Jika kita berbicara jujur tentang realitas pernikahan di Indonesia, sorotan lampu kamera memang cenderung lebih banyak mengarah pada pengantin wanita dengan segala keanggunan kebaya dan riasannya. Namun, ada satu momen sakral di mana seluruh dunia seolah berhenti berputar dan semua mata tertuju hanya pada satu orang, yaitu sang pengantin pria. Momen itu adalah detik-detik pengucapan janji suci atau ijab kabul di hadapan penghulu, wali nikah, dan para saksi yang memegang beban hukum serta agama yang sangat berat.
Artikel ini akan mengupas tuntas panduan komprehensif bagi calon pengantin pria di nusantara agar tidak hanya siap secara fisik, tetapi juga matang secara mental dan spiritual dalam menghadapi rangkaian adat yang panjang. Kita akan membahas bagaimana menavigasi ekspektasi keluarga besar yang seringkali rumit, mempersiapkan stamina untuk prosesi adat yang melelahkan, hingga merawat diri agar pantas bersanding dengan sang ratu sehari.
Beban di Pundak: Menyiapkan Mental untuk Akad atau Pemberkatan
Bagi pria Indonesia, ketakutan terbesar bukanlah salah kostum atau katering yang habis di tengah acara, melainkan lidah yang terpelintir saat mengucapkan kalimat pengesahan pernikahan di depan orang banyak dan para saksi. Kegugupan ini sangat manusiawi karena dalam satu tarikan napas tersebut terkandung janji sehidup semati yang disaksikan oleh Tuhan dan manusia, serta menjadi penanda sah atau tidaknya sebuah hubungan yang halal.
Banyak calon pengantin pria yang saking gugupnya sampai harus mengulang berkali-kali, yang meskipun sering dimaklumi oleh saksi, tentu mengurangi kekhusyukan dan kemagisan momen sakral tersebut menjadi sedikit canggung. Lakukanlah persiapan mental berikut agar kamu lebih tenang:
1. Latihan Vokal dan Hafalan
Persiapan mental untuk momen ini harus dimulai jauh-jauh hari dengan cara melatih pelafalan kalimat akad, baik dalam bahasa Indonesia, Arab, maupun bahasa daerah sesuai kesepakatan keluarga besar. Jangan hanya menghafal di dalam hati, tetapi latihlah vokalmu dengan suara lantang di depan cermin atau di depan sahabatmu untuk membiasakan diri mendengar suaramu sendiri dalam situasi formal yang penuh tekanan. Mintalah temanmu untuk mengoreksi jika ada pelafalan yang kurang jelas atau terlalu cepat agar kamu bisa memperbaikinya sebelum hari H tiba.
2. Pemaknaan Kalimat Akad
Pahami makna mendalam dari setiap kata yang diucapkan agar kalimat tersebut keluar dari hati yang tulus dan penuh kesadaran, bukan sekadar hafalan teks yang kosong tanpa jiwa. Ketika kamu mengerti bahwa kalimat itu adalah janji pengambilalihan tanggung jawab di hadapan Tuhan, intonasi suaramu akan otomatis menjadi lebih berbobot dan bergetar karena emosi. Kesadaran ini akan membantumu fokus pada esensi ibadah pernikahan, sehingga rasa gugup karena ditonton orang banyak akan perlahan tergantikan oleh rasa khidmat.
3. Persiapan Spiritual
Di luar aspek teknis pengucapan, persiapan spiritual juga memegang peranan kunci bagi ketenangan batin seorang pria menjelang hari besarnya agar tidak mudah panik saat menghadapi masalah mendadak. Bagi yang muslim, memperbanyak ibadah sunah, berzikir, dan berpuasa sunah sebelum hari H seringkali dianjurkan oleh para tetua untuk membersihkan hati dan menenangkan jiwa yang gelisah menghadapi perubahan status. Ketenangan spiritual ini akan terpancar dari sorot mata yang teduh dan wibawa yang kuat saat kamu duduk berhadapan dengan wali nikah di meja akad.
Tantangan Busana Adat: Tampil Gagah Tanpa Tersiksa
Berbeda dengan jas internasional yang potongannya standar dan fleksibel, mengenakan busana adat Indonesia seperti beskap Jawa, baju godang Batak, atau jas tutup Bugis memiliki tantangan tersendiri bagi pria yang tidak terbiasa memakainya sehari-hari. Busana adat seringkali menggunakan bahan yang tebal, berlapis-lapis, ketat, dan dilengkapi dengan aksesori kepala serta senjata tradisional seperti keris yang harus dipakai dengan pakem tertentu yang tidak boleh diubah sembarangan demi kenyamanan.
Cuaca tropis Indonesia yang panas dan lembap sering jadi ujian tersendiri. Jika bahan atau ukuran busana pernikahannya kurang tepat, pengantin pria bisa cepat berkeringat dan tampak tidak nyaman di momen penting.
Perhatikan tiga aspek krusial berikut saat mempersiapkan busana adat:
1. Uji Coba Gerakan Saat Fitting
Saat melakukan pengukuran atau fitting baju adat, jangan hanya berdiri diam seperti manekin di toko, tetapi cobalah untuk bergerak, duduk bersila, atau melakukan gerakan sujud jika diperlukan dalam prosesi akad nanti. Pastikan celana atau kain bawahan tidak terlalu ketat di bagian pinggang dan paha agar kamu bisa duduk berjam-jam dengan nyaman tanpa merasa sesak napas, kesemutan, atau aliran darah terhambat. Kenyamanan saat duduk sangat penting karena sebagian besar prosesi akad nikah adat dilakukan dalam posisi duduk di lantai atau kursi rendah dalam waktu lama.
2. Pemilihan Bahan yang Cerdas
Jika kamu memilih untuk menjahit baju adat sendiri alih-alih menyewa, pilihlah bahan yang menyerap keringat seperti katun berkualitas tinggi atau sutra tenun yang ringan sebagai lapisan dalam agar kulitmu tetap bisa bernapas lega. Hindari bahan sintetis yang panas jika acaramu diadakan di luar ruangan atau di gedung yang pendingin ruangannya kurang maksimal. Kamu juga bisa meminta penjahit untuk memberikan sedikit kelonggaran di bagian ketiak dan perut untuk mengantisipasi keringat dan kenyamanan saat makan.
3. Pemahaman Filosofi Busana
Pemahaman tentang filosofi busana yang dikenakan juga akan menambah rasa percaya diri dan karisma seorang pengantin pria saat berjalan di lorong pelaminan. Pahami mengapa keris harus diletakkan di punggung, apa makna blangkon atau tanjak yang kamu pakai, atau filosofi di balik kain ulos yang disematkan di bahumu sebagai simbol doa dan harapan leluhur. Pengetahuan ini akan mengubah cara pandangmu dari sekadar memakai kostum karnaval menjadi mengenakan identitas leluhur yang agung, sehingga postur tubuhmu akan otomatis menjadi lebih tegap dan bangga.
Perawatan Khas Nusantara: Lulur dan Jamu Bukan Hanya untuk Wanita
Soal tampil paripurna di hari pernikahan, bukan cuma jadi keharusan untuk pengantin wanita. Sebagai pengantin pria, kamu pun perlu memperhatikan aspek ini. Berikut adalah perawatan tradisional yang patut kamu coba untuk meningkatkan rasa percaya diri kamu ketika bersanding di pelaminan nanti.
1. Lulur dan Scrub Tradisional
Cobalah untuk rutin melakukan lulur tradisional atau body scrub setidaknya sebulan sekali menjelang pernikahan untuk mengangkat sel kulit mati dan mencerahkan kulit tubuh yang kusam karena aktivitas luar ruangan. Pilihlah bahan-bahan alami khas Indonesia seperti bengkoang, kunyit, atau kopi yang memiliki khasiat antiseptik alami untuk mencegah jerawat punggung yang sering muncul akibat stres dan keringat. Kulit yang bersih dan halus akan membuatmu merasa lebih segar dan percaya diri saat mengenakan busana adat yang mungkin sedikit terbuka di beberapa bagian.
2. Perawatan Wajah Dasar
Jangan lupa juga untuk merawat area wajah dengan pembersihan komedo dan penggunaan masker agar wajahmu terlihat segar saat disandingkan dengan pengantin wanita yang biasanya tampil sangat manglingi dengan riasan tebal. Wajah pria cenderung memproduksi minyak lebih banyak, sehingga perawatan rutin akan membantu mengontrol kilap berlebih saat difoto di bawah lampu sorot pelaminan. Kamu bisa melakukan perawatan ini di rumah atau pergi ke salon khusus pria agar lebih rileks dan mendapatkan hasil yang maksimal.
3. Konsumsi Jamu Stamina
Selain perawatan luar, konsumsi jamu atau ramuan herbal tradisional juga sangat disarankan untuk menjaga stamina pria menghadapi rangkaian acara yang bisa berlangsung dari subuh hingga tengah malam tanpa henti. Ramuan seperti beras kencur, jahe merah, atau pasak bumi yang dikonsumsi secara teratur dapat membantu meningkatkan vitalitas dan daya tahan tubuh agar tidak mudah tumbang atau masuk angin di tengah acara. Tubuh yang bugar akan memancarkan energi positif yang membuatmu terlihat lebih gagah dan siap melindungi keluarga barumu nanti dari segala tantangan fisik.
Mengelola Hantaran: Sentuhan Personal Pria
Di Indonesia, tradisi seserahan atau hantaran adalah simbol kemampuan pria untuk menafkahi calon istrinya, yang berisi segala kebutuhan wanita dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sayangnya, banyak pria yang menyerahkan urusan belanja seserahan ini sepenuhnya kepada ibu atau saudara perempuan mereka karena malas ribet. Padahal, terlibat langsung dalam memilih dan membeli barang seserahan adalah bentuk perhatian yang sangat romantis dan dihargai oleh pasanganmu.
Ajaklah calon istrimu untuk berbelanja bersama dan biarkan dia memilih barang yang benar-benar dia sukai dan akan dia pakai, bukan sekadar barang yang terlihat bagus di dalam kotak kaca. Peranmu adalah memastikan budget aman dan memberikan pendapat jujur jika diminta, serta memastikan bahwa barang-barang tersebut memiliki kualitas terbaik sebagai bukti keseriusanmu. Kamu juga bisa menyelipkan satu atau dua barang kejutan yang tidak dia minta, seperti buku favoritnya atau parfum yang kamu sukai, untuk menambah unsur personal dalam hantaran tersebut.
Setelah barang terkumpul, pastikan kamu juga memantau proses pengemasan atau dekorasi kotak hantaran agar sesuai dengan tema warna pernikahan kalian. Jangan sampai hantaranmu terlihat asal-asalan atau norak karena vendor hias yang kurang kompeten, karena hantaran ini akan dipajang dan dinilai oleh keluarga besar pihak wanita. Hantaran yang tertata rapi dan elegan adalah cerminan dari pribadi pria yang rapi, teliti, dan sangat menghargai wanita yang akan dinikahinya.
Pasukan Pengiring: Mengorganisir Sahabat dengan Kearifan Lokal
Tren memiliki pengiring pengantin pria atau groomsmen kini semakin populer di Indonesia, mengadaptasi budaya barat namun dengan sentuhan lokal yang kental. Jika dulu sahabat pengantin pria hanya datang sebagai tamu biasa, kini mereka sering dilibatkan sebagai pagar bagus yang memakai seragam beskap atau kemeja batik yang senada. Peran mereka bukan hanya untuk gaya-gayaan di foto, tetapi sebagai tim pendukung (support system) yang siap membantu kelancaran acaramu.
Hindari mengadakan pesta bujang yang berlebihan atau melanggar norma ketimuran yang bisa memicu konflik dengan pasangan atau keluarga besar. Gantilah dengan acara syukuran kecil-kecilan, doa bersama, atau sekadar makan malam santai di warung kopi favorit untuk mengenang masa lajang kalian dengan penuh tawa. Solidaritas sahabat yang positif akan menjadi energi tambahan yang sangat berharga untuk menguatkan mentalmu menjelang hari H.
Menjaga Wibawa di Hari H: Postur dan Senyuman
Pada akhirnya, segala persiapan fisik dan mental di atas akan bermuara pada satu hari di mana kamu menjadi raja sehari yang duduk di singgasana pelaminan. Salah satu hal yang sering dilupakan pengantin pria karena kelelahan adalah menjaga postur tubuh yang tegap selama berjam-jam menerima tamu. Duduklah dengan punggung tegak namun rileks, jangan membungkuk atau bersandar malas-malasan karena itu akan membuatmu terlihat tidak bersemangat di foto dan video.
Latihlah senyuman ramah yang tulus untuk menyambut ribuan tamu yang mungkin sebagian besar tidak kamu kenal karena mereka adalah relasi orang tua. Ingatlah bahwa mereka datang untuk mendoakan kebaikan bagi rumah tanggamu, jadi balaslah dengan apresiasi yang hangat melalui jabat tangan yang mantap dan kontak mata. Jika lelah mulai melanda, curilah waktu sejenak untuk minum air putih atau memakan permen mint agar wajahmu kembali segar.
Jangan lupa untuk sesekali menengok dan menggenggam tangannya, atau bertanya apakah dia lelah atau butuh sesuatu. Gestur kecil penuh perhatian ini seringkali tertangkap kamera dan menjadi momen paling manis yang menunjukkan bahwa kamu adalah suami penyayang. Jadilah pemimpin yang melayani, memastikan ratumu nyaman, dan menyebarkan kebahagiaan kepada seluruh tamu yang hadir di perayaan cintamu.
Menjadi pengantin pria di Indonesia memang memiliki tantangan unik tersendiri, namun dengan persiapan yang matang dan mitra yang tepat, kamu bisa melewatinya dengan gemilang. WeddingMarket memahami bahwa persiapan pengantin pria tak kalah penting dari setiap detail pernikahan itu sendiri. Mulai dari beskap adat yang dijahit dengan presisi, perawatan khusus pria untuk menjaga penampilan tetap prima, hingga vendor hantaran yang estetik dan tepercaya—semuanya berperan dalam membentuk sosok pengantin pria yang siap memimpin hajatan dengan percaya diri.
Untuk memudahkan proses persiapanmu, WeddingMarket menghadirkan pilihan vendor yang telah dikurasi secara menyeluruh. Karena di hari paling bersejarah dalam hidupmu, tampil pantas dan berkelas bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Jelajahi selengkapnya di sini!
Cover | Fotografi: Morden via Instagram/Arbani Yasiz