Your Smart Wedding Platform

Merasa Tidak Feminin? Ini Cara Maksimalkan Penampilanmu untuk Hari Pernikahan

06 Jan 2026 | By Nurma Arum Wedding Market | 18

Ketika menikah, pengantin wanita biasanya diminta untuk tampil feminin maksimal dengan busana pernikahan berupa dress atau kebaya dan riasan tebal. Tak jarang, beberapa pengantin wanita tampil manglingi karena biasanya jarang berdandan di hari biasa. Ekspektasi ini mungkin akan terasa sedikit membebani bagi pengantin yang tidak begitu terbiasa dengan tampilan feminin. 

Jika kamu adalah seseorang yang merasa kurang nyaman dengan tampilan feminin ala pengantin wanita biasanya, kamu bisa tetap menjadi diri sendiri, lo. Beberapa cara berikut ini bisa kamu terapkan untuk memaksimalkan penampilan. Simak selengkapnya, yuk!

1. Definisikan ulang arti ‘pengantin’ sesuai kepribadianmu

Langkah pertama yang sangat penting adalah melepaskan standar feminin konvensional yang sering diasosiasikan dengan pengantin, seperti harus lembut, manis, atau super girly. Saat menjadi pengantin, kamu tidak harus menjadi orang lain, kok. Justru momen ini seharusnya menampilkan versi diri yang paling autentik. Pengantin yang terbiasa tampil tomboy, minimalis, atau tegas tetap bisa terlihat memukau dengan cara mereka sendiri. 

Dengan mendefinisikan ulang arti ‘pengantin’ sebagai seseorang yang rapi, percaya diri, dan siap berkomitmen, bukan sekadar feminin, beban psikologis untuk berubah total akan jauh berkurang. Ketika mindset ini kuat, penyesuaian lainnya akan terasa lebih ringan dan tidak terasa seperti pemaksaan.

2. Pilih gaya yang elegan dan clean

Bagi pengantin yang tidak terbiasa dengan detail feminin, pilihan yang paling aman adalah memilih gaya yang clean, structured, dan elegan. Potongan busana yang tegas, siluet sederhana, minim ruffle atau aksen berlebihan justru akan memberi kesan dewasa dan classy. Gaun dengan potongan A-line simpel, sheath dress, atau kebaya dengan garis tegas tanpa banyak payet bisa menjadi solusi. 

Elegan tidak harus manis. Elegan bisa berarti rapi, proporsional, dan berwibawa. Gaya seperti ini akan membuat pengantin tidak merasa sedang cosplay menjadi orang lain atau merasa canggung, tetapi tetap bisa tampil istimewa di hari pernikahan.

3. Makeup untuk memperkuat fitur, bukan mengubah karakter wajah

Perasaan tidak biasa tampil feminin biasanya muncul dari rasa tidak nyaman melihat wajah sendiri yang berubah drastis karena makeup. Oleh karena itu, penggunaan makeup sebaiknya fokus pada enhancement atau memperkuat fitur, bukan transformation. Makeup natural, soft matte, atau modern clean look yang menonjolkan struktur wajah akan terasa jauh lebih nyaman. 

Alis tidak perlu terlalu melengkung, blush tidak harus pink cerah, dan lipstik bisa dipilih yang berwarna nude, mauve, atau terracotta. Ketika pengantin masih bisa mengenali dirinya sendiri di cermin, rasa percaya diri akan muncul dengan sendirinya. Perasaan canggung pun berkurang drastis.

4. Penataan rambut yang rapi

Rambut sering menjadi elemen yang membuat pengantin merasa terlalu feminin, apalagi jika dipaksa memakai sanggul tinggi, styling berlebihan, atau aksesori besar. Solusinya adalah memilih tatanan rambut yang rapi, sleek, dan fungsional sesuai kebiasaan sehari-hari. Low bun sederhana, sleek ponytail, atau sanggul rendah tanpa banyak detail bisa terlihat sangat cocok untuk momen pernikahan dan tidak terasa berlebihan. Bahkan, bagi pengantin berhijab, styling hijab yang clean, minim layer, dan jatuh tegas akan terasa lebih nyaman dibandingkan model yang terlalu bertumpuk atau dengan banyak aksesori.

5. Aksesori untuk aksen alih-alih fokus utama

Foto: Pinterest/Yeah Weddings

Pengantin yang tidak terbiasa tampil feminin sering merasa berat dengan adanya terlalu banyak perhiasan atau aksesori. Oleh karena itu, pilih aksesori yang benar-benar fungsional sebagai aksen kecil, bukan elemen yang dominan. Anting kecil, anting panjang satu titik, hairpiece minimalis, atau bahkan tanpa kalung sama sekali sudah cukup. Prinsipnya adalah lebih baik sedikit tapi tepat, daripada banyak tapi membuat tidak nyaman. Ketika aksesori tidak mengalihkan perhatian dari diri sendiri, pengantin akan lebih bebas bergerak dan mengekspresikan diri.

6. Diskusikan tentang gaya pribadi kepada MUA

Banyak pengantin merasa terjebak untuk tampil terlalu feminin karena tidak berani menyampaikan preferensi mereka. Padahal, komunikasi yang jelas sejak awal menjadi hal yang sangat krusial. Sampaikan gaya berpakaian sehari-hari, hal-hal yang tidak disukai, serta referensi visual yang benar-benar mencerminkan diri sendiri. MUA dan desainer yang profesional justru akan lebih mudah bekerja ketika klien memiliki karakter yang jelas. Dengan komunikasi yang terbuka, hasil akhir akan terasa lebih “kamu banget”.

7. Fokuskan pada rasa nyaman

Ketidaknyamanan sering kali terlihat jelas dalam bahasa tubuh, lo, seperti bahu yang tegang, senyum kaku, atau gerakan yang canggung. Makanya, prioritas utama seharusnya adalah kenyamanan fisik dan mental. Ketika busana tidak terlalu membatasi gerak, makeup tidak terasa berat, dan penampilan tidak terasa asing, pengantin akan lebih rileks. Dari rasa nyaman inilah aura percaya diri muncul secara natural dan justru itulah yang membuat seseorang terlihat menarik, kuat, dan berkesan. Hal ini jauh lebih penting daripada sekadar tampil feminin.

8. Ingat bahwa keanggunan tidak selalu feminin

Terakhir, penting untuk diingat bahwa anggun, cantik, dan berkelas tidak selalu berarti feminin. Banyak pengantin tampil memukau dengan aura tenang, tegas, dan dewasa tanpa unsur girly sama sekali. Keanggunan bisa muncul dari sikap, cara berjalan, cara berbicara, dan keyakinan terhadap diri sendiri. Ketika pengantin berdamai dengan identitasnya, menerima bahwa dirinya memang tidak feminin secara konvensional, justru di situlah daya tarik yang paling kuat muncul.

Inspirasi gaya pengantin berdasarkan kerpribadian

Foto: Pexels/ Esma Nur Büyükgüçlü

Beberapa pengantin tidak ingin tampil feminin ternyata tidak selalu karena ia memiliki kepribadian yang lebih maskulin, bisa jadi karena ia tidak begitu suka ketika menjadi pusat perhatian. Berikut ini adalah beberapa inspirasi dengan kepribadian yang berbeda.

1. Pengantin tomboy

Pengantin ini biasanya lebih suka tampil dengan gaya yang maskulin dalam kehidupan sehari-hari. Kepribadian ini bisa dibawa ke pernikahan dengan tetap menunjukkan sisi ‘cantik’ dengan cara sendiri.

a. Busana

Untuk pengantin dengan karakter tomboy, pilihan terbaik adalah busana dengan potongan tegas dan struktur yang kuat. Gaun lurus atau sheath, A-line yang simpel, atau kebaya modern dengan bahu tegas tanpa detail renda yang berlebihan akan terasa jauh jadi diri sendiri. Pilihan two pieces dress atau busana yang lebih unik seperti jumpsuit juga bisa dipertimbangkan. Bahan seperti satin matte, silk polos, atau brokat motif geometris memberi kesan rapi dan dewasa walau tanpa kesan manis. 

Hindari terlalu banyak layer, ekor panjang yang ribet, atau detail bunga 3D yang bisa membuatmu merasa seperti sedang mengenakan kostum. Busana yang clean dan proporsional ini tetap memberikan kesan bridal tanpa menghilangkan karakter maskulinmu yang sudah melekat.

b. Makeup

Makeup untuk pengantin tomboy sebaiknya fokus pada struktur wajah, bukan efek yang memberikan kesan manis. Alis bisa dibuat tegas tapi natural, pilih complexion matte atau semi-matte, contour tipis untuk menegaskan tulang pipi, dan blush warna muted seperti peach tua atau cokelat kemerahan. 

Lipstik nude cokelat, mauve, atau terracotta sangat cocok karena tidak memberi kesan girly. Eye makeup cukup dengan gradasi soft cokelat atau abu-abu tanpa shimmer berlebihan. Hasil akhirnya adalah wajah segar, kuat, dewasa, dan tidak berubah total.

c. Rambut/hijab

Jika tidak berhijab, gaya rambut paling aman adalah low bun sederhana, slick back bun, atau ponytail rapi. Rambut lurus dan clean akan terasa jauh lebih nyaman dibandingkan curly besar atau sanggul bertumpuk. Jika berhijab, pilih styling hijab yang minimal layer, jatuh tegas, dan simetris. Hindari drapery berlebihan atau aksesori besar di kepala. Kesan rapi dan fungsional justru akan terlihat sangat berkelas.

2. Pengantin minimalis, tidak suka perhatian

Alih-alih menggunakan makeup yang terlalu feminin dengan dress berlebihan, pengantin ini  lebih menyukai gaya yang simpel, tapi tetap menarik.

a. Busana

Pengantin minimalis biasanya paling tidak nyaman dengan busana yang terlalu ramai. Solusinya adalah memilih desain sederhana yang terlihat mahal secara visual. Gaun polos dengan potongan presisi, kebaya tanpa payet berlebihan, atau dress satin dengan satu aksen kecil di pinggang atau bahu sudah cukup. Warna ivory, broken white, champagne, atau soft beige terasa lebih tenang dibanding warna putih terang. Ketika busana tidak terasa berisik secara visual, pengantin bisa bernapas lebih lega dan tampil lebih percaya diri.

b. Makeup

Makeup minimalis menekankan pada look kulit yang sehat, bukan warna. Fokus pada base yang flawless tapi ringan, alis disisir natural, blush tipis sewarna kulit, dan lipstik ala my lips but better. Mata bisa dibuat sangat soft dengan satu warna netral tanpa eyeliner tebal. Makeup seperti ini biasanya membuat pengantin merasa aku tetap aku, hanya versi paling sehat dan segar. Cara ini bisa diterapkan untuk menghindari rasa asing terhadap diri sendiri di hari pernikahan.

c. Rambut/hijab

Untuk rambut, gaya straight down rapi, low bun tanpa dengan volume secukupnya, atau sanggul kecil adalah pilihan aman. Untuk hijab, pilih bahan yang jatuh seperti silk atau voal premium dengan styling sederhana dan satu peniti utama. Tidak perlu crown besar atau headpiece mencolok, bahkan tanpa aksesori pun pengantin tetap menunjukkan bridal look karena keseluruhan tampilannya konsisten dan tenang.

3. Pengantin yang tegas dan dewasa

Foto via Eva Lendel

Pengantin yang memiliki kepribadian ini menyukai sesuatu yang praktikal dan gaya yang menonjolkan kepribadian sebenarnya tanpa menjadi orang lain.

a. Busana

Pengantin dengan karakter tegas biasanya cocok dengan busana yang memberi kesan authority dan maturity. Pilih siluet panjang, garis lurus, dan detail yang simetris. Kebaya modern dengan kerah tinggi, dress lengan panjang polos, atau gaun dengan cutting architectural sangat cocok. Hindari detail yang terlalu playful atau romantis. Busana seperti ini membuat pengantin terlihat berwibawa dan kuat.

b. Makeup

Makeup sebaiknya mengarah ke elegant bold. Bibir boleh sedikit lebih tegas dengan warna rose brown, brick nude, atau muted red, tapi tetap matte dan rapi. Bagian mata bisa dibuat tajam tapi bersih, misalnya dengan eyeliner tipis dan bulu mata natural. Tidak perlu shimmer berlebihan atau blush terlalu terang. Makeup ini menonjolkan karisma, bukan kelembutan palsu.

c. Rambut/hijab

Rambut sleek bun, chignon rendah, atau hijab dengan bentuk tegas dan clean sangat mendukung karakter ini. Aksesori cukup ditambahkan dalam bentuk satu titik kecil atau bahkan tidak sama sekali. Kesan “boss energy” yang tenang justru membuat pengantin terlihat sangat menonjol secara elegan.

Walaupun tidak ingin terlihat terlalu feminin, kamu tetap bisa tampil classy dan elegan dengan menemukan gaya busana dan makeup yang pas denganmu. Kunci lainnya agar kamu bisa tampil maksimal adalah dengan tampil lebih percaya diri. Untuk mencari busana dan makeup yang paling cocok dengan gayamu, kamu bisa menyimak rekomendasi vendor yang bisa kamu lihat daftarnya di sini.


Cover | Foto via Eva Lendel


Artikel Terkait



Artikel Terbaru