinya, mulai dari silsilah keturunan (bangsawan ataukah rakyat biasa), status sosial (pejabat, orang terpandang, dll), gelar pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, kesehatan fisik hingga kecantikannya. Misalnya, seorang wanita Bugis memiliki keturunan dari bangsawan kerajaan Makassar, maka nilai uang panai yang harus dibayarkan pastinya lebih tinggi dibandingkan dengan wanita dari kalangan biasa. Bahkan wanita dari kalangan bangsawan bisa mendapatkan uang panai hingga miliaran rupiah. 

Begitupun dilihat dari segi pendidikannya, semakin tinggi gelar yang dimiliki oleh sang wanita maka nilai uang panainya pun akan lebih besar dibanding wanita yang pendidikannya lebih rendah. Sebagai contoh wanita Bugis-Makassar lulusan SMA uang panainya 50 juta rupiah, jika ia lulusan sarjana maka nilai uang panainya akan lebih tinggi bisa 75 juta hingga 100 juta rupiah. Dalam penetapan nominal uang panai ini berbagai aspek tersebut digunakan sebagai patokan. Tak mengherankan apabila nilai uang panai dianggap sebagai wajah dari strata sosial pihak mempelai wanita.

Pergeseran makna dan pemahaman tentang uang panai


Pada mulanya penetapan besaran uang panai bagi Masyarakat Bugis-Makassar memang disesuaikan dengan status sosial sang mempelai wanita. Sayangnya, saat ini banyak masyarakat yang mengasumsikan filosofinya tersebut secara berbeda. Tak jarang, uang panai dipatok dengan nilai tinggi demi gengsi agar dianggap memiliki status sosial yang tinggi pula. Hal tersebut lantas menjadi standar di masyarakat dan memotivasi bagi sebagian orang untuk menargetkan nominal yang besar, meski di sisi lain akan membebani mereka.

Apabila melihat kembali kepada sejarah di masa lampau, sebenarnya uang panai tersebut hanya diberikan bagi para wanita dari keturunan bangsawan atau berdarah biru. Dahulu uang panai yang diberikan pun tak hanya berbentuk uang, tetapi juga berupa daerah kekuasaan atau gelar tertentu. Sebab, uang panai dianggap sebagai penghargaan kepada pihak perempuan yang berasal dari keturunan bangsawan.


Namun seiring perkembangan zaman, tradisi ini pun kini berlaku bagi seluruh wanita keturunan suku Bugis-Makassar. Awalnya kebiasaan ini dimaksudkan sebagai penghormatan, tapi lama-kelamaan menjadi tradisi yang wajib dilaksanakan dalam prosesi pernikahan adat Bugis-Makassar. 

Apakah boleh mengumbar nominal uang panai?


Perihal ini masih ada pro dan kontra yang beredar di masyarakat. Tak jarang, sebagian masyarakat Bugis-Makassar menjadikan uang panai bernilai fantastis sebagai ajang untuk pamer kedudukan sosialnya. Biasanya bagi mereka yang memilih untuk mengumumkan nilai uang panai ini dilakukan pada acara Mappettuada dimana keluarga besar berkumpul saat itu. 

Namun, di satu sisi ada pula masyarakat yang memilih untuk merahasiakan besaran nilai uang panai hanya untuk kalangan internal keluarga saja. Kembali lagi pilihannya tergantung masing-masing keluarga. Entah itu akan diumumkan atau dirahasiakan, sejatinya nilai uang panai itu menjadi simbol harga diri bagi pengantin wanita.

Lantas, bagaimana kedudukan uang panai bagi mempelai pria?


Penetapan besaran nilai uang panai yang diberikan merupakan hasil perundingan dari kedua belah pihak, setelah melalui proses tawar-menawar hingga akhirnya diperoleh kesepakatan bersama. Biasanya dilakukan pada saat prosesi mammanu-manu atau mappetuada. Kedua tradisi tersebut dilaksanakan sebelum prosesi pernikahan. Disini kita mengetahui betapa pentingnya kedudukan uang panai dalam tradisi Bugis-Makassar. Sebab, pernikahan bisa saja dibatalkan apabila kedua belah keluarga tidak bersepakat tentang jumlah uang panai.

Pada saat  mammanu-manu, pihak mempelai pria meminta izin kepada kedua orangtua calon mempelai wanita untuk meminang putrinya. Pada saat itu sekaligus juga dibahas mengenai nilai uang panai serta mahar yang diinginkan. Apabila dirasa nilai uang panai yang diminta terlalu tinggi, pihak pria boleh melakukan pendekatan untuk menawar agar nominalnya dapat dikurangi sesuai kesanggupan. Hingga dicapai kata sepakat antara kedua belah pihak, barulah prosesi pinangan secara resmi dapat dilaksanakan, mappetuada. 


Uang panai tak hanya menjadi wajah status sosial bagi para wanita Bugis-Makassar yang dipinang. Dari sisi pria pun uang panai memiliki makna filosofi sebagai simbol keseriusan, keuletan dan kerja keras sang pria untuk dapat menikahi wanita pujaan hatinya. Jadi, bisa dikatakan besar uang panai yang diberikan juga menunjukkan perjuangan dan keseriusan sang pria untuk memenuhi syarat menikahi calon mempelai wanita. Uang panai ini menjadi bukti kesanggupan mempelai pria, sebab menurut tradisi adat Bugis-Makassar pihak prialah yang menanggung seluruh biaya untuk kebutuhan pesta pernikahan yang sesuai dengan permintaan.

Dampak yang timbul dari tradisi uang panai


Besaran nominal uang panai bagi sebagian orang dinilai mahal, sehingga seringkali dipertanyakan. Namun tentunya ada alasan dibalik hadirnya tradisi ini. Selain untuk melihat keseriusan dan kesungguhan sang pria untuk menikahi wanita pilihannya. Tujuan uang panai ini juga dimaksudkan agar sang pria kelak selalu berusaha mempertahankan pernikahannya, sekaligus sebagai pengingat betapa sulitnya perjuangan yang harus ia tempuh demi menikahi wanita tersebut. Jadi harapannya, ketika sang pria berniat menceraikan istrinya, kelak ia akan berpikir berkali-kali sebab sudah banyak hal yang telah dikorbankan demi pernikahan tersebut.


Di satu sisi tradisi uang panai ini memang berdampak positif bagi pernikahan kedua mempelai. Akan tetapi, di sisi lain karena nilai uang panai sangat mahal, banyak pula pasangan yang pada akhirnya justru terkendala untuk meresmikan hubungannya. Tak sedikit diantaranya yang memilih jalan pintas dengan melakukan silariang atau kawin lari. Namun, sebisa mungkin hal ini dihindari karena bagi masyarakat Bugis Makassar, silariang merupakan sebuah aib yang mencoreng nama baik keluarga seumur hidup. Dengan mematok uang panai yang besar kadang juga bisa dijadikan alasan untuk menolak sebuah lamaran.

Itulah hal-hal yang perlu kamu ketahui mengenai tradisi uang panai dalam pernikahan adat Bugis-Makassar. Setelah membaca ulasan ini, apakah kamu masih pusing dengan uang panai? Semoga informasi di atas dapat memberikanmu pencerahan, ya! 

Pesan Tiket Gratis WeddingMarket Fair Sekarang!
13 - 14 Agustus 2022 | Hotel Bidakara Jakarta

Artikel Terkait


Menangkan Hadiah Ratusan Juta Rupiah di WeddingMarket Fair!

Pesan Tiket Gratis Sekarang
WeddingMarket

Hello, thank you for Visiting us. Any Question?