Mahar Pernikahan Unik Dari Berbagai Adat di Indonesia - Wedding Market

Mahar Pernikahan Unik Dari Berbagai Adat di Indonesia

10 Aug 2022 | By WeddingMarket | Viewers: 236
Mahar Pernikahan Unik Dari Berbagai Adat di Indonesia
Fotografi: Unoia Pictures

Keanekaragaman kebudayaan adat di Indonesia salah satunya dapat terlihat dalam tradisi pernikahan yang berbeda-beda di setiap daerah. Tak hanya tampak dari tata cara prosesi pernikahan yang dilaksanakan, tetapi juga dari jenis mahar yang diberikan oleh mempelai pria. Seperti yang telah diketahui, mahar pernikahan atau dikenal juga sebagai mas kawin adalah salah satu komponen yang lazim ada dalam perkawinan. 

Mahar pernikahan merupakan benda bernilai atau harta yang diberikan oleh calon mempelai pria untuk meminang calon mempelai wanita. Bila ditelisik, ternyata ada beraneka ragam benda yang bisa dijadikan sebagai mahar pernikahan, yang mana setiap adat memiliki ketentuannya masing-masing. 

Dalam beberapa tradisi suku adat, jenis-jenis mahar tertentu bahkan memiliki makna sebagai pembawa keberkahan bagi kedua mempelai. Ada pula yang menjadikan mahar sebagai syarat sah suatu perkawinan. Nah, penasaran seperti apa mahar pernikahan unik dari berbagai adat di Indonesia? Mari simak ulasannya berikut ini!

Mahar Mayam dalam Adat Aceh


Aceh merupakan salah satu Daerah Istimewa di Indonesia yang sangat lekat dengan pengaruh kebudayaan Islam. Tak heran, dalam penetapan mahar pernikahan pun masyarakat Aceh menggunakan emas sebagai patokan. Dalam tradisi masyarakat setempat disebut dengan mayam. Jadi, alih-alih menggunakan ukuran gram seperti pada umumnya, untuk patokan standar emas di Aceh menggunakan ukuran mayam. Dimana satu mayam emas setara dengan 3,33 gram. 

Untuk mahar pernikahan, jumlah mayam yang diberikan oleh calon mempelai pria biasanya ditentukan berdasarkan strata sosial wanita yang dilamarnya, kisaran 5 hingga 50 mayam emas. Semakin tinggi status sang calon mempelai wanita, maka semakin besar jumlah mayam emas yang diberikan sebagai mahar. Sebagai contoh, wanita lulusan SMA mendapatkan 5-10 mayam emas, sedangkan yang sudah Sarjana atau memiliki pekerjaan mapan berhak memperoleh 30-50 mayam. 

Mahar Bowo dalam Adat Nias


Lain lagi dengan Suku Nias, Sumatera Utara. Masyarakat Nias menyebut mahar pernikahan dengan sebutan mahar bowo. Bagi masyarakat suku Nias, tanpa mahar bowo suatu perkawinan dianggap tidak sah, oleh karena itu wajib dipenuhi oleh calon mempelai pria apabila ingin pernikahan tetap dilangsungkan. Uniknya, benda yang dapat dijadikan mahar pernikahan adat Nias tak hanya dalam bentuk uang, tapi bisa juga berupa babi ataupun beras.

Dalam penentuan nilai mahar yang diberikan, kedua belah pihak harus melakukan musyawarah terlebih dahulu. Adapun yang menjadi tolok ukur besar kecilnya jumlah mahar bowo, antara lain adalah pendidikan dan tingkat kekayaan dari calon mempelai wanitanya. Umumnya sekitar 25 ekor babi harus disiapkan oleh pria Nias ketika hendak meminang seorang wanita untuk dijadikan istri.

Japuik Adat Padang Pariaman


Di Sumatera Barat, khususnya daerah Kabupaten Padang Pariaman, masyarakat mengenal mahar pernikahan dengan istilah uang japuik atau 'uang jemputan'. Uniknya, mahar pernikahan ini tidak diberikan oleh mempelai pria, melainkan mempelai wanitalah yang harus membayar sejumlah uang japuik kepada pihak mempelai pria. Dalam tradisi pernikahan masyarakat Padang Pariaman, japuik ini menjadi simbol 'membeli' seorang pria. Meskipun demikian, filosofi sebenarnya japuik ini diberikan untuk memuliakan sang calon suami. 

Bentuk mahar atau japuik yang diberikan bisa berupa uang ataupun benda berharga lainnya. Adapun besarannya ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah keluarga, serta melihat status sosial sang mempelai pria. Jika pihak wanita sudah memberikan sejumlah uang japuik yang mana diberikan sebelum akad nikah, maka selanjutnya pada prosesi manjalang mintuo (kunjungan mertua) giliran pihak mempelai pria akan mengembalikan uang jemputan tersebut kepada sang istri. Nilainya biasanya lebih tinggi daripada jumlah uang japuik yang telah diberikan pihak wanita. Tentunya hal ini akan menjadi kebanggaan bagi sang suami apabila mampu melebihkan jumlah nilai uangnya.

Uang Panai ala Suku Bugis-Makassar


Nah, kalau tradisi mahar dalam pernikahan adat Bugis-Makassar Sulawesi Selatan mungkin sudah cukup banyak dikenal, ya?! Yup, siapa yang tak tahu dengan uang panai, mahar unik dalam pernikahan adat Bugis-Makassar yang nilainya bisa sangat fantastis! Meskipun pada dasarnya berbeda dengan mas kawin atau mahar akad nikah, tetapi bagi masyarakat Bugis-Makassar uang panai ini wajib dipenuhi oleh pihak mempelai pria barulah pernikahan dapat dilaksanakan.  

Uang panai ini bisa dikatakan sebagai 'uang belanja' yang mana akan digunakan untuk memenuhi segala keperluan pesta pernikahan tersebut. Dengan kata lain, semua biaya untuk penyelenggaraan pernikahan dari awal hingga akhir harus terpenuhi dengan uang panai yang diberikan. Dalam penetapan jumlah uang panai yang diberikan juga harus melalui perembukkan kedua belah keluarga, dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti darah keturunan, status pendidikan dan pekerjaan dari sang mempelai wanita. 

Oleh sebab itu, besarnya uang panai untuk masing-masing orang bisa sangat bervariasi. Semakin tinggi strata sosial wanita tersebut, semakin besar pula uang panai yang diminta. Karenanya, melamar wanita Bugis-Makassar terkadang identik dengan stigma 'mahal'. Bahkan, apabila sang wanita masih merupakan keturunan raja, uang panai yang harus disiapkan bisa mencapai milyaran rupiah, loh! Tak mengherankan 'kan mengapa pernikahan adat Bugis biasanya digelar dengan mewah dan megah?!

Tradisi Jujuran dalam Adat Banjar


Di Kalimantan Selatan, masyarakat suku Banjar memiliki tradisi jujuran dalam sebuah prosesi pernikahan adat Banjar. Mirip seperti tradisi uang panai pada masyarakat suku Bugis-Makassar, mahar yang diberikan dari mempelai pria kepada mempelai wanita ini ditujukan untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk pesta pernikahan.

Disamping itu, uang jujuran dapat pula disimpan sebagai tabungan untuk kehidupan berumah tangga kelak. Besarnya nilai jujuran yang diberikan juga tergantung dari status sosial sang mempelai wanita. Dimana, semakin tinggi nilai jujuran menandakan semakin terhormat wanita tersebut. Selain itu, jujuran juga menjadi bukti keseriusan dari pihak mempelai pria kepada wanita yang dilamarnya. 

Perhitungan Besaran Mahar yang Unik ala Adat Sasak


Beranjak ke wilayah Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, ada suku Sasak yang terkenal dengan kearifan lokalnya. Salah satu keunikannya yakni dalam hal penentuan besaran jumlah mahar pernikahan. Selain melihat dari status sosial, pendidikan, dan pekerjaan yang dilakoni calon mempelai wanita, cara unik masyarakat suku Sasak menghitung besaran nilai mahar yaitu dengan memperkirakan jarak dari tempat tinggal mempelai wanita ke kediaman sang mempelai pria. Misalnya dengan menghitung berapa jumlah masjid atau jembatan yang harus dilewati. 

Semakin jauh jarak antara rumah mempelai wanita dari tempat tinggal mempelai pria, maka nilai mahar yang dibayarkan pun akan semakin besar. Tak jarang karena tradisi ini, masyarakat suku Sasak akhirnya lebih memilih untuk menikah dengan wanita yang sekampung dengannya. Pasalnya, mahar yang harus diberikan bisa sangat melejit apabila hendak menikahi wanita yang tinggal di desa atau kota lain.

Misalnya, jika menikah dengan wanita yang sekampung sang pria cukup membayar 500 ribu rupiah, namun apabila wanita yang ingin dijadikannya istri tinggal di desa yang lain, uang mahar yang dibayarkan bisa saja mencapai 50 juta rupiah atau bahkan lebih. Bisa dibayangkan berapa besaran mahar ketika sang pria memilih wanita dari daerah lain? Apalagi jika sang wanita berpendidikan tinggi dan memiliki pekerjaan yang bagus, bisa-bisa maharnya tembus ratusan juta, loh!

Belis, Mahar ala Adat Nusa Tenggara Timur


Mahar pernikahan unik lainnya yakni dari wilayah Provinsi Kepulauan Nusa Tenggara Timur atau biasa disebut dengan istilah belis. Apabila di daerah lainnya jumlah besaran mahar ditentukan dari hasil kesepakatan bersama kedua belah pihak, berbeda dengan di NTT dimana jumlah belis yang diminta tidak dapat ditawar sama sekali. 

Biasanya juga belis diberikan dalam jumlah yang besar. Sebab, bagi masyarakat NTT, belis pada dasarnya menyimbolkan penghargaan terbaik yang diberikan calon pengantin pria kepada kepada calon pengantin wanita. Oleh sebab itu, masyarakat NTT percaya bahwa sang mempelai wanita baru dianggap resmi bergabung menjadi bagian dalam suku suaminya apabila jumlah belis sudah dituntaskan. 

Bentuk mahar yang diberikan pun beraneka ragam, yang mana pada tiap-tiap suku memiliki ciri khasnya tersendiri. Belis yang dapat diberikan bisa berupa sejumlah uang, hewan ternak, emas, kain adat, gading dan lain sebagainya. Sebagai contoh, masyarakat suku Lamaholot memberikan gading sebagai belis, suku Dawan menggunakan sirih pinang dan masyarakat Sumba memberikan mahar berupa marapa (tombak) sebagai bentuk penyatuan dua buah keluarga. Dalam hal ini, setiap suku memainkan peranan yang penting dalam menetapkan bentuk belis sebagai syarat pernikahan.  

Itu dia ulasan beberapa tradisi mahar pernikahan unik dari berbagai adat di Indonesia. Hal ini tentu menjadi bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki khazanah budaya yang sangat beragam. Khususnya dalam penyelenggaraan pernikahan. Selain mahar pernikahan, keragaman budaya di Indonesia dapat pula dilihat dari ragam dekorasi pelaminan adat, baju pengantin dan riasan tradisional dari berbagai daerah yang punya ciri khas dan keunikannya masing-masing. Demikianlah, semoga dapat bermanfaat!

Belanja Jasa dan Produk untuk Pernikahanmu di WeddingMarket Store!
Diskon hingga 20%*

Artikel Terkait


WeddingMarket

Hello, thank you for Visiting us. Any Question?